Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Lak Ntaun Kampung Pata, Tradisi Syukur Panen dan Pemulihan Persaudaraan

Jumat, 09 Oktober 2026 | Oktober 09, 2026 WIB Last Updated 2026-10-09T01:48:10Z


Manggarai Timur,NTT — Masyarakat Kampung Pata, Desa Compang Congkar, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali melaksanakan ritual adat Lak Ntaun pada 8 Oktober 2026. Tradisi tahunan ini menjadi ungkapan syukur atas hasil pertanian, kesehatan, dan rezeki, sekaligus momentum untuk melestarikan budaya serta memperkuat persaudaraan.


Ritual yang berlangsung di Natas Pata, tanah adat yang disakralkan masyarakat setempat, itu juga menjadi kesempatan bagi warga untuk mengenang perjuangan leluhur dan menjaga nilai-nilai adat agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.


Kepala Suku Tua Teno Pata, Fridus Dusin, mengatakan Lak Ntaun dilaksanakan setiap Oktober karena bulan tersebut memiliki makna khusus bagi masyarakat Kampung Pata.


“Kegiatan ini kita laksanakan setiap tahun di bulan Oktober. Karena bulan Oktober adalah bulan berkah bagi masyarakat Kampung Pata. Awal bulan September kita sudah melakukan penanaman hasil pertanian kembali,” kata Fridus.


Menurut dia, Lak Ntaun bukan sekadar perayaan setelah masyarakat menjalani aktivitas pertanian. Ritual ini juga menjadi bentuk kepedulian warga dalam merawat kebudayaan sekaligus mengingat perjuangan nenek moyang dalam memperoleh hasil pertanian yang baik.


“Ini adalah wujud kepedulian kami untuk merawat nilai-nilai budaya serta untuk kembali mengingat perjuangan nenek moyang dalam memperoleh hasil yang baik,” ujarnya.


Ia menambahkan, melalui ritual tersebut masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas rezeki dan berbagai berkat yang diterima dalam kehidupan sehari-hari.


Ketua Panitia Pelaksana Lak Ntaun, Romi Kandra, menjelaskan bahwa makna ritual tersebut tidak terbatas pada hasil panen. Masyarakat juga mensyukuri kesehatan, rezeki, serta berbagai pengalaman dan tantangan yang mereka lalui.


“Lak Ntaun ini adalah sebuah proses mensyukuri segala bentuk hasil dan jerih payah yang pernah kita peroleh, serta segala tantangan kehidupan seperti kesehatan dan rezeki yang patut kita syukuri kepada leluhur dan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Romi.


Salah satu prosesi dalam ritual tersebut adalah persembahan seekor babi kepada leluhur. Dalam tradisi itu, darah hewan yang disembelih dicampurkan dengan berbagai benih tanaman sebagai bagian dari ritual masyarakat agraris.


“Kita persembahkan kepada leluhur dengan satu ekor babi. Darah babi yang telah disembelih tersebut kita campurkan dengan segala macam benih tanaman,” jelasnya.


Melalui prosesi tersebut, masyarakat menyampaikan doa dan harapan agar tahun mendatang membawa kesehatan jasmani dan rohani, rezeki, serta hasil pertanian yang baik bagi seluruh warga Kampung Pata.


Selain menjadi ritual syukur, Lak Ntaun juga mengandung pesan tentang pentingnya perdamaian dan pemulihan hubungan antarsesama.


Di lingkungan adat Beo Pata Wae Luja, masyarakat diajak untuk membersihkan hati, saling memaafkan, dan menyelesaikan perselisihan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.


Romi menegaskan, nilai persaudaraan dan sikap saling memaafkan merupakan bagian penting dari pesan adat yang diwariskan para leluhur Kampung Pata.


“Kita harus saling memaafkan, eme manga salah oke one waes laud agu leso sale. Itu makna inti dari acara Lak Ntaun. Itu adalah goet yang ada di Kampung Pata,” ujarnya.


Pesan tersebut menegaskan bahwa kehidupan masyarakat yang harmonis tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan pertanian, tetapi juga oleh kemampuan warga menjaga hubungan baik, menyelesaikan perselisihan, dan merawat persaudaraan.


Bagi masyarakat Kampung Pata, Lak Ntaun menjadi ruang untuk mempertemukan nilai-nilai leluhur dengan kehidupan masa kini. Tradisi ini sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan warisan budaya kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.


Melalui ritual tahunan tersebut, masyarakat Kampung Pata merawat rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, dan kepedulian terhadap sesama. Sebab, keberhasilan hidup bersama tidak hanya tercermin dari hasil pertanian, tetapi juga dari terpeliharanya budaya dan kuatnya persaudaraan.

✒️: ***