Kupang, NTT— Gagasan pembangunan Sirkuit Multifungsi Flobamora NTT mulai diarahkan pada pengembangan kawasan terpadu di Kawasan Industri Bolok (KIB), Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Proyek yang direncanakan di atas lahan seluas sekitar 20 hektare itu diproyeksikan mengintegrasikan olahraga otomotif, pariwisata, perdagangan, perhotelan, dan industri kreatif.
Berdasarkan rancangan awal yang disampaikan tim penggagas, kebutuhan investasi pembangunan kawasan tersebut diperkirakan mencapai Rp 496 miliar hingga Rp 727 miliar. Anggaran itu mencakup pembangunan infrastruktur dasar, fasilitas balap, pusat konvensi dan pameran, kawasan kuliner, serta fasilitas pariwisata dan perhotelan.
Proyek ini digagas Leopold Therick, Donny M. Famdale, dan M. Aris Sengaji. Mereka menawarkan konsep kawasan bisnis terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai arena olahraga otomotif, tetapi juga sebagai destinasi wisata dan pusat kegiatan ekonomi baru di NTT.
Gagasan tersebut mengusung tema The Indonesia New Icon, dengan visi menjadikan Sirkuit Multifungsi Flobamora NTT sebagai destinasi yang mempertemukan olahraga, investasi, pariwisata, dan bisnis.
Dalam perkembangan awal, tim penggagas menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kupang telah menindaklanjuti usulan agar rencana pembangunan Sirkuit Multifungsi Flobamora NTT dipertimbangkan dalam perubahan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Usulan tersebut, menurut informasi tim penggagas, telah ditindaklanjuti melalui Asisten III dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kupang.
Sementara itu, Gubernur NTT disebut telah memberikan dukungan secara lisan terhadap gagasan tersebut. Tindak lanjut juga dilakukan melalui PT KIB (Perseroda), yang menyiapkan penjajakan pemanfaatan lahan di Kawasan Industri Bolok.
Lahan yang direncanakan berada di Hamparan II dengan luas sekitar 20 hektare. Pemanfaatannya diproyeksikan menggunakan skema sewa.
Meski demikian, kepastian lokasi, status lahan, kesesuaian tata ruang, dan bentuk kerja sama masih perlu dituntaskan sebelum proyek memasuki tahap pembangunan.
Dukungan awal pemerintah daerah tersebut menjadi bagian dari proses penjajakan. Rencana pembangunan tetap memerlukan kajian teknis, kelayakan investasi, kepastian pendanaan, serta pemenuhan perizinan yang berlaku.
Berdasarkan rancangan awal rencana anggaran biaya (RAB) makro, pembangunan kawasan dibagi menjadi lima kelompok pekerjaan utama.
Pertama, pematangan lahan dan pembangunan infrastruktur dasar dengan estimasi Rp 123 miliar hingga Rp 174 miliar. Pekerjaan meliputi penyiapan lahan, area parkir, jalan internal, gerbang utama, pagar kawasan, serta jaringan listrik, air bersih, dan instalasi pengolahan air limbah.
Kedua, pembangunan zona olahraga otomotif dengan estimasi Rp 113 miliar hingga Rp 167 miliar.
Fasilitas yang direncanakan mencakup lintasan balap sepanjang 1.200 meter untuk balap motor dan gokart, lintasan supermoto dan off-road, gedung paddock dan pit, tribun penonton, serta perangkat elektronik pendukung balapan.
Ketiga, pembangunan zona konvensi, pameran, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan perkiraan anggaran Rp 93 miliar hingga Rp 139 miliar.
Zona ini direncanakan mencakup NTT Expo Centre berkapasitas sekitar 3.000–5.000 orang, area pameran terbuka, serta pusat kuliner yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha lokal.
Keempat, pembangunan zona pariwisata dan perhotelan dengan estimasi Rp 122 miliar hingga Rp 180 miliar. Fasilitas yang direncanakan meliputi hotel dengan kapasitas sekitar 80–120 kamar, vila, rumah tamu, restoran, dan penataan kawasan wisata pantai.
Kelima, studi kelayakan, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), perizinan, penyusunan desain teknis, manajemen konstruksi, supervisi, dan cadangan biaya dengan perkiraan Rp 45 miliar hingga Rp 67 miliar.
Dengan demikian, total kebutuhan investasi fisik dalam perhitungan awal tersebut diperkirakan mencapai Rp 496 miliar hingga Rp 727 miliar.
Angka tersebut masih berupa estimasi makro dari tim penggagas, bukan nilai investasi final yang telah disepakati investor. Besarannya dapat berubah setelah studi kelayakan, pemeriksaan kondisi lahan, penyusunan desain teknis, dan penghitungan biaya konstruksi secara terperinci.
Perhitungan awal juga mengasumsikan lahan tersedia dengan status hukum yang jelas melalui skema pemanfaatan kawasan industri. Biaya pembebasan tanah belum dimasukkan apabila nantinya diperlukan.
Untuk mendukung realisasi proyek, tim penggagas mulai menyusun daftar calon investor dan mitra strategis yang akan diajak berdiskusi.
Salah satu perusahaan yang disebut dalam penjajakan awal adalah PT Basis Integrasi Global. Selain perusahaan tersebut, tim penggagas menyebut masih terdapat sejumlah calon investor lain yang akan dijajaki lebih lanjut.
Tim juga merencanakan audiensi dengan sejumlah perusahaan dan lembaga, antara lain Pertamina Wilayah NTT, PLN Unit Induk Wilayah NTT, PT Angkasa Pura, dan Garuda Indonesia.
Di sektor otomotif, penjajakan direncanakan melibatkan Yamaha, Suzuki, Honda, dan Kawasaki untuk kendaraan roda dua, serta sejumlah produsen kendaraan roda empat, seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Wuling, Hyundai, Chery, dan DFSK.
Selain perusahaan, tim penggagas berencana menjalin komunikasi dengan Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi NTT, KONI NTT, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTT, serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) NTT.
Penjajakan tersebut diarahkan untuk melihat peluang dukungan dalam berbagai bentuk, mulai dari investasi langsung, sponsor kegiatan, kemitraan operasional, penyediaan fasilitas, hingga pengembangan kegiatan olahraga dan pariwisata.
Namun, daftar tersebut masih merupakan rencana audiensi dan penjajakan. Belum dapat disimpulkan bahwa seluruh perusahaan dan lembaga yang disebut telah menyatakan komitmen investasi atau dukungan pendanaan.
Tim penggagas juga berencana melanjutkan komunikasi dengan pemerintah daerah untuk membahas kebutuhan infrastruktur, kepastian pemanfaatan lahan, dan peluang kerja sama dalam pengembangan kawasan.
Konsep kawasan terpadu ini dirancang untuk menghubungkan fasilitas olahraga otomotif dengan berbagai aktivitas ekonomi pendukung.
Selain kejuaraan balap, kawasan tersebut berpotensi digunakan untuk pameran produk, festival, pertemuan bisnis, kegiatan hiburan, serta promosi produk lokal.
Apabila terealisasi dan dikelola secara berkelanjutan, kegiatan tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap jasa transportasi, akomodasi, kuliner, perdagangan, dan produk UMKM.
Keterlibatan pelaku usaha lokal menjadi salah satu faktor penting agar manfaat ekonomi proyek dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Di sisi lain, pembangunan kawasan dengan nilai investasi ratusan miliar rupiah membutuhkan perencanaan matang. Kepastian status dan kesesuaian pemanfaatan lahan, kelayakan finansial, ketersediaan air dan listrik, akses transportasi, pengelolaan lingkungan, serta kesiapan pasar perlu diperhitungkan sejak awal.
Fasilitas olahraga otomotif juga memerlukan standar keselamatan, pengelolaan profesional, dan kalender kegiatan yang memadai agar dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Secara geografis, Kupang memiliki posisi strategis di kawasan selatan Indonesia, berdekatan dengan Timor-Leste dan relatif dekat dengan Australia.
Posisi tersebut menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan untuk memperluas hubungan perdagangan, pariwisata, dan kegiatan bisnis lintas wilayah.
Tim penggagas berharap Sirkuit Multifungsi Flobamora NTT dapat memanfaatkan potensi tersebut sekaligus menghadirkan daya tarik baru bagi investor dan wisatawan.
Meski demikian, realisasi gagasan tersebut akan bergantung pada hasil studi kelayakan, kepastian pembiayaan, dukungan para pemangku kepentingan, dan kemampuan pengelola membangun model bisnis yang berkelanjutan.
Bagi NTT, proyek ini menawarkan gagasan pengembangan kawasan yang memadukan olahraga otomotif, pariwisata, dan kegiatan ekonomi dalam satu ekosistem.
Visi yang diusung adalah menjadikan Flobamora sebagai ikon baru Indonesia yang tumbuh dari Nusa Tenggara Timur dan memiliki daya tarik di tingkat nasional maupun internasional.
✒️: kl
