Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Ada Apa di Nemberala? Simson Polin dan Wakil Bupati Turun Tangan

Sabtu, 30 Agustus 2025 | Agustus 30, 2025 WIB Last Updated 2025-08-30T12:54:15Z
Simson Polin DPRD NTT bersama Wakil Bupati Rote Ndao Apremoi Dethan turun tangan menemui warga Nemberala. Pertemuan membahas desakan nelayan agar lampu suar (SBNP) segera dipasang di Pelabuhan Nemberala karena sering terjadi kecelakaan laut pada malam hari.


Rote Ndao,NTT, 30 Agustus 2025 – Desa Nemberala menjadi pusat perhatian ketika Anggota DPRD Provinsi NTT, Simson Polin, bersama Wakil Bupati Rote Ndao, Apremoi Dethan, mendatangi warga secara langsung. Pertanyaan pun menyeruak: ada apa di Nemberala hingga pejabat provinsi dan kabupaten turun tangan?


Jawabannya jelas: keluhan serius nelayan. Sudah berulang kali terjadi kecelakaan laut di malam hari karena Pelabuhan Nemberala tidak memiliki lampu suar (Sarana Bantu Navigasi Pelayaran/SBNP). Banyak nelayan yang harus mempertaruhkan nyawa setiap kali pulang dari laut, sebab tanpa penerangan, kapal mereka rawan kandas bahkan terbalik.


Pertemuan yang berlangsung di Desa Nemberala dihadiri PJ Kepala Desa Nemberala serta masyarakat nelayan. Suara mereka sama: butuh segera SBNP untuk keselamatan di laut.


Menanggapi hal ini, Simson Polin menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan aspirasi nelayan. Ia menilai kehadiran SBNP di Pelabuhan Nemberala adalah kebutuhan mendesak, bukan sekadar keinginan.


“Ini bukan masalah kecil. Ini menyangkut keselamatan nyawa nelayan. Saya hadir mendengar langsung dan akan kawal aspirasi ini sampai ke pemerintah provinsi bahkan pusat. Nelayan tidak boleh lagi melaut dalam bayang-bayang maut hanya karena pelabuhan gelap,” tegas Simson.


Senada, Wakil Bupati Rote Ndao, Apremoi Dethan, menyampaikan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap perjuangan masyarakat. Namun ia mengingatkan bahwa langkah administratif tidak boleh diabaikan agar persoalan ini bisa cepat direspons.


 “Kami pemerintah daerah siap mendukung. Tapi semua harus dimulai dengan administrasi yang benar. Mulai hari Senin, pemerintah desa harus bersurat resmi ke kabupaten, lalu kami teruskan ke provinsi hingga pusat. Jangan sampai keterlambatan administrasi membuat nyawa nelayan terus jadi taruhan,” tegasnya.


Apremoi juga menyoroti akses jalan menuju pelabuhan yang rawan klaim kepemilikan. Menurutnya, jika persoalan lahan tidak segera dituntaskan, aktivitas masyarakat bisa terganggu di masa depan.


 “Pelabuhan ini adalah urat nadi masyarakat. Jangan sampai masalah lahan menghambat aktivitas nelayan. Pemerintah desa bersama masyarakat harus berkoordinasi sehingga saat audiensi dengan pemerintah, semua persoalan sudah jelas,” tambahnya.


Selain masalah keselamatan, Wakil Bupati mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan keberlanjutan aset vital Nemberala. Ia menyebut kawasan ini memiliki nilai jual tinggi, bukan hanya sebagai pelabuhan nelayan, tetapi juga sebagai jalur penghubung antara Pulau Rote dan Pulau Ndao serta potensi pariwisata.


 “Nemberala ini aset besar. Kalau lampu suar ada, jalan diaspal, dan kebersihan dijaga, pelabuhan ini bisa jadi kebanggaan masyarakat sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi pesisir,” pungkas Apremoi.


Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama antara DPRD, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk mengawal realisasi SBNP serta memperjuangkan akses jalan pelabuhan. Nelayan berharap agar pemerintah provinsi dan pusat tidak tinggal diam, mengingat terlalu banyak korban dan kerugian akibat ketiadaan lampu suar di pelabuhan tersebut.

✒️: kl