![]() |
| Atlet Taekwondo Sikka dari Derina Winners Club menunjukkan prestasi usai meraih juara dalam ajang sebelumnya, menjadi bekal menuju Liliba Open Tournament 2026 di Kupang. |
Maumere, NTT, 23 Maret 2026– Atlet Taekwondo Sikka memilih tetap bertanding di tengah polemik yang belum juga reda. Di saat konflik mutasi atlet memanas, mereka justru bersiap turun gelanggang di Liliba Open Tournament 2026 di Kupang.
Sebanyak 22 Atlet Taekwondo Sikka dari Derina Winners Club dipastikan berangkat ke Kupang. Mereka akan tampil dalam PPA Liliba Open Tournament 2 yang digelar 26–28 Maret 2026 di GOR Oepoi, dengan penimbangan pada 24 Maret.
Komposisinya lengkap: 18 atlet Kyourugi dan 4 atlet Poomsae. Semua datang dengan satu tujuan—bertanding, bukan berpolemik.
“Anak-anak siap. Fokus kami jelas, tampil dan berprestasi,” tegas pelatih Derina Da Cunha.
Di balik keberangkatan ini, ada cerita yang tidak ringan. Atlet Taekwondo Sikka ini berangkat tanpa sokongan penuh dari pemerintah.
Biaya dikumpulkan dari orang tua, proposal bantuan, hingga komitmen pelatih yang siap menutup kekurangan.
“Yang penting mereka bisa bertanding. Urusan lain, kami hadapi,” ujar Derina.
(Singkatnya: jalan boleh sempit, tapi tekad tetap lebar.)
Dari 22 atlet, 7 Atlet Taekwondo Sikka menjadi pusat polemik. Mereka dipersoalkan oleh Pengcab TI Sikka terkait perpindahan dari dojang asal.
Namun, pihak Derina Winners Club menegaskan bahwa mutasi telah dilakukan secara sah—lengkap dengan dokumen resmi dan persetujuan orang tua.
Yang jadi persoalan, para atlet disebut tetap diminta kembali. Saat menolak, muncul sanksi yang membatasi aktivitas mereka.
“Kalau tidak mau kembali, lalu harus dihukum? Ini tidak adil,” tegas Derina.
Upaya mediasi melalui KONI Sikka belum membuahkan hasil. Situasi ini bahkan mulai menyentuh isu yang lebih serius: hak anak dalam olahraga.
“Ini bukan soal organisasi saja. Ini soal masa depan anak-anak,” kata Derina.
Ia menyatakan siap membawa persoalan ini ke tingkat lebih tinggi jika tidak ada penyelesaian yang adil.
Di sisi lain, Ketua Pengcab TI Sikka, Ferdinandus Da Cunha, memastikan Atlet Taekwondo Sikka tetap bisa mengikuti turnamen.
Rekomendasi telah diberikan, termasuk untuk 7 atlet yang dipersoalkan.
Namun, ia menegaskan bahwa perpindahan atlet harus tetap mengikuti etika organisasi.
“Mereka tetap bagian dari tanggung jawab kami sebagai pelatih,” ujarnya.
Isu lain yang ikut mencuat adalah distribusi dana pembinaan. Pengcab mengakui belum merata, termasuk ke Derina Winners Club.
Permohonan maaf telah disampaikan, dan ke depan pembagian dijanjikan lebih adil.
Di tengah tarik-menarik ini, Atlet Taekwondo Sikka memilih satu hal: tetap melangkah.
Mereka tidak membawa konflik ke arena. Mereka membawa latihan, kerja keras, dan harapan.
Di tengah konflik, pilihan mereka sederhana: tetap bertanding. Karena bagi atlet, arena adalah tempat membuktikan, bukan berdebat.
Dipaksa tunduk atau tetap melangkah—pilihan ada di mereka.
Tekanan datang, tapi semangat tak runtuh.
Jawaban akhirnya bukan di ruang rapat, tapi di arena.
