Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Bustaman Nahkodai PHBI Kupang, Harmoni Keberagaman Ditekankan

Sabtu, 14 Maret 2026 | Maret 14, 2026 WIB Last Updated 2026-03-17T02:11:37Z

 

Wali Kota Kupang Christian Widodo melantik dan mengambil sumpah pengurus Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Kupang periode 2025–2030 di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Sabtu (14/3). Dalam kesempatan tersebut, Bustaman, S.STP., M.M. resmi dilantik sebagai Ketua PHBI Kota Kupang. 📸 Dedy Irawan

Kota Kupang, NTT– Suasana Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Sabtu (14/3), terasa hangat dan penuh semangat kebersamaan. Dalam sebuah momen yang tidak sekadar seremonial, Wali Kota Kupang, Christian Widodo, resmi melantik pengurus Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Kupang periode 2025–2030, dengan Bustaman, S.STP, M.M. dipercaya sebagai ketua yang baru.


Dengan pelantikan ini, Bustaman resmi menahkodai PHBI Kota Kupang, membawa harapan baru untuk memperkuat kegiatan keagamaan sekaligus merawat harmoni keberagaman di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut.


Turut hadir dalam kegiatan itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Kupang H. Muhammad MS, anggota DPRD Kota Kupang Amiruddin La Oda, Muhammad Ramli, dan Ahmad Thalib, Ketua Dewan Masjid Indonesia H. Alimuddin, perwakilan Forkopimda Kota Kupang, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Kupang Hengky C. Malelak, serta para kepala perangkat daerah lingkup Pemerintah Kota Kupang.


Dalam sambutannya, Wali Kota Christian Widodo menegaskan bahwa pelantikan pengurus PHBI bukan sekadar acara pergantian kepengurusan yang selesai setelah tepuk tangan terakhir. Menurutnya, di balik seremoni tersebut tersimpan tanggung jawab moral yang besar bagi PHBI untuk terus hadir di tengah masyarakat.


“Bagi saya hari ini bukan sekadar pelantikan seremonial, tetapi ada tanggung jawab moral bahwa PHBI akan hadir di tengah masyarakat untuk merajut keberagaman dan menjaga nilai-nilai keagamaan di Kota Kupang,” ujar Wali Kota.


Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap peran PHBI selama ini yang dinilai turut membantu pemerintah menjaga kerukunan antarumat beragama di Kota Kupang. Kota ini, kata dia, telah lama dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi.


“Keberagaman di Kota Kupang bukan penghalang, tetapi kekuatan. Keberagaman bukan menjadi jarak, tetapi menjadi jembatan yang semakin menguatkan kita sebagai masyarakat,” tegasnya.


Tak hanya sebagai penyelenggara kegiatan keagamaan seperti peringatan hari besar Islam, PHBI juga diharapkan menjadi penjaga nilai-nilai harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.


Dalam penjelasannya, Wali Kota bahkan mengibaratkan harmoni seperti nada dalam sebuah lagu. Nada-nada itu berbeda—ada tinggi, ada rendah—tetapi jika berpadu dengan tepat, akan menghasilkan musik yang indah.


“Harmoni itu bukan sama, tetapi seimbang. Seperti nada-nada dalam sebuah lagu yang berbeda-beda, namun ketika berpadu menghasilkan harmoni yang indah. Begitu juga seperti lukisan dengan berbagai warna yang berbeda, tetapi ketika menyatu dalam satu kanvas menjadi karya yang indah,” jelasnya.


Ia lalu menggambarkan Kota Kupang sebagai sebuah kanvas besar, sementara masyarakatnya adalah warna-warna yang beragam. Jika semua warna itu dipadukan dengan proporsi yang tepat, maka terciptalah sebuah lukisan indah bernama Kupang yang damai, harmonis, dan penuh persaudaraan.


Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemerintah Kota Kupang juga berkomitmen membantu kegiatan keagamaan yang diselenggarakan PHBI. Salah satunya adalah dukungan untuk pelaksanaan malam takbiran.


“Saya sudah meminta bagian Kesra agar dapat mengupayakan dukungan untuk kegiatan ini. Pemerintah Kota Kupang menyiapkan bantuan untuk pelaksanaan malam takbiran,” ungkapnya.


Di akhir sambutan, Wali Kota menyampaikan selamat kepada Bustaman dan seluruh pengurus PHBI yang baru dilantik, sembari berharap amanah tersebut dapat dijalankan dengan baik demi kemaslahatan umat.


Ia juga mengutip pesan tokoh nasional Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang hingga kini masih relevan.


“Jika kamu bisa melakukan hal baik untuk orang lain, orang tidak pernah bertanya apa agamamu atau sukumu.”


Pesan sederhana namun dalam itu menjadi pengingat bahwa kebaikan, solidaritas, dan rasa hormat adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan bersama di Kota Kupang yang damai dan inklusif.


Dan seperti pepatah lama yang sering kita dengar di kampung-kampung:

Pergi ke pasar membeli kain,

Singgah sebentar membeli selasih.

Beda warna bukanlah lain,

Justru indah bila hidup saling mengasihi.


Begitulah kira-kira gambaran Kota Kupang hari ini—beragam, tetapi tetap satu dalam harmoni.


Dengan kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Bustaman, harapannya PHBI Kota Kupang tidak hanya aktif dalam kegiatan seremonial keagamaan, tetapi juga menjadi jembatan persaudaraan di tengah masyarakat yang beragam.