![]() |
| Perawat dan tenaga kesehatan RS St. Elisabeth Lela berfoto bersama usai perayaan HUT PPNI ke-52 yang berlangsung sederhana namun penuh makna di Kabupaten Sikka, Selasa (17/3/2026). |
Maumere, NTT, 17 Maret 2026 – HUT PPNI ke-52 di RS St. Elisabeth Lela mungkin tak diwarnai panggung megah atau sorotan kamera berlebihan. Tapi justru di situlah letak kekuatannya: sunyi, namun lantang dalam pengabdian. Dengan tema “Perawat Profesional Sebagai Modal Ekonomi Bangsa Untuk Kesejahteraan Masyarakat”, perayaan ini menjadi refleksi mendalam tentang arti sebuah profesi yang sering bekerja tanpa tepuk tangan.
Ibarat kopi pahit tanpa gula—tidak semua orang langsung suka, tapi justru di situlah rasa aslinya. Begitu juga perawat: tidak selalu terlihat, tapi selalu terasa.
Perayaan HUT PPNI ke-52 ini diselenggarakan oleh DPK Sanbela yang melibatkan RS St. Elisabeth Lela, Klinik Pratama St. Elisabeth Nita, dan SMK St. Elisabeth Lela. Dalam kesederhanaannya, kegiatan ini justru menghadirkan makna yang “nendang” sampai ke hati.
Pergi ke kebun memetik pala,
Jangan lupa membawa keranjang.
Perawat setia merawat jiwa,
Walau lelah tetap berjuang.
Melalui ucapan resmi yang dibagikan kepada publik, keluarga besar RS St. Elisabeth Lela menyampaikan apresiasi mendalam kepada para perawat—para “pejuang sunyi” yang setiap hari berdiri di garis depan pelayanan kesehatan.
“Selamat Hari Ulang Tahun PPNI ke-52. Sikap sabar, tetap tersenyum dan tekad yang kuat untuk merawat orang sakit adalah tugas yang sangat mulia,” demikian pesan yang disampaikan.
Lebih dari sekadar seremoni, perayaan ini menyimpan kisah panjang tentang dedikasi, pengorbanan, dan keteguhan hati para perawat, khususnya di Flores dan Kabupaten Sikka. Dengan semangat Serviam in Caritate—melayani dalam kasih—RS St. Elisabeth Lela menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan kesehatan yang humanis dan profesional.
Direktur RS St. Elisabeth Lela, dr. Liskar, dalam sambutannya menyampaikan penghargaan mendalam kepada para perawat.
Menurutnya, perawat bukan hanya “asisten dokter”—kalau hanya itu, mungkin Google juga bisa bantu. Tapi perawat adalah sumber ketenangan, perhatian, bahkan harapan bagi pasien.
“Seorang perawat tidak hanya membantu dokter memberikan obat, tetapi juga memberikan ketenangan, perhatian, dan harapan. Tidak hanya merawat tubuh yang sakit, tetapi juga menguatkan jiwa yang sedang rapuh,” tegas dr. Liskar.
Ia juga berharap ke depan rumah sakit bisa menjadi rumah bersama lintas profesi kesehatan untuk merayakan dedikasi—dari perawat, dokter, bidan, analis hingga tenaga rekam medis. Karena pada akhirnya, rumah sakit bukan hanya soal gedung dan alat, tapi tentang manusia yang menghidupinya.
Ketua DPK Sanbela, Suster Nona, menambahkan bahwa di usia ke-52, PPNI bukan sekadar organisasi, melainkan identitas profesi yang terus diuji zaman. Di tengah keterbatasan fasilitas dan tuntutan pelayanan yang makin kompleks, para perawat tetap hadir—diam, bekerja, dan mengabdi.
Sementara itu, bruder Hengki, perawat senior yang juga pembawa acara, mengajak hadirin untuk kilas balik ke masa pandemi COVID-19. Saat itu, perawat menjadi garda terdepan di ruang isolasi.
“Ini bukan sekadar profesi, ini adalah jiwa yang diutus untuk selamatkan jiwa,” ungkapnya.
Kalimat yang sederhana, tapi kalau dipikir-pikir… berat juga ya. Karena tidak semua orang berani “berteman” dengan risiko setiap hari.
Hadir pula RD. Richard selaku Kabag SDM RS St. Elisabeth Lela yang menitipkan harapan agar para perawat menjiwai semangat para pahlawan kemerdekaan. Bahwa cinta tanah air tidak selalu harus dengan angkat senjata—kadang cukup dengan setia merawat sesama.
Perayaan ini menjadi pengingat yang kuat: saat banyak profesi berlomba mencari pengakuan, perawat justru memilih tetap setia pada panggilan kemanusiaan.
Tanpa banyak suara, tapi dampaknya… luar biasa terasa.
Di RS St. Elisabeth Lela, HUT PPNI ke-52 bukan hanya tentang ulang tahun. Ini adalah tentang dedikasi yang tak pernah pensiun.
Kadang yang paling berjasa bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling setia hadirnya. Perawat, salah satunya.
Di balik setiap pasien yang sembuh, ada tangan-tangan sabar yang bekerja dalam diam—itulah perawat.
Kalau kesehatan adalah harapan, maka perawat adalah penjaganya.
