![]() |
| Warga Wuring bersama Komunitas Cinta Laut Bersih Forest (CLBF) melakukan perbaikan jalan rusak secara swadaya menggunakan alat berat di Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Sabtu (20/3/2026). |
Jalan rusak Wuring di Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, akhirnya diperbaiki secara swadaya oleh warga setelah puluhan tahun menunggu janji pemerintah yang tak kunjung terealisasi.
Maumere,NTT, 20 Maret 2026 — Potret nyata kondisi jalan rusak Wuring memperlihatkan bagaimana masyarakat harus bertahan dalam keterbatasan selama bertahun-tahun. Akses yang menjadi urat nadi ekonomi itu kini diperbaiki bukan oleh pemerintah, melainkan oleh warga sendiri bersama Komunitas Cinta Laut Bersih Forest (CLBF).
Aksi ini bukan sekadar gotong royong biasa. Ini adalah bentuk keputusan kolektif: jika menunggu terlalu lama, maka bergerak sendiri adalah pilihan.
Perwakilan CLBF, Wanto, menyebut bahwa langkah ini lahir dari keluhan nelayan yang setiap hari harus berjibaku dengan kondisi jalan yang rusak parah.
“Kami tergerak karena ada keluhan dari nelayan di Wuring. Jalan di sana memang rusak parah dan sangat sulit dilalui,” ujarnya.
Sebagai salah satu sentra penghasil ikan di Kabupaten Sikka, Wuring sangat bergantung pada akses jalan. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan menjadikan jalan tersebut sebagai jalur vital.
Namun realitasnya, jalan rusak Maumere ini justru menjadi hambatan utama. Distribusi terganggu, mobilitas tersendat, dan biaya operasional warga meningkat.
Singkatnya: jalan rusak, ekonomi ikut terseret.
Swadaya: Dari Celengan Hingga Sewa Alat Berat
Sekretaris koordinator aksi, Hj. Ruslan, mengungkap bahwa perbaikan ini murni dari masyarakat. Tidak ada intervensi pemerintah.
“Kami pasang celengan di jalan, ada yang bantu tenaga, ada yang sumbang material,” jelasnya.
Bahkan, alat berat yang digunakan pun disewa dari hasil patungan warga.
Gotong royong di sini bukan sekadar simbol—ini nyata, terukur, dan penuh pengorbanan.
Bagi warga, kondisi ini bukan hal baru. Jalan tersebut telah rusak selama puluhan tahun tanpa perbaikan serius.
“Harapan dari pemerintah itu hanya janji terus,” tegas Hj. Ruslan.
Meski tetap menghargai wakil rakyat yang ada, masyarakat mengakui belum ada hasil konkret yang dirasakan.
Dan di titik ini, kesabaran warga tampaknya sudah mencapai batasnya.
Tamparan untuk Pemerintah
Apa yang terjadi di Wuring bukan hanya soal jalan rusak. Ini soal kepercayaan.
Ketika masyarakat memilih bergerak sendiri, itu artinya harapan mulai bergeser.
Dari “menunggu” menjadi “bertindak”.
Wuring memberi pelajaran sederhana:
kalau harapan terlalu lama ditunda,
aksi akan lahir dengan sendirinya.
Dan ketika rakyat sudah bergerak sendiri,
itu bukan lagi sekadar gotong royong—
itu sinyal keras bahwa kepercayaan sedang diuji.
