Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Kepala SMAN 4 Kupang Buka Fakta TKA: Kemampuan Matematika Siswa Memprihatinkan

Kamis, 05 Maret 2026 | Maret 05, 2026 WIB Last Updated 2026-03-05T02:42:25Z

 

Kepala SMA Negeri 4 Kupang, Fransiskus X. Balu Lowa, S.Pd., saat memberikan keterangan kepada media di ruang kerjanya terkait hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang menjadi evaluasi pembelajaran di sekolah.

Kupang, NTT – Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) menjadi bahan evaluasi serius bagi SMA Negeri 4 Kupang. Dari hasil evaluasi tersebut, sekolah menemukan sejumlah persoalan penting dalam proses pembelajaran, terutama terkait kesiapan siswa dan kemampuan numerasi.


Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Kupang, Fransiskus X. Balu Lowa, S.Pd., menyampaikan hal tersebut kepada media ini saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (5/3/2025).


Menurut Fransiskus, hasil TKA bukan sekadar angka penilaian, tetapi menjadi cermin nyata kondisi pembelajaran yang perlu segera diperbaiki.


“Sehingga dari hasil ini kita juga kemudian di sekolah membuat kegiatan jam belajar guru melalui pembentukan komunitas belajar,” ujarnya.


Melalui komunitas belajar tersebut, para guru didorong untuk saling berdiskusi, berbagi pengalaman, serta mengevaluasi metode pembelajaran agar lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa.


Selain itu, pihak sekolah juga bekerja sama dengan platform pendidikan Ruang Guru untuk melaksanakan try out bagi siswa kelas XII.


“Kita bekerja sama dengan Ruang Guru melakukan try out untuk persiapan anak-anak kelas 12 mengikuti UTBK, sekolah kedinasan maupun tes TNI dan Polri. Kita melaksanakan tiga kali try out,” jelasnya.


Try out tersebut diharapkan dapat membantu siswa memahami pola soal sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai seleksi pendidikan lanjutan.


Namun dari hasil evaluasi yang dilakukan, pihak sekolah menemukan fakta bahwa masih banyak siswa yang belum memiliki kesadaran penuh dalam mengikuti tes dengan serius.


Fransiskus mengungkapkan bahwa pada pelaksanaan TKA, terdapat siswa yang menyelesaikan ujian dalam waktu sangat singkat. “Bahkan ketika proses ujian itu belum setengah jam anak sudah selesai,” ungkapnya.


Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian siswa belum membaca soal dengan baik dan hanya menjawab secara cepat tanpa mempertimbangkan jawaban secara matang.


Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut harus menjadi refleksi bersama bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan.


“Kalau kita hanya saling melempar kesalahan, masalahnya tidak akan pernah selesai. Ini harus menjadi pembelajaran bagi kita semua,” tegasnya.


Dari hasil TKA tersebut juga terlihat adanya perbedaan kemampuan siswa pada beberapa mata pelajaran.


Kemampuan siswa dalam Bahasa Indonesia relatif lebih baik, namun kemampuan pada mata pelajaran Matematika masih sangat memprihatinkan. “Matematika itu memang hancur,” katanya secara terbuka.


Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah kemudian mengambil beberapa langkah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.


Salah satu langkah yang dilakukan adalah melarang siswa membawa handphone ke sekolah.


Menurut Fransiskus, kebijakan tersebut diambil karena penggunaan handphone yang tidak terkontrol dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa.


Pada awal penerapan kebijakan tersebut, situasi di sekolah sempat mengalami perubahan karena siswa sudah terbiasa menggunakan ponsel.


“Awalnya memang agak hiruk-pikuk karena sebelumnya anak-anak sibuk dengan game online,” ujarnya.


Namun setelah beberapa waktu berjalan, kebijakan tersebut justru membawa dampak positif.


Pihak perpustakaan sekolah mencatat adanya peningkatan jumlah kunjungan siswa setelah larangan penggunaan handphone diterapkan.


“Anak-anak yang menunggu dijemput orang tua sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan,” jelasnya.


Selain itu, Fransiskus juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mendukung proses pendidikan anak.


Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, tetapi juga membutuhkan kerja sama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah.


“Harus ada kerja sama yang baik antara orang tua dengan sekolah sehingga anak benar-benar mengikuti proses pembelajaran dengan baik,” katanya.


Ia menegaskan bahwa nilai yang diperoleh siswa pada akhirnya sangat bergantung pada usaha dan keseriusan siswa sendiri dalam belajar.


“Nilai segala macam ditentukan oleh anak sendiri, bukan oleh guru. Kalau anak belajar dengan baik, tidak mungkin guru membuat nilainya buruk,” jelasnya.


Guru, lanjutnya, hanya berperan membantu mengelola proses pembelajaran di kelas.


Selain persoalan kemampuan akademik, pihak sekolah juga menekankan pentingnya disiplin waktu bagi siswa.


Fransiskus mengungkapkan bahwa masih ditemukan siswa yang datang ke sekolah setelah pukul 07.00, padahal sebelum jam tersebut siswa seharusnya sudah berada di sekolah.


Menurutnya, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, siswa memiliki waktu sekitar 15 menit untuk mempersiapkan diri.


Jika siswa datang terlambat, maka mereka akan terburu-buru dan hal tersebut dapat mengganggu konsentrasi belajar.


“Kalau dia datang di atas jam tujuh, dia akan terburu-buru. Ketika terburu-buru, konsentrasinya akan terganggu dan proses pembelajaran di kelas juga ikut terganggu,” jelasnya.


Karena itu, sekolah berharap hal-hal kecil seperti kedisiplinan waktu dapat menjadi perhatian bersama demi meningkatkan kualitas pendidikan.


Fransiskus juga menegaskan bahwa saat ini kelulusan siswa tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang otomatis.


“Kewenangan kelulusan memang ada di sekolah, tetapi bukan untuk sekadar menyelamatkan anak. Anak yang lulus harus benar-benar pantas untuk lulus,” tegasnya.


Dengan jumlah siswa lebih dari 400 orang, pihak sekolah berupaya memastikan bahwa setiap siswa benar-benar mengikuti proses pembelajaran dengan baik.


Bagi SMAN 4 Kupang, hasil TKA menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi sekaligus memperbaiki sistem pembelajaran agar kualitas pendidikan di sekolah tersebut semakin meningkat di masa depan.

✒️: kl