Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

RAT Kopdit Pintu Air: Uskup Maumere Tegaskan Iman dan Keadilan dalam Ekonomi Rakyat

Kamis, 05 Maret 2026 | Maret 05, 2026 WIB Last Updated 2026-03-05T03:48:59Z

 

Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu bersama para imam dan pengurus serta anggota Kopdit Pintu Air berfoto bersama usai Misa Syukur pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 di Aula Kantor Pusat Kopdit Pintu Air, Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, Kamis (5/3/2026).

Maumere,NTT– RAT Kopdit Pintu Air Tahun Buku 2025 resmi dibuka melalui Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, di Aula Kantor Pusat Kopdit Pintu Air, Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis (5/3/2026).


Dalam homilinya, Mgr. Ewaldus menegaskan bahwa Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopdit Pintu Air bukan sekadar forum laporan angka dan pembagian surplus hasil usaha. Lebih dari itu, RAT harus dimaknai sebagai “altar komitmen iman” yang mengalirkan kejujuran, solidaritas, serta belas kasih bagi seluruh anggota koperasi.


“Sehingga setiap anggota pulang dengan harapan yang diperbaharui dan setiap langkah kita menjadi aliran rahmat bagi banyak orang,” ujarnya.


Pernyataan tersebut menegaskan bahwa koperasi tidak hanya berdiri sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai gerakan sosial yang bertumpu pada nilai moral dan spiritual.


Dari Dusun Rotat untuk Negeri


Mgr. Ewaldus juga mengajak seluruh anggota RAT untuk mengingat kembali perjalanan panjang Kopdit Pintu Air sejak pertama kali berdiri di Dusun Rotat pada tahun 1995.


Pada masa itu, koperasi lahir dari keberanian masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan dan sulit mengakses layanan keuangan formal. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah, masyarakat akar rumput justru menemukan kekuatan dalam semangat kebersamaan.


“Keberanian itu menyala dalam hati orang-orang sederhana yang tak punya banyak harta, tapi punya tekad yang teguh. Mereka merindukan wadah saling menolong yang dapat diandalkan secara berkelanjutan,” tuturnya.


Dari benih kecil yang ditanam dengan iman dan kepercayaan, Kopdit Pintu Air kini berkembang menjadi salah satu gerakan koperasi terbesar yang menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.


Perjalanan ini, menurutnya, menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi rakyat dapat tumbuh dari solidaritas dan kepercayaan yang dipelihara secara konsisten.


“Mata Air Mengalir, Jangan Ada yang Haus


Dalam refleksinya, Uskup Maumere itu juga menyinggung makna filosofis dari nama “Pintu Air” yang lahir dari realitas sosial di sekitar mata air Wair Pu’an.


Ia mengingatkan bahwa nama tersebut lahir dari keprihatinan terhadap ketimpangan sosial yang pernah terjadi di sekitar sumber air tersebut.


“Mata air ini mengalir bagi banyak orang, sementara yang dekat harus menahan dahaga,” katanya.


Ungkapan tersebut menjadi simbol kritik sosial sekaligus panggilan moral agar keadilan benar-benar mengalir kepada mereka yang paling membutuhkan.


Bagi Mgr. Ewaldus, nama Pintu Air bukan sekadar identitas organisasi, tetapi juga doa dan komitmen iman agar kesejahteraan dapat dirasakan oleh semua orang, terutama mereka yang selama ini tersisihkan dari sistem ekonomi formal.


Tata Kelola Jujur dan Berpihak pada yang Rentan


Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong pengelola Kopdit Pintu Air untuk terus menjaga tata kelola koperasi yang jujur, transparan, dan akuntabel.


Menurutnya, koperasi harus tetap berpihak pada kelompok yang paling membutuhkan, seperti pelaku usaha mikro, petani, nelayan, dan pekerja kecil yang berjuang memperbaiki kehidupan ekonomi mereka.


Ia menegaskan bahwa pertumbuhan aset dan meluasnya jaringan koperasi tidak boleh hanya dipandang sebagai pencapaian administratif semata.


“Ini adalah gerakan yang tumbuh karena nafas solidaritas yang menghidupi, karena simpanan dan pinjaman yang dikelola secara akuntabel, serta pengelolaan usaha yang diikhtiarkan dengan tulus,” tegasnya.


Moto sederhana koperasi, “kau susah aku bantu, aku susah kau bantu,” menurutnya telah menjadi kekuatan budaya yang mengubah cara pandang masyarakat dari sikap individual menjadi semangat saling menopang.


Iman sebagai Kompas Gerakan Ekonomi


Di akhir refleksinya, Mgr. Ewaldus mengingatkan bahwa perjalanan koperasi harus selalu dituntun oleh iman yang kokoh.


Ia mengajak seluruh pengelola dan anggota koperasi agar tidak terjebak pada godaan kekuatan dunia yang semu, tetapi tetap menjadikan Tuhan sebagai sumber berkat dan arah perjalanan.


“Pertumbuhan ini perlu dihayati sebagai buah dari kepercayaan kepada Tuhan yang berwajah belas kasih,” pungkasnya.


Dengan semangat solidaritas yang terus dipelihara, RAT Kopdit Pintu Air bukan hanya menjadi ruang evaluasi tahunan, tetapi juga momentum memperkuat ekonomi rakyat yang berakar pada iman dan keadilan sosial.

✒️: Albert Cakramento