Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Kepala SMPN 8 Kupang Ungkap Numerasi Siswa Masih Lemah Jelang TKA

Jumat, 13 Maret 2026 | Maret 13, 2026 WIB Last Updated 2026-03-13T07:38:35Z

 

Kepala SMP Negeri 8 Kota Kupang, Dra. Maria Th. Roslin S. Lana, saat memberikan penjelasan kepada media terkait kondisi kemampuan numerasi siswa serta berbagai strategi yang dilakukan sekolah dalam mempersiapkan siswa menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA), Jumat (13/3).

Kota Kupang, NTT— Kepala SMP Negeri 8 Kota Kupang, Dra. Maria Th. Roslin S. Lana, mengungkapkan bahwa kemampuan numerasi siswa masih menjadi tantangan utama menjelang pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang dijadwalkan berlangsung pada 6 April mendatang.


Roslin menjelaskan bahwa berdasarkan hasil try out dan evaluasi pembelajaran, banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami soal matematika yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).


“Rata-rata kemampuan matematika dasarnya masih lemah sehingga ketika menghadapi soal-soal HOTS mereka kewalahan,” ungkap Roslin kepada media ini.


Meski demikian, ia menyebut bahwa kemampuan literasi siswa menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya.


“Nilai terendahnya 19 dan rata-rata dia lebih tinggi dari matematika yaitu 54. Artinya literasinya lebih baik sedikit daripada generasi-generasi sebelumnya. Dan itu kami memang menyadari bahwa kami masih punya waktu untuk terus mempersiapkan diri anak-anak,” jelasnya.


Dalam rangka menghadapi TKA, SMPN 8 Kupang telah melakukan berbagai persiapan teknis maupun akademik. 


Sekolah telah melaksanakan simulasi dan gladi bersih ujian untuk memastikan kesiapan siswa dan fasilitas sekolah.


“Kami melaksanakan gladi bersih dan anak-anak semua mengikuti. Kami memiliki dua ruang sehingga pelaksanaan gladi bersih bisa berjalan baik,” kata Roslin.


Ia menjelaskan bahwa seluruh perangkat ujian disiapkan oleh sekolah, termasuk fasilitas komputer yang tersedia di ruang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).


“Anak-anak tidak membawa HP tetapi menggunakan fasilitas yang disiapkan sekolah. Kami memiliki ruang TIK dan PC,” tambahnya.


Menurutnya, pelaksanaan TKA merupakan program pemerintah yang harus diikuti oleh sekolah.


“Ini program pemerintah dan kami mendukung. Kami sudah menyampaikan kepada orang tua bahwa TKA ini wajib diikuti,” ujarnya.


Roslin menegaskan bahwa keberhasilan siswa dalam menghadapi TKA tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga pada dukungan orang tua.


Sekolah bahkan telah mengadakan dua kali pertemuan dengan orang tua siswa untuk menjelaskan pentingnya pendampingan belajar di rumah.


“Kami berharap anak-anak tidak terlalu banyak bermain game dan lebih fokus belajar. Kami memberikan buku kepada siswa untuk dibawa ke rumah agar orang tua bisa memantau perkembangan belajar mereka,” jelasnya.


Selain mempersiapkan siswa, pihak sekolah juga melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan kualitas guru.


Roslin menegaskan bahwa penguatan kompetensi guru menjadi prioritas utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.


“Nomor satu bagi saya sebagai kepala sekolah adalah penguatan terhadap kompetensi guru,” tegasnya. 


Sekolah telah melaksanakan bimbingan teknis pembelajaran mendalam selama tiga hari.


Setelah itu, sekolah melanjutkan program pengembangan guru melalui lesson study.


Melalui program lesson study, para guru saling berbagi pengalaman dan melakukan evaluasi pembelajaran secara bersama-sama.


“Lesson study itu di mana semua mata pelajaran masing-masing berbenah dan diberikan model pembelajaran,” jelas Roslin.


Dalam praktiknya, satu guru akan mengajar sementara guru lain mengamati proses pembelajaran.


“Model guru itu dibagi, ada yang mengamati aktivitas guru dan ada yang mengamati aktivitas siswa. Setelah itu kami melakukan refleksi bersama,” katanya.


Melalui proses refleksi tersebut, para guru dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam proses pembelajaran.


Roslin menilai para guru di sekolahnya memiliki kemampuan yang baik dan profesional.


“Bagi saya guru-guru SMP itu hebat karena mereka mampu melakukan lesson study dengan baik, mampu merefleksi dan mengetahui titik kelemahannya di mana dan kelebihannya di mana,” ujarnya.


Ia menegaskan bahwa guru merupakan tenaga profesional yang telah diakui secara legal dan memiliki sertifikasi.


“Guru-guru ini kan guru profesional. Legalitas mereka diakui sebagai seorang guru karena mereka penerima sertifikasi,” jelasnya.


Karena itu, profesionalisme guru harus terus dijaga dan ditingkatkan.


Roslin juga mendorong guru untuk terus belajar dan berkembang melalui berbagai forum pendidikan.


Guru-guru didorong aktif dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) serta komunitas belajar di sekolah.


“Guru-guru harus terus bertumbuh secara bersama-sama dalam kelompok MGMP dan kolaborasi dalam komunitas belajar di sekolah ini,” katanya.


Dalam pelaksanaan TKA, dua mata pelajaran menjadi perhatian utama yaitu Matematika dan Bahasa Indonesia.


“Yang menjadi titik perhatian adalah dua mata pelajaran yaitu matematika dan bahasa Indonesia yang akan diuji setiap tahun,” jelasnya.

Namun ia menegaskan bahwa mata pelajaran lain tetap penting dalam proses pembelajaran.


Roslin juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam proses pembelajaran di sekolah.


Ia ingin mendorong guru untuk meninggalkan metode pembelajaran yang bersifat konvensional.


“Yang ingin saya ubah adalah mindset guru dari pembelajaran yang sifatnya konvensional atau tradisional menjadi pembelajaran yang lebih modern,” katanya.


Pembelajaran yang diterapkan diarahkan pada pendekatan pembelajaran mendalam.


“Pembelajaran yang lebih modern dengan menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam,” tambahnya.


Menurut Roslin, keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan sangat bergantung pada komitmen guru.


“Yang perlu saya perkuat adalah komitmen dan konsistensi guru dalam penguatan kompetensi mereka,” ujarnya.


Ia berharap dengan berbagai langkah yang dilakukan sekolah, kemampuan akademik siswa dapat terus meningkat.


Ia juga optimistis bahwa dengan kerja sama antara sekolah, guru, dan orang tua, kemampuan literasi dan numerasi siswa akan terus meningkat menjelang pelaksanaan TKA.

✒️: kl