Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Mangrove Kota Uneng Dibabat, Warga Mulai Mengungsi

Rabu, 25 Maret 2026 | Maret 25, 2026 WIB Last Updated 2026-03-25T07:16:34Z

 

Kondisi mangrove di Kota Uneng yang dibabat, tampak dari tumpukan kayu hasil penebangan serta kesaksian warga yang terdampak langsung akibat hilangnya benteng alami pesisir.

Maumere, NTT, 25 Maret 2026—Kerusakan mangrove Kota Uneng di RT 13, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, kini kian mengkhawatirkan setelah dugaan penebangan diam-diam membuat kawasan pesisir kehilangan benteng alami hingga warga mulai mengungsi.


Dulu, hutan mangrove di Kota Uneng berdiri rapat seperti pagar hidup yang melindungi warga dari angin dan ombak. Kini, perlahan tapi pasti, pagar itu mulai berlubang.


Di beberapa titik, mangrove sudah tidak lagi lebat. Yang tersisa hanyalah ruang-ruang kosong—jejak dari pohon-pohon besar yang hilang tanpa suara.


Warga setempat, Yance Lia, menjadi saksi perubahan itu. Ia menyebut kondisi mangrove saat ini jauh berbeda dari sebelumnya.

“Dulu sangat padat. Sekarang kalau masuk ke dalam, sudah kosong,” ujarnya.


Yang hilang bukan sekadar tanaman muda. Pohon-pohon besar yang diperkirakan berusia puluhan tahun ikut ditebang.


“Yang besar itu bisa sampai 50 tahun. Akar-akar itu yang lindungi kami dari angin dan abrasi,” jelasnya.


Warga menduga penebangan dilakukan secara diam-diam dan terstruktur. Polanya hampir seragam: pohon ditebang terlebih dahulu, dibiarkan kering, lalu diangkut melalui jalur laut menggunakan perahu.

“Biasanya ditebang dulu, keringkan, baru diambil. Kadang pakai perahu,” kata Yance.


Ketua RT 13, Petrus Blasing, menguatkan dugaan tersebut. Ia menegaskan bahwa masyarakat lokal sudah memahami aturan larangan penebangan mangrove.

“Masyarakat sini sudah tahu tidak boleh ambil. Yang datang itu orang luar,” tegasnya.


Namun, dampak dari kerusakan mangrove Kota Uneng kini tidak lagi bisa disembunyikan. Warga mulai merasakannya secara langsung.


Air laut yang sebelumnya tertahan oleh akar-akar mangrove kini mulai meluap hingga ke permukiman.

“Air sudah pernah sampai jendela rumah,” ungkap warga.


Situasi itu membuat rasa aman perlahan hilang. Malam hari yang dulu tenang kini berubah menjadi penuh kecemasan.


Bahkan, sebagian warga terpaksa mengungsikan keluarganya.

“Sudah hampir dua bulan istri dan anak saya tidak tinggal di rumah. Kami tidak bisa tidur kalau malam,” ujar Yance.


Bagi warga, mangrove bukan sekadar hutan. Ia adalah pelindung, penjaga, sekaligus penyangga kehidupan.


Ketua RT 13, Petrus Blasing, mengaku telah berulang kali mengingatkan masyarakat mengenai larangan penebangan mangrove yang dilindungi oleh negara.

“Saya sudah sampaikan, ini ada aturan hukumnya. Tidak boleh ditebang,” katanya.


Namun ia menyadari, edukasi saja tidak cukup jika tidak dibarengi tindakan nyata.

“Kami butuh dinas turun langsung, sosialisasi ke masyarakat, jelaskan pasal-pasalnya,” tegasnya.


Ia juga mendorong agar pemerintah segera memasang papan larangan dan memperjelas batas kawasan mangrove agar tidak lagi disalahgunakan.


Di sisi lain, kawasan mangrove Kota Uneng juga memiliki nilai adat yang kuat. Setiap tahun, tepat pada 3 Desember, masyarakat menggelar ritual sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

“Itu bagian dari kehidupan kami. Kami tidak ambil apa-apa, kami jaga ini,” ujar Petrus.


Menanggapi kondisi tersebut, Lurah Kota Uneng, Theodorus Mario Messi, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari masyarakat dan mulai melakukan koordinasi dengan instansi terkait.


“Kami sudah terima informasi. Saat ini kami koordinasi dengan kecamatan dan dinas terkait,” ujarnya.


Ia menegaskan bahwa mangrove merupakan kawasan penting yang harus dilindungi karena berfungsi sebagai pelindung alami masyarakat pesisir.


Pemerintah, lanjutnya, akan segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta mempertimbangkan pemasangan tanda larangan di kawasan tersebut.


“Kami akan kumpulkan masyarakat, lakukan sosialisasi, dan pasang penanda supaya jelas ini kawasan lindung,” jelasnya.


Ia juga memastikan bahwa jika ditemukan pelanggaran, akan ditindak sesuai aturan yang berlaku.

“Kalau terbukti ada pelanggaran, pasti akan ditindak,” tegasnya.


Kini, warga hanya berharap satu hal: tindakan cepat sebelum semuanya terlambat.

“Ini bukan milik pribadi. Ini pelindung kami semua,” kata Petrus.


Sebab ketika mangrove hilang, yang datang bukan hanya abrasi—tetapi ancaman nyata bagi kehidupan di pesisir.


Mangrove adalah benteng yang tidak bersuara.

Ia bekerja diam-diam, tapi melindungi tanpa henti.

Saat ia dirusak, dampaknya tidak pernah diam.


Mangrove dibabat.

Warga mulai mengungsi.

Ancaman sudah di depan mata.

Ini bukan sekadar cerita pesisir.

Ini peringatan nyata bagi semua.

✒️: Albert Cakramento