![]() |
| Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo (tengah), bersama unsur Forkopimda dan tokoh lintas agama berpose usai membuka pawai ogoh-ogoh di Simpang El Tari, Kota Kupang, Rabu (18/03/2026), sebagai rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi. |
Kota Kupang, NTT–Pawai ogoh-ogoh di Kota Kupang resmi dibuka oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, di Simpang El Tari, Rabu (18/03/2026). Suasana meriah, warga tumpah ruah di pinggir jalan, tapi pesan yang dibawa justru… bikin orang diam sejenak—merenung.
Karena di balik ogoh-ogoh yang “seram-seram lucu” itu, ternyata ada pelajaran hidup yang tidak main-main.
Pergi ke pasar beli pepaya,
Jangan lupa beli ikan teri,
Hidup ini bukan soal siapa yang sama,
Tapi bagaimana kita seimbang sehari-hari.
Pertama-tama, Wali Kota mengajak masyarakat bersyukur:
“Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat-Nya kita semua bisa hadir dalam keadaan sehat.”
Ia juga memberi apresiasi kepada panitia dan umat Hindu:
“Terima kasih untuk PHDI Kota Kupang, panitia yang telah mengadakan acara luar biasa ini. Saya dengar ini juga bagian dari rangkaian kegiatan seperti donor darah, buka bersama, dan berbagi takjil. Ini luar biasa.”
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar tradisi, tapi refleksi iman:
“Iman tidak hanya hadir dalam doa, tetapi juga dalam perbuatan, persaudaraan, dan solidaritas.”
Lalu ia masuk ke poin yang paling “kena”:
“Harmoni itu bukan seragam, tetapi seimbang. Kita tidak bisa menyamakan semua orang. Setiap orang punya karakter dan keunikannya masing-masing.”
Analogi yang dipakai pun sederhana tapi “nendang”:
Seperti lagu—nada beda-beda, tapi jadi indah saat bersatu.
Seperti lukisan—warna beda-beda, tapi jadi indah kalau seimbang.
“Kalau Kota Kupang ini kanvasnya, kita semua adalah warna-warninya.”
Dan dari situ, lahirlah satu kalimat yang layak jadi pegangan:
“Kota Kupang yang indah adalah kota yang toleran dan inklusif.”
Wali Kota juga menegaskan bahwa capaian Kota Kupang sebagai kota toleran bukan sekadar label:
“Kemarin kita masuk 10 besar indeks kota toleran, dan meraih kota damai dan inklusif. Ini bukti nyata kita menjaga persaudaraan antar umat beragama.”
Masuk ke inti makna, ogoh-ogoh bukan sekadar tontonan:
“Itu lambang sifat buruk manusia: amarah, keserakahan, ego, dengki, kebencian.”
Artinya jelas:
“Kita bukan hanya memusnahkan patung, tapi melawan dan memusnahkan sifat buruk dalam diri kita.”
Dan ini yang paling “menusuk”:
“Juara sejati bukan orang yang tidak pernah salah, tapi yang berani mengakui dan melawan kesalahannya.”
Menjelang Nyepi, ia mengajak semua orang memahami arti keheningan:
“Keheningan itu berarti kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk, merenung, melihat kembali perjalanan hidup.”
Analogi sederhana tapi sangat dekat dengan keseharian:
“Kalau handphone tidak pernah dimatikan atau di-restart, lama-lama bisa rusak. Hidup juga begitu.”
Dan yang paling dalam:
“Kalau kalimat tidak ada spasi, tidak ada jeda, maka tidak bermakna. Tapi kalau ada jeda, di situlah makna muncul.”
Akhirnya, ia menutup dengan pesan sederhana namun kuat:
“Selamat merayakan Hari Raya Nyepi. Selamat merayakan keheningan.”
Melalui pawai ogoh-ogoh, rangkaian kegiatan sosial, serta penyampaian pesan tentang harmoni dan introspeksi diri
Kadang hidup tidak butuh suara keras, cukup jeda yang jujur. Kupang hari ini bukan sekadar ramai, tapi sedang belajar diam dengan makna. Dari ogoh-ogoh ke keheningan, manusia diajak pulang ke dirinya sendiri. Harmoni bukan tentang sama, tapi tentang saling memberi ruang. Dan di antara riuh dan sunyi, di situlah manusia menemukan dirinya kembali.
✒️: kl
