![]() |
| Tumpukan sampah rumah tangga terlihat berserakan di pinggir jalan kawasan Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Senin (16/3/2026). Warga mengeluhkan belum tersedianya bak sampah sehingga lokasi di samping Hotel milik SMK Santa Mathilda Maumere kerap menjadi tempat pembuangan sampah. |
Maumere,NTT Senin 16 Maret 2026 – Tumpukan sampah berserakan di Kota Uneng, tepatnya di area samping Hotel milik SMK Santa Mathilda Maumere, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. Kondisi ini membuat warga mulai mengelus dada—bukan karena terharu, tetapi karena aroma yang kadang datang tanpa diundang.
Pantauan media ini pada Senin pagi menunjukkan sampah rumah tangga dan berbagai jenis limbah berserakan di sekitar lokasi tersebut. Plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga lainnya terlihat menumpuk di sudut area yang seharusnya tetap bersih.
Masalahnya sederhana, tapi dampaknya tidak sederhana: belum ada bak sampah.
Tanpa fasilitas pembuangan yang memadai, sebagian warga akhirnya membuang sampah di area sekitar. Lama-lama, tempat itu seperti “magnet sampah”—sekali ada yang buang, yang lain ikut menyusul.
Padahal pepatah lama selalu mengingatkan:
Pergi ke pasar membeli ikan,
Jangan lupa membeli pepaya.
Kalau lingkungan ingin nyaman,
Sampahnya harus ada tempatnya.
Ketua RT 003 Kelurahan Kota Uneng saat dikonfirmasi media ini melalui pesan WhatsApp menjelaskan bahwa persoalan bak sampah sebenarnya sudah disampaikan kepada pihak kelurahan.
“Maaf, untuk sementara bak sampah belum ada. Kami sudah sampaikan hal ini saat pertemuan di kantor lurah dan sudah dijanjikan akan disediakan, namun sampai saat ini bak sampahnya belum juga ada,” ujarnya.
Menurutnya, ketiadaan fasilitas tersebut membuat warga kesulitan membuang sampah secara tertib. Akibatnya, beberapa warga terpaksa membuang sampah di sekitar lokasi yang akhirnya memicu penumpukan.
Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Kota Uneng. Di banyak wilayah perkotaan kecil di Indonesia, persoalan pengelolaan sampah sering bermula dari hal yang sangat mendasar: fasilitas tempat sampah yang belum tersedia atau belum memadai.
Padahal, dalam sistem pengelolaan lingkungan perkotaan, bak sampah merupakan titik awal dari rantai pengelolaan sampah. Tanpa titik awal itu, proses pengangkutan hingga pengolahan sering kali ikut terganggu.
Kalau diibaratkan perjalanan, bak sampah itu seperti terminal pertama. Tanpa terminal, kendaraan sampah pun bingung harus menjemput dari mana.
Warga berharap pemerintah setempat segera merealisasikan penyediaan bak sampah agar persoalan kebersihan di wilayah RT 003 Kelurahan Kota Uneng dapat segera teratasi dan lingkungan tetap terjaga dengan baik.
Karena pada akhirnya, kota yang bersih bukan hanya soal petugas kebersihan yang rajin, tetapi juga soal fasilitas yang tersedia dan kesadaran masyarakat yang terjaga.
✒️; Albert Cakramento
