![]() |
| Kolaborasi Undana, YKPAI, dan MCC dalam program penguatan resiliensi mental mahasiswa. |
Kupang,NTT, 5 Maret 2026– Perguruan tinggi selama ini sering diidentikkan dengan persaingan nilai dan capaian akademik. Namun Universitas Nusa Cendana (Undana) menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari indeks prestasi kumulatif (IPK). Kampus ini mulai memberi perhatian serius pada penguatan resiliensi mental mahasiswa sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan Yayasan Kerjasama Perdamaian dan Akademik Indonesia (YKPAI) serta Mennonite Central Committee (MCC). Melalui kerja sama ini, Undana mengembangkan sistem dukungan kesehatan mental yang dirancang untuk membantu mahasiswa dan dosen menghadapi tekanan dalam dinamika pendidikan tinggi.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman yang membuka ruang bagi berbagai program penguatan kesehatan mental di lingkungan kampus. Dengan langkah ini, Undana ingin menghadirkan lingkungan akademik yang tidak hanya mendorong pencapaian intelektual, tetapi juga menjaga kesejahteraan psikologis sivitas akademika.
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa ketahanan mental merupakan fondasi penting bagi mahasiswa untuk meraih prestasi secara berkelanjutan.
“Kesehatan mental bukan lagi isu sampingan. Di era ketidakpastian ini, kami ingin memastikan mahasiswa Undana memiliki ‘otot mental’ yang kuat. Kerja sama dengan YKPAI dan MCC memungkinkan kami mengadopsi standar global dalam pendampingan psikologis yang sensitif terhadap budaya lokal,” ujarnya.
Program yang dikembangkan dalam kerja sama ini lebih menekankan pada upaya pencegahan. Mahasiswa dibekali kemampuan untuk mengelola stres, mengatur emosi, serta membangun kemampuan bangkit ketika menghadapi kegagalan akademik maupun persoalan pribadi.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu mahasiswa menghadapi berbagai tekanan secara lebih sehat sekaligus memperkuat daya tahan mental mereka selama menjalani kehidupan kampus.
Sebagai langkah konkret, Undana juga tengah mempersiapkan pembentukan Tim Kesehatan Mental khusus yang akan berperan dalam penguatan layanan psikologis di lingkungan universitas.
Ketua Tim Health Promoting Unit (HPU) Undana, Dr. dr. Nicholas E. Handoyo, M.Med.Ed, menjelaskan bahwa pembentukan tim tersebut merupakan wujud keseriusan universitas dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa.
“Sebagai bentuk keseriusan pihak universitas, Undana kini dalam proses membentuk Tim Kesehatan Mental khusus,” jelasnya.
Tim ini akan melibatkan berbagai unsur, termasuk tenaga profesional di bidang psikologi serta dosen pembimbing akademik. Para dosen nantinya juga akan dibekali kemampuan untuk mengenali tanda awal gangguan kecemasan atau depresi pada mahasiswa.
Dalam kolaborasi dengan YKPAI dan MCC, Undana juga mengembangkan program peer counselor atau konselor sebaya. Program ini melatih mahasiswa agar mampu menjadi tempat berbagi bagi rekan-rekannya yang sedang menghadapi tekanan psikologis.
Pendekatan tersebut dinilai efektif karena mahasiswa sering kali merasa lebih nyaman berbicara dengan teman sebaya sebelum mencari bantuan profesional.
Undana juga berupaya menghilangkan stigma negatif terhadap isu kesehatan mental di lingkungan kampus. Universitas menilai bahwa mencari bantuan psikologis bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah positif untuk menjaga kesejahteraan diri.
“Kami ingin menghapus stigma negatif mengenai kesehatan mental di kampus. Mencari bantuan psikologis adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Dengan dukungan mitra internasional, Undana berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung pertumbuhan jiwa,” tambahnya.
Melalui penguatan resiliensi mental ini, Undana berharap mahasiswa tidak hanya lulus sebagai lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki ketangguhan mental untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan dunia kerja.
✒️: kl
Sumber: Website resmi Universitas Nusa Cendana https://undana.ac.id/
