![]() |
| Plt Kepala SMP Negeri 11 Kota Kupang, Emanuela M. Igo, S.Pd, saat memberikan penjelasan kepada media terkait persiapan siswa menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) serta tantangan literasi yang masih dihadapi siswa di sekolah tersebut, Jumat (13/3 |
Kota Kupang, NTT– Pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) menjadi momentum penting bagi sekolah untuk memetakan kemampuan akademik siswa. Di SMP Negeri 11 Kota Kupang, hasil simulasi TKA justru membuka fakta penting tentang tantangan literasi dan numerasi yang masih dihadapi siswa.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 11 Kota Kupang, Emanuela M. Igo, S.Pd, mengatakan sekolah telah melakukan berbagai persiapan sejak jauh hari untuk menghadapi TKA, terutama melalui bimbingan tambahan bagi siswa.
“Tahun lalu sebenarnya sudah ada informasi mengenai TKA ini, sehingga kami mulai mempersiapkan anak-anak. Kami memberikan bimbingan di luar jam pembelajaran bersama guru matematika dan bahasa Indonesia,” ujar Emanuela M. Igo kepada media ini, Jumat (13/3).
Menurutnya, bimbingan tersebut dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) selesai. Selain itu, sekolah juga telah mengikuti simulasi TKA secara nasional yang menjadi bahan evaluasi kemampuan siswa.
Dari hasil simulasi tersebut, terlihat bahwa kemampuan siswa masih sangat beragam. Ada siswa yang memperoleh nilai cukup tinggi, bahkan mencapai 80 hingga 90. Namun, ada juga siswa dengan nilai yang sangat rendah.
“Nilai tertinggi untuk bahasa Indonesia sekitar 87,4, tetapi nilai terendah ada yang hanya sekitar 12,86. Perbedaannya sangat jauh, dan ini menjadi tantangan bagi kami,” jelasnya.
Lebih jauh ia mengungkapkan, rata-rata capaian siswa di sekolahnya bahkan belum mencapai 50 persen dalam penguasaan materi.
Salah satu faktor yang memengaruhi adalah kemampuan memahami bacaan yang masih rendah. Soal-soal TKA banyak menggunakan teks bacaan yang panjang sehingga membutuhkan kemampuan literasi yang baik.
“Kalau sekadar membaca mungkin tidak terlalu sulit, tetapi memahami isi bacaan itu yang masih menjadi tantangan bagi sebagian anak-anak,” ujarnya.
Bahkan, menurut Emanuela, masih ada siswa yang ketika masuk jenjang SMP belum memiliki kemampuan membaca yang baik. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pihak sekolah.
“Kami di sekolah ini bahkan ada anak yang ketika masuk kelas 7 belum bisa membaca dengan baik. Kami bimbing terus, dan puji Tuhan akhirnya mereka bisa membaca,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sekolah menerapkan berbagai strategi pembelajaran, termasuk memberikan latihan soal TKA sebelum kegiatan belajar dimulai.
“Ke depan kami akan memberikan latihan soal yang bentuknya seperti soal TKA di awal kegiatan pembelajaran, sebelum pelajaran dimulai. Karena saat itu otak anak-anak masih segar,” jelasnya.
Selain itu, sekolah juga terus melakukan bimbingan khusus bagi siswa yang mengalami kesulitan membaca dan menulis.
“Tahun-tahun sebelumnya ada sekitar enam sampai tujuh siswa yang masih mengalami kesulitan membaca dan menulis. Mereka tersebar di beberapa kelas dan terus kami dampingi,” tambahnya.
Di sisi lain, pihak sekolah juga menerapkan aturan terkait penggunaan telepon genggam di lingkungan sekolah. Siswa tidak diperbolehkan membawa HP kecuali untuk kepentingan pembelajaran.
“Kalau anak dilarang membawa HP, maka guru juga harus memberi contoh. Guru tidak boleh menggunakan HP di ruang kelas. Kalau ada keperluan, gunakan di ruang guru,” tegasnya.
Menurutnya, kebijakan tersebut penting agar siswa lebih fokus pada kegiatan belajar dan tidak terganggu oleh penggunaan gawai.
Meski awalnya sempat mengejutkan karena informasi pelaksanaan TKA datang cukup mendadak, Emanuela menilai program ini sebenarnya membawa dampak positif bagi dunia pendidikan.
“Menurut saya sebenarnya TKA ini bagus karena menjadi langkah awal untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi ujian akhir,” katanya.
Ia menambahkan, hasil TKA justru menjadi bahan refleksi bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran ke depan.
“Nilai anak-anak memang ada yang sangat bagus, tetapi ada juga yang sangat rendah. Karena itu kami tidak mungkin membiarkan mereka tanpa pendampingan. Guru-guru akan terus membimbing mereka,” pungkasnya.
Dengan berbagai strategi pembelajaran yang terus diperkuat, SMPN 11 Kota Kupang berharap kemampuan literasi dan numerasi siswa dapat meningkat sehingga mereka lebih siap menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.
✒️: kl
