Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Asosiasi MBG 3T Dibentuk, Kasus Makanan Basi Jadi Alarm

Kamis, 23 April 2026 | April 23, 2026 WIB Last Updated 2026-04-22T22:59:50Z

 

Ketua Umum Asosiasi Dapur MBG 3T Indonesia, Hilarius Onesimus Moan Jong, S.H., M.H., saat menghadiri peluncuran asosiasi di Jakarta, menyampaikan komitmen pembenahan sistem dapur gizi menyusul sorotan kasus makanan tidak layak konsumsi.

Jakarta, 22 April 2026 —Asosiasi MBG 3T Indonesia resmi dibentuk sebagai respons atas temuan makanan tidak layak konsumsi di sejumlah dapur program gizi nasional. Kasus makanan basi yang sempat mencuat bukan lagi sekadar insiden, tetapi menjadi alarm keras bahwa sistem dapur gizi di lapangan perlu dibenahi secara menyeluruh, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).


Peluncuran asosiasi ini digelar di TJIKKO Coffee, Jakarta, sebagai langkah konsolidasi lintas sektor untuk memperkuat tata kelola dapur gizi nasional yang selama ini menghadapi berbagai tantangan—mulai dari distribusi, pengawasan, hingga kualitas makanan.


Asosiasi MBG 3T Indonesia dipimpin oleh Hilarius Onesimus Moan Jong, S.H., M.H., yang menegaskan bahwa pembentukan organisasi ini bukan sekadar formalitas atau ruang kumpul biasa.


“Asosiasi ini bukan hanya tempat berkumpul, tapi ruang untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha dan memastikan standar pengelolaan dapur benar-benar dijalankan,” tegasnya.


Ia menekankan bahwa program dapur MBG memiliki makna jauh lebih besar dari sekadar aktivitas ekonomi.


“Ini bukan usaha biasa. Ini tentang masa depan generasi bangsa. Di wilayah 3T yang penuh keterbatasan, kita tidak boleh main-main dengan kualitas pangan,” ujarnya.


Temuan makanan basi atau tidak layak konsumsi di beberapa dapur menjadi titik balik penting. Hilarius tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut, namun juga menegaskan bahwa kasus tersebut tidak mencerminkan keseluruhan sistem.


“Kami melihat ini sebagai peringatan serius. Tapi perlu ditegaskan, itu tidak mewakili semua dapur MBG yang selama ini bekerja dengan standar tinggi,” jelasnya.


Meski demikian, ia mengakui adanya celah dalam sistem pengawasan yang harus segera ditutup.


Di sinilah letak persoalan sebenarnya: bukan hanya pada pelaksana, tetapi pada sistem yang belum sepenuhnya kuat.


Ke depan, asosiasi akan bergerak pada tiga fokus utama:


  • Penguatan kontrol dan pengawasan
  • Pembinaan dan peningkatan kapasitas pengelola dapur
  • Penerapan standar keamanan pangan yang ketat


Dengan melibatkan akademisi, praktisi, dan pelaku usaha, asosiasi ini juga diproyeksikan menjadi mitra strategis pemerintah.


Tujuannya jelas: memastikan kebijakan tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar berjalan di lapangan.


Wilayah 3T menjadi fokus utama karena kompleksitas tantangan yang dihadapi—akses terbatas, distribusi sulit, hingga minimnya infrastruktur pendukung.


Namun, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan standar kualitas.


Sebaliknya, justru di wilayah inilah negara harus hadir lebih kuat.


Pembentukan Asosiasi MBG 3T Indonesia diharapkan menjadi titik balik dalam pembenahan sistem dapur gizi nasional.


Bukan hanya memperbaiki yang salah, tetapi membangun sistem yang lebih transparan, profesional, dan berkelanjutan.


Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar program—melainkan kualitas hidup generasi masa depan.


Kasus makanan basi telah membuka mata banyak pihak: sistem yang lemah akan selalu melahirkan masalah. Dan tanpa perbaikan serius, persoalan yang sama akan terus berulang.


Tidak boleh ada kompromi dalam urusan gizi—karena masa depan bangsa dimulai dari apa yang dimakan hari ini.

✒️: ***/Albert Cakramento