KUPANG, NTT — Bunda Guru Provinsi Nusa Tenggara Timur, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menyoroti capaian pendidikan NTT yang masih berada di posisi ke-36 secara nasional dan mengajak seluruh elemen masyarakat bergerak bersama meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.
Hal tersebut disampaikan Mindriyati Astiningsih Laka Lena dalam sambutannya usai dikukuhkan sebagai Bunda Guru Provinsi NTT pada Kamis, 29 Mei 2026, di Aula El Tari Kupang.
Menurutnya, kondisi pendidikan NTT saat ini harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, komunitas, dunia usaha, hingga media massa.
“NTT berada di urutan ke-36 dari 38 provinsi. Ini menjadi keprihatinan bersama, tetapi tidak boleh berhenti hanya sebagai keprihatinan. Ini harus menjadi cambuk untuk kita semua meningkatkan mutu pendidikan,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa guru bukan hanya sekadar pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pendidik yang membentuk moral, karakter, dan masa depan generasi muda.
“Guru bukan hanya menjadi pengajar, tetapi guru adalah pendidik. Kalau pengajar itu transfer ilmu dan keterampilan, tetapi pendidik ada nilai moral dan karakter yang ikut serta di dalamnya,” ujar Mindriyati.
Sebagai Bunda Guru Provinsi NTT, dirinya mengaku menyadari amanah tersebut merupakan tanggung jawab moral untuk mendukung perjuangan para guru dalam menciptakan pendidikan yang bermutu, berkualitas, berkarakter, dan berbudaya.
Menurutnya, pendidikan yang baik tidak bisa dibangun hanya oleh pemerintah maupun sekolah semata, tetapi harus menjadi kerja bersama melalui kolaborasi berbagai pihak atau pentahelix.
“Tanggung jawab menciptakan pendidikan yang berkualitas bukan hanya tugas seorang Bunda Guru. Ini adalah kerja bersama antara akademisi, pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan media,” jelasnya.
Mindriyati juga mengaku optimistis berbagai keterbatasan yang dihadapi NTT justru dapat melahirkan kreativitas dan inovasi baru dalam dunia pendidikan.
“Dalam keterbatasan justru sering muncul kreativitas dan inovasi. Anak-anak NTT harus memperoleh pendidikan yang layak dan memiliki daya saing di era digital,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rencana pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Bunda Guru Provinsi NTT guna memperkuat sinergi dan program peningkatan kualitas pendidikan di daerah.
Menurutnya, peran Bunda Guru tidak boleh berhenti hanya pada kegiatan seremonial, tetapi harus menghadirkan kerja nyata yang memberi dampak langsung bagi dunia pendidikan.
“Bunda Guru tidak boleh hanya menjadi simbol. Harus ada kerja nyata untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan di NTT,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dan kualitas guru sebagai kunci utama menciptakan pendidikan yang bermutu.
“Bagaimana bisa menciptakan pendidikan bermutu kalau guru tidak didukung menjadi pendidik yang berkualitas dan sejahtera,” katanya.
Selain itu, Mindriyati menyoroti pentingnya kesejahteraan guru agar para pendidik dapat bekerja secara profesional tanpa terbebani persoalan ekonomi keluarga.
“Guru memang bekerja dengan hati, tetapi kesejahteraan yang layak juga sangat penting agar mereka bisa fokus mendidik dan meningkatkan kapasitas dirinya,” tandasnya.
Ia berharap seluruh guru di NTT ke depan semakin kompeten, profesional, sejahtera, dan mendapatkan apresiasi yang layak demi menciptakan generasi muda NTT yang unggul dan mampu bersaing di masa depan.
✒️: kl
