KUPANG, NTT — Pengukuhan Bunda Guru Provinsi Nusa Tenggara Timur, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, dinilai menjadi harapan baru bagi kemajuan dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Kehadiran sosok Bunda Guru dianggap mampu membawa semangat, motivasi, dan energi baru dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan di daerah.
Hal tersebut disampaikan Ketua BPH PB PGRI NTT, Dr. Sam Haning, SH., MH., dalam sambutannya pada kegiatan pengukuhan Bunda Guru Provinsi NTT dan pelepasan mahasiswa di Kota Kupang, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut Dr. Sam Haning, NTT membutuhkan figur perempuan yang memiliki kepedulian besar terhadap pendidikan serta mampu membangun kolaborasi bersama pemerintah, organisasi pendidikan, dan para guru di daerah.
“Kalau NTT punya seorang perempuan hebat seperti Ibu Asli, berarti NTT hebat. Ini memberikan semangat baru, harapan baru, dan motivasi baru bagi kita semua,” ujar Dr. Sam Haning.
Ia juga menyoroti kondisi pendidikan NTT yang hingga kini masih berada di peringkat bawah secara nasional. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pihak agar segera dilakukan pembenahan secara bersama-sama.
“Kita harus bertanya apa yang menyebabkan kualitas pendidikan kita masih stagnan. Ini harus menjadi catatan penting bagi kita semua,” katanya.
Meski demikian, Dr. Sam Haning optimistis pendidikan NTT dapat mengalami perubahan signifikan apabila ada kerja sama yang kuat antara Pemerintah Provinsi NTT, PGRI, Bunda Guru Provinsi NTT, serta seluruh tenaga pendidik.
“Saya yakin dan percaya, kalau kolaborasi yang hebat antara Pemerintah Provinsi NTT, PGRI, Bunda Guru, dan para guru terus dibangun, maka kualitas pendidikan NTT pasti akan berubah,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya tiga tipologi dasar yang harus dimiliki seorang guru, yakni pedagogi, pedagogik, dan pedagogis dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
Selain itu, Dr. Sam Haning memberikan pesan khusus kepada mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) agar menjaga kualitas diri dan ilmu pengetahuan sebelum terjun mengabdi di tengah masyarakat.
“Mahasiswa FKIP harus benar-benar menjaga kualitas dan ilmu yang dimiliki, karena nanti akan ditempatkan di berbagai daerah, baik di kota maupun desa,” ujarnya.
Pada kegiatan yang sama, sebanyak 470 mahasiswa secara resmi dilepas untuk melaksanakan pengabdian di berbagai wilayah di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang telah mendukung penempatan mahasiswa dalam membantu pembangunan dan pelayanan masyarakat di tingkat kelurahan maupun desa.
“Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah yang siap menerima mahasiswa untuk membantu pembangunan dan pengabdian kepada masyarakat,” tutupnya.
✒️: kl
