Maumere, NTT – Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait penutupan Pasar PNPM Wuring yang berlangsung di Ruang Kulababong DPRD Kabupaten Sikka, Kamis (25/6/2026), berlangsung penuh sorotan. Dalam forum yang dihadiri para pedagang, anggota DPRD, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Sikka, Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Fraksi NasDem, Yosef Nong Soni, melontarkan kritik tajam terhadap alasan pemerintah yang menyebut kawasan Pasar PNPM Wuring sebagai daerah rawan bencana.
RDP tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka, Kepala Bagian Hukum Setda Kabupaten Sikka, mantan Kepala Bagian Hukum Setda Kabupaten Sikka, serta Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Sikka yang memberikan penjelasan terkait dasar kebijakan penutupan pasar.
Dalam kesempatan itu, Yosef mempertanyakan konsistensi alasan pemerintah.
Menurutnya, jika kawasan Wuring benar-benar dianggap rawan bencana, maka semestinya kebijakan tersebut berlaku untuk seluruh aktivitas dan bangunan yang berada di wilayah yang sama, bukan hanya pasar.
"Apakah ada monster di Wuring yang hanya mengincar pasar? Sementara di sana ada Masjid Terapung dan ratusan rumah warga yang setiap hari ditempati masyarakat.
Kalau memang rawan bencana, seharusnya penjelasannya berlaku untuk semua, bukan hanya untuk pasar," tegas Yosef dalam forum tersebut.
Pernyataan itu langsung mendapat perhatian para pedagang yang memenuhi ruang sidang. Mereka menilai alasan yang disampaikan pemerintah selama ini belum mampu menjawab kegelisahan masyarakat yang kehilangan tempat usaha.
Yosef menegaskan bahwa pemerintah perlu memberikan penjelasan yang lebih rasional dan dapat diterima publik. Ia bahkan meminta agar pemerintah tidak menggunakan alasan yang terkesan dipaksakan untuk membenarkan kebijakan yang berdampak langsung terhadap ekonomi rakyat kecil.
"Kalau memang itu alasan pemerintah, saya kira pemerintah harus mencari alasan lain saja untuk melakukan pembenaran diri.
Jangan sampai rakyat melihat ada kebijakan yang tidak adil terhadap pedagang kecil," ujarnya.
Menurut Yosef, Pasar PNPM Wuring selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan bagi ratusan keluarga. Karena itu, pemerintah seharusnya mengedepankan solusi penataan daripada memilih langkah penutupan yang berpotensi mematikan aktivitas ekonomi masyarakat.
Sebagai solusi, ia mengusulkan agar Pasar PNPM Wuring kembali diaktifkan dengan pengaturan jam operasional yang disepakati bersama, yakni hanya beroperasi pada sore hingga malam hari. Skema tersebut dinilai dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan penataan kawasan dan kepentingan ekonomi warga.
RDP yang berlangsung selama beberapa jam itu memperlihatkan kuatnya aspirasi para pedagang yang menginginkan pasar kembali dibuka.
Mereka berharap pemerintah daerah tidak hanya berpegang pada aspek administratif, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi yang dialami masyarakat.
Di penghujung forum, pertanyaan satir yang dilontarkan Yosef Nong Soni kembali menggema dan menjadi simbol kritik terhadap kebijakan penutupan pasar:
"Apakah ada monster di Wuring yang hanya mengincar pasar?"
Bagi para pedagang, kalimat tersebut bukan sekadar sindiran, melainkan bentuk protes terhadap kebijakan yang dinilai belum mampu menjelaskan secara utuh mengapa pasar harus ditutup sementara aktivitas masyarakat lainnya di kawasan yang sama tetap berlangsung seperti biasa.
