Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Di Hari Lahir Pancasila, Mama Fatima Masih Bertahan di Rumah Bambu Nyaris Ambruk

Senin, 01 Juni 2026 | Juni 01, 2026 WIB Last Updated 2026-05-31T23:50:25Z

 


MAUMERE, NTT, 1 Juni 2026 – Di saat bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila dengan semangat keadilan sosial dan kemanusiaan, Maria Fatima atau Mama Fatima di Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, justru masih bertahan hidup di sebuah rumah bambu yang nyaris ambruk. Di usia senjanya, perempuan lansia itu menjalani hari-hari penuh kecemasan setiap kali hujan dan angin datang menerpa rumah rapuh yang telah lama ditempatinya.


Rumah sederhana milik Mama Fatima tampak semakin renta dimakan usia. Dinding anyaman bambu mulai lapuk dan berlubang di sejumlah bagian, sementara tiang-tiang penyangga terlihat tidak lagi kokoh menopang bangunan. Atap rumah pun tampak usang sehingga membuat kondisi di dalam rumah menjadi rawan saat musim hujan tiba.


Kondisi tersebut mengundang keprihatinan warga sekitar. Mereka mengaku khawatir terhadap keselamatan Mama Fatima yang tinggal seorang diri di rumah yang sewaktu-waktu bisa roboh apabila diterpa hujan deras maupun angin kencang.


“Kasihan Mama Tima. Beliau sudah tua. Rumahnya seperti ini dari tahun ke tahun. Kalau hujan deras atau angin kencang, kami juga ikut khawatir,” ujar Susana Susar, warga Dusun Hepang.


Menurut warga, Mama Fatima dikenal sebagai sosok sederhana dan tidak pernah banyak mengeluh meskipun hidup dalam keterbatasan. Ia tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan penuh ketabahan dan kesabaran.


Namun di balik ketegarannya, kondisi tempat tinggal yang tidak layak membuat masyarakat sekitar berharap ada perhatian dari pemerintah maupun para pihak yang memiliki kepedulian sosial terhadap kehidupan lansia tersebut.


Di tengah berbagai pembangunan yang terus berlangsung, rumah Mama Fatima berdiri sunyi di sudut kampung yang jauh dari keramaian. Dari rumah bambu yang hampir roboh itu tersimpan kisah perjuangan seorang ibu yang tetap bertahan menjalani hidup meski dihimpit keterbatasan ekonomi.


Warga tidak meminta kemewahan untuk Mama Fatima. Mereka hanya berharap perempuan lansia itu dapat memiliki tempat tinggal yang aman, layak, dan nyaman agar dapat menikmati masa tuanya dengan lebih tenang dan bermartabat.


Kisah Mama Fatima menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Pancasila, khususnya sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, seharusnya hadir dalam tindakan nyata bagi masyarakat kecil yang hidup dalam kondisi rentan.


Rumah Mama Fatima mungkin hampir roboh. Namun harapannya belum runtuh. Ia masih menanti hadirnya tangan-tangan baik yang dapat membawa perubahan bagi kehidupannya di usia senja.

✒️: Albert Cakramento