Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

“Mereka Haus Pelukan” Kapolda NTT Soroti Krisis Pengasuhan Anak di Era Digital

Selasa, 09 Juni 2026 | Juni 09, 2026 WIB Last Updated 2026-06-09T03:23:43Z


KUPANG, NTTKapolda Nusa Tenggara Timur Irjen Pol. Rudi Darmoko melontarkan peringatan keras tentang kondisi generasi muda saat ini. Menurutnya, banyak kasus kenakalan remaja, perundungan, penyalahgunaan narkoba hingga tindak kriminal yang melibatkan anak berawal dari satu persoalan mendasar, yakni hilangnya kehangatan, perhatian, dan komunikasi dalam keluarga.


Pesan tersebut disampaikan Kapolda saat membuka Seminar The Art of Smart Parenting yang digelar Polda NTT di Hotel Harper Kupang, Selasa (9/6/2026), dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 dan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-74.


Mengusung tema “Menjadi Orang Tua Hebat untuk Anak Hebat” dan “Kesehatan Mental dan Parenting”, kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap tumbuh kembang anak dan ketahanan keluarga.


Dalam sambutannya, Kapolda menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui penegakan hukum. Menurutnya, fondasi utama terciptanya masyarakat yang aman dan harmonis justru dimulai dari keluarga yang sehat dan penuh kasih.


“Ketertiban masyarakat bukanlah hasil dari ketatnya penjagaan polisi semata, melainkan buah dari kedamaian yang tumbuh di meja makan keluarga,” tegas Rudi Darmoko.


Kapolda menjelaskan, tantangan pengasuhan di era digital jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat anak-anak memiliki akses luas terhadap berbagai informasi dan pengaruh dari luar lingkungan keluarga.


Di sisi lain, kesibukan orang tua sering kali membuat komunikasi dalam keluarga semakin berkurang. Akibatnya, banyak anak tumbuh tanpa pendampingan emosional yang cukup dan mulai mencari perhatian di tempat lain.


“Anak-anak kita tumbuh di dunia tanpa sekat. Teknologi memberi mereka sayap untuk terbang, tetapi juga membawa badai yang bisa memadamkan pelita dalam jiwa mereka,” ujarnya.


Berdasarkan berbagai kasus yang ditangani aparat kepolisian, Kapolda melihat pola yang hampir serupa. Banyak anak yang terlibat dalam perilaku menyimpang bukan karena kurang cerdas atau tidak memiliki masa depan, melainkan karena kehilangan figur yang mampu mendengarkan, membimbing, dan memberikan kasih sayang.


“Mereka adalah jiwa-jiwa yang haus pelukan, namun tersesat mencari kehangatan di tempat yang salah,” kata Kapolda.


Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting bagi seluruh orang tua agar tidak hanya fokus memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga hadir secara emosional dalam kehidupan mereka.


Kapolda mengajak seluruh anggota Polri, Bhayangkari, tokoh masyarakat, pendidik, dan para orang tua untuk membangun pola asuh yang lebih sehat melalui komunikasi yang terbuka, perhatian yang konsisten, serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.


Menurutnya, kesehatan mental keluarga harus menjadi perhatian bersama karena berpengaruh langsung terhadap pembentukan karakter generasi muda.


“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Dari rumah mereka belajar tentang cinta, disiplin, empati, dan nilai-nilai kehidupan. Jika fondasi ini rapuh, maka berbagai persoalan sosial akan mudah muncul,” ujarnya.


Seminar tersebut menghadirkan Direktur SBMS sekaligus Praktisi USEFT, Agus E.H., bersama tim Yayasan Kesehatan Mental Keluarga Indonesia yang membagikan berbagai strategi pengasuhan modern dan penguatan kesehatan mental keluarga.


Melalui kegiatan ini, Polda NTT berharap tumbuh kesadaran kolektif bahwa membangun masa depan bangsa tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik dan kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui keluarga yang mampu menjadi tempat paling aman bagi anak-anak untuk bertumbuh.


Menutup sambutannya, Kapolda kembali mengingatkan bahwa kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh kualitas hubungan antara orang tua dan anak saat ini.


“Jika keluarga kuat, maka masyarakat akan kuat. Jika anak-anak tumbuh dengan cinta dan perhatian, maka masa depan bangsa akan terjaga,” pungkasnya. (Redaksi)