Maumere, NTT, 15 Juni 2026 – Di tengah ancaman putusnya akses jalan yang menghubungkan sejumlah wilayah di Kabupaten Sikka, secercah harapan justru lahir dari tangan-tangan masyarakat. Tanpa menunggu bantuan datang, warga bersama pelaku pariwisata dan komunitas budaya berhasil menuntaskan pembangunan turap penahan longsor yang menyelamatkan jalur vital menuju kawasan wisata budaya Watublapi.
Pekerjaan yang berlangsung selama tiga hari, sejak 11 hingga 13 Juni 2026, itu menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong masih hidup dan menjadi kekuatan utama masyarakat ketika menghadapi persoalan yang menyangkut kepentingan banyak orang.
Turap dibangun secara swadaya oleh masyarakat Desa Munerana, Desa Kajowair, Kampung Dokar, bersama manajemen PT Rijamo Flores Tour Maumere, Sanggar Bliran Sina Watublapi, dan Sanggar Doka Tawa Tana.
Jalan yang diperbaiki merupakan ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Kecamatan Hewokloang, Bola, Doreng hingga Mapitara.
Selain menjadi jalur utama aktivitas masyarakat, jalan tersebut juga merupakan akses menuju destinasi wisata budaya Sanggar Bliran Sina Watublapi dan Doka Tawa Tana yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon pariwisata Kabupaten Sikka.
Selama dua tahun terakhir, kondisi jalan terus mengalami kerusakan akibat longsor yang menggerus badan jalan.
Situasi tersebut tidak hanya mengancam keselamatan pengguna jalan, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi masyarakat dan kunjungan wisatawan.
Ketua Sanggar Doka Tawa Tana, Cletus Beru, mengatakan masyarakat tidak ingin menunggu sampai jalan tersebut benar-benar putus.
"Jika dibiarkan, dampaknya sangat besar bagi masyarakat. Jalan ini menjadi akses utama bagi warga dan juga jalur menuju kawasan wisata budaya yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat," ujarnya.
Inisiatif perbaikan bermula ketika Romana Rona bersama tim PT Rijamo Flores Tour Maumere melakukan kunjungan ke Kampung Dokar. Dalam perjalanan, mereka menyaksikan langsung kondisi jalan yang berada di ambang kerusakan lebih parah.
Keprihatinan itu kemudian berubah menjadi aksi nyata.
Setelah berkoordinasi dengan masyarakat dan komunitas budaya setempat, material berupa bronjong, batu, pasir, semen, dan tanah urugan segera didatangkan ke lokasi.
Tidak ada pidato panjang. Tidak ada seremoni besar.
Yang terlihat hanyalah warga yang bekerja dari pagi hingga sore hari, mengangkat batu, menyusun bronjong, mencampur semen, dan membangun turap dengan satu tujuan: menyelamatkan akses yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Dipimpin Ketua Sanggar Bliran Sina Watublapi, Yoseph Gervasius, bersama Cletus Beru, pekerjaan akhirnya berhasil diselesaikan tepat waktu. Kini ruas jalan yang sebelumnya berada di ambang longsor kembali aman dilalui kendaraan dan masyarakat.
Romana Rona menegaskan bahwa kepedulian terhadap jalan tersebut lahir dari kesadaran bahwa akses itu memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat.
"Jalan ini bukan hanya jalur menuju objek wisata budaya. Ini adalah akses ekonomi masyarakat untuk mengangkut hasil kebun, memasarkan tenun, dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," katanya.
Rampungnya pembangunan turap tersebut menjadi pesan kuat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar.
Terkadang, perubahan justru lahir dari kepedulian, kebersamaan, dan keberanian masyarakat untuk bertindak ketika keadaan menuntut.
Saat jalan nyaris hilang ditelan longsor, masyarakat Sikka memilih tidak menunggu. Mereka bergerak, bekerja, dan membuktikan bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan terbesar yang dimiliki rakyat.
