KUPANG, NTT – Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Maulafa, Hendrikus Banunaek, menegaskan bahwa budaya tidak boleh dipandang hanya sebagai warisan leluhur, tetapi juga harus dikembangkan sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Hal itu disampaikannya kepada News-daring.com, Jumat (26/6/2026). Menurutnya, pelestarian budaya yang dikemas melalui berbagai kegiatan dan ruang pertunjukan akan membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM, perajin, hingga seniman lokal, sekaligus memperkuat identitas budaya Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hendrikus mengatakan, selama ini berbagai pertunjukan budaya umumnya hanya digelar pada momen tertentu, seperti peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia atau kegiatan seremonial lainnya. Padahal, jika budaya ditampilkan secara rutin dalam berbagai agenda pemerintahan maupun hari-hari besar nasional, manfaat yang dirasakan masyarakat akan jauh lebih besar.
"Jangan hanya saat 17 Agustus atau acara tertentu saja budaya ditampilkan. Kalau bisa, setiap hari besar atau event pemerintah melibatkan kelompok-kelompok budaya sehingga masyarakat terus mengenal dan mencintai budayanya," ujarnya.
Menurutnya, semakin sering budaya dipentaskan, semakin besar pula peluang ekonomi yang tercipta. Berbagai produk budaya seperti kain tenun, topi adat, aksesori tradisional, kerajinan tangan, hingga kuliner khas daerah akan semakin dikenal dan diminati masyarakat maupun wisatawan.
"Kalau budaya terus ditampilkan, otomatis orang akan tertarik membeli kain tenun, topi adat, aksesori, dan berbagai hasil karya masyarakat. Di situlah ekonomi bergerak dan masyarakat memperoleh manfaat," katanya.
Ia menilai Kota Kupang memiliki posisi strategis sebagai pusat pertemuan masyarakat dari berbagai kabupaten di NTT. Karena itu, Kota Kupang dinilai sangat tepat menjadi etalase promosi budaya dari seluruh daerah.
Menurut Hendrikus, budaya dari Timor Tengah Selatan (TTS), Rote Ndao, Flores, Sumba, Alor, Lembata, hingga daerah lainnya dapat ditampilkan secara bergiliran sehingga masyarakat memiliki kesempatan mengenal kekayaan budaya NTT secara lebih luas.
"Kalau semua daerah diberi kesempatan tampil di Kota Kupang, maka bukan hanya budayanya yang dikenal, tetapi ekonomi masyarakat juga ikut bergerak. Orang datang menonton, membeli produk UMKM, membeli kain tenun, aksesori, dan hasil kerajinan lainnya," jelasnya.
Selain berdampak terhadap perekonomian, kegiatan budaya juga memiliki nilai edukasi bagi generasi muda. Menurutnya, banyak anak-anak saat ini hanya mengenal budaya melalui foto atau media sosial tanpa pernah menyaksikan secara langsung.
Karena itu, ia berharap pemerintah terus memberikan ruang kepada kelompok seni dan budaya untuk tampil dalam berbagai kegiatan resmi maupun event pariwisata agar generasi muda semakin mencintai budaya daerahnya.
"Kalau kita tidak mulai sekarang, budaya kita bisa perlahan hilang. Anak-anak harus melihat langsung bagaimana budaya itu hidup, bagaimana cara memakai pakaian adat, mengenal tenun, tarian, musik tradisional, dan seluruh nilai yang diwariskan oleh leluhur," tuturnya.
Hendrikus menegaskan, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
"Budaya jangan hanya dijaga sebagai warisan. Budaya harus diberdayakan agar mampu menciptakan peluang usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus menjadi kekuatan ekonomi daerah," pungkasnya.
✒️: kl
