KUPANG, NTT – Dampak program revitalisasi pendidikan di SDI Naimata, Kota Kupang, dirasakan langsung oleh komite sekolah, siswa hingga guru. Tak hanya menghadirkan ruang belajar yang lebih nyaman dan mengakhiri pembelajaran hingga tiga shift, revitalisasi juga menumbuhkan semangat gotong royong masyarakat untuk ikut melengkapi fasilitas sekolah.
Perubahan tersebut terungkap dalam Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan yang digagas Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) di SDI Naimata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (21/7/2026).
Ketua Komite SDI Naimata, Siprianus Damai Nar, yang akrab disapa Sipri, mengatakan program revitalisasi tidak hanya membawa perubahan terhadap kondisi fisik sekolah, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan nyaman.
Sipri yang pada 2025 mendapat kepercayaan sebagai Ketua P2SP dalam pelaksanaan pembangunan sekolah mengatakan, komite bersama orang tua dan para pekerja turut mengambil bagian dalam membenahi lingkungan sekolah.
Salah satu bentuk kontribusi tersebut adalah pemasangan paving block di halaman tengah sekolah dengan luas lebih dari 500 meter persegi.
“Kami dari komite sekolah bersama para tukang yang bekerja di sini tidak hanya membangun, tetapi kami sebagai perwakilan masyarakat turut berkontribusi untuk pembangunan fasilitas di halaman tengah sekolah berupa pemasangan paving block,” kata Sipri.
Menurutnya, jika dihitung berdasarkan nilai kontribusi dan pekerjaan, pemasangan paving tersebut diperkirakan bernilai hampir Rp200 juta.
Kontribusi itu berasal dari partisipasi orang tua dan para pekerja yang terlibat dalam pembangunan. Namun, Sipri menegaskan tidak ada nominal tertentu yang diwajibkan kepada setiap orang tua.
“Tidak, tidak. Sukarela,” tegasnya saat ditanya mengenai mekanisme kontribusi tersebut.
Sipri menjelaskan, sebelum dilakukan pemasangan paving block, kondisi halaman sekolah menjadi salah satu persoalan yang dihadapi siswa dan guru.
Saat musim kemarau, halaman sekolah dipenuhi debu. Sebaliknya, ketika musim hujan, area tersebut menjadi berlumpur.
Kondisi itu mendorong komite, orang tua dan pekerja untuk bersama-sama membenahi halaman sekolah.
“Kalau kita mau menciptakan sekolah yang inklusif, aman, nyaman dan ramah, maka termasuk area di sini harus diamankan juga,” ujarnya.
Menurut Sipri, orang tua menyadari bahwa kenyamanan anak dalam memperoleh pendidikan tidak hanya ditentukan oleh ruang kelas yang bagus.
Lingkungan tempat anak-anak beraktivitas setiap hari juga harus aman dan nyaman.
Kesadaran tersebut kemudian menumbuhkan semangat gotong royong. Sipri menyebut proses menggerakkan partisipasi hingga pelaksanaan kontribusi berlangsung sekitar enam bulan.
Dalam berbagai pertemuan bersama orang tua, komite terus mendorong kesadaran bahwa menciptakan lingkungan pendidikan yang baik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Meski kondisi sekolah telah mengalami perubahan, Sipri mengatakan masih terdapat fasilitas yang sangat dibutuhkan, terutama pagar keliling.
Menurutnya, pembangunan pagar bukan hanya persoalan mempercantik atau memberikan batas terhadap lingkungan sekolah, melainkan berkaitan langsung dengan keamanan anak.
Lokasi SDI Naimata yang berdekatan dengan satuan pendidikan lain membuat pengamanan batas lingkungan sekolah dinilai penting.
Sipri mengatakan pagar dibutuhkan untuk membantu menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak serta mengontrol akses keluar-masuk lingkungan pendidikan.
“Pembangunan pagar keliling itu adalah sebuah keharusan di sini,” katanya.
Komite bersama orang tua, lanjut dia, telah membicarakan kebutuhan tersebut.
Namun, pihaknya tetap harus mempertimbangkan regulasi yang mengatur mekanisme partisipasi masyarakat dan orang tua dalam pembiayaan maupun pembangunan fasilitas sekolah.
Jika komite melihat revitalisasi dari sisi pembangunan dan partisipasi masyarakat, siswa merasakan manfaatnya secara langsung dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Adiba, siswa kelas 6, dan Alika, siswi kelas 5A SDI Naimata, mengaku senang dengan perubahan kondisi sekolah setelah program revitalisasi dilaksanakan.
Sebelum revitalisasi, keterbatasan ruang kelas menyebabkan proses pembelajaran harus diatur hingga beberapa shift.
Para siswa bahkan harus menghadapi kegiatan belajar hingga tiga shift akibat keterbatasan ruangan.
Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran kurang nyaman.
Ketika siswa pada satu shift masih belajar, siswa dari shift berikutnya mulai berdatangan. Aktivitas di sekitar kelas terkadang mengganggu konsentrasi siswa yang sedang mengikuti pelajaran.
“Sebelum dibangun ini kita tidak bisa belajar dengan tenang karena memasuki tiga shift,” ungkap salah seorang siswa.
Setelah revitalisasi menghadirkan ruang belajar yang lebih memadai, kondisi tersebut berubah.
Siswa kini dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan jadwal yang lebih teratur dan tidak lagi harus belajar secara bergantian hingga sore seperti sebelumnya.
“Setelah pembangunan sekolah ini kami merasa senang karena sudah bisa masuk shift pagi. Setelah masuk shift pagi, siangnya kita bisa beraktivitas dengan baik,” ujarnya.
Perubahan tersebut tidak hanya memberikan kenyamanan saat mengikuti pelajaran.
Dengan kegiatan belajar yang berlangsung lebih teratur, siswa juga memiliki waktu yang lebih baik untuk beristirahat, belajar di rumah, membantu orang tua maupun mengikuti aktivitas lainnya setelah pulang sekolah.
Meski telah menikmati fasilitas yang lebih baik, Adiba dan Alika masih memiliki sejumlah harapan untuk sekolah mereka.
Keduanya berharap fasilitas pendidikan dapat terus dilengkapi, terutama pagar sekolah, jaringan WiFi yang lebih memadai dan tambahan papan interaktif digital (PID).
Bagi siswa, keberadaan teknologi digital dapat membuat kegiatan belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan.
Papan interaktif digital diharapkan membantu siswa memperoleh pengalaman pembelajaran yang lebih interaktif, sementara jaringan internet yang kuat dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi dan kegiatan akademik lainnya.
Para siswa juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas program revitalisasi yang telah membawa perubahan terhadap kondisi sekolah mereka.
“Terima kasih Bapak Prabowo sudah membangunkan sekolah. Kami sangat senang,” ungkap salah seorang siswa.
Dampak perubahan tersebut juga dirasakan oleh para tenaga pendidik.
Jekson Haga, guru SDI Naimata, mengatakan program revitalisasi pendidikan yang diterima sekolah pada 2025 telah membantu meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
“Selaku pendidik, kami sangat bersyukur dengan adanya revitalisasi pendidikan yang diterima oleh sekolah kami pada tahun 2025. Maka layanan pendidikan di sekolah kami semakin lebih baik,” kata Jekson.
Menurutnya, keberadaan gedung baru serta sarana-prasarana yang semakin memadai memberikan semangat baru bagi para guru untuk memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada siswa.
Kondisi ruang belajar yang lebih nyaman juga membuat proses belajar mengajar dapat berjalan lebih optimal dibandingkan ketika sekolah masih menghadapi keterbatasan ruangan.
Bagi guru, perubahan fisik sekolah pada akhirnya harus berujung pada peningkatan kualitas pelayanan kepada peserta didik.
Meski revitalisasi telah memberikan dampak besar, Jekson mengatakan masih terdapat sejumlah kebutuhan yang perlu dilengkapi.
Selain pagar untuk meningkatkan keamanan lingkungan sekolah selama 24 jam, sekolah masih membutuhkan laboratorium komputer dan ruang guru.
Fasilitas tersebut dinilai penting untuk menunjang perkembangan pembelajaran sekaligus meningkatkan pelayanan pendidikan.
“Kami mungkin memohon kepada Bapak Presiden melalui Kemendikdasmen untuk sekiranya menyempurnakan hasil revitalisasi yang sudah ada di sekolah kami karena kami masih membutuhkan pagar untuk menjaga keamanan 24 jam. Kami juga masih membutuhkan laboratorium komputer dan ruang guru,” ujar Jekson.
Harapan guru tersebut sejalan dengan aspirasi yang disampaikan komite dan siswa.
Komite menempatkan pagar sebagai kebutuhan penting untuk keamanan, sementara siswa berharap adanya pagar, jaringan internet yang lebih baik dan fasilitas pembelajaran digital.
Tiga Suara, Satu Harapan untuk SDI Naimata
Kesaksian komite, siswa dan guru memperlihatkan bagaimana program revitalisasi memberikan dampak dari berbagai sisi kehidupan sekolah.
Bagi Siprianus Damai Nar dan komite sekolah, revitalisasi telah menumbuhkan semangat partisipasi dan gotong royong untuk ikut melengkapi pembangunan yang dilakukan pemerintah.
Kontribusi berupa pemasangan paving block seluas lebih dari 500 meter persegi dengan nilai yang disebut hampir Rp200 juta menjadi salah satu wujud keterlibatan tersebut.
Bagi Adiba dan Alika, manfaat revitalisasi terasa langsung ketika mereka kini dapat belajar dengan lebih nyaman tanpa menghadapi kondisi pembelajaran hingga tiga shift seperti sebelumnya.
Sementara bagi Jekson Haga dan para guru, fasilitas yang lebih baik memberikan ruang untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan menciptakan proses pembelajaran yang lebih optimal.
Meski demikian, ketiganya juga menyuarakan harapan yang hampir sama: pembangunan sekolah perlu terus disempurnakan.
Pagar keliling, jaringan internet yang memadai, fasilitas pembelajaran digital, laboratorium komputer hingga ruang guru masih menjadi kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhi secara bertahap.
Revitalisasi SDI Naimata pada akhirnya tidak hanya menghadirkan perubahan pada wajah bangunan sekolah.
Program tersebut telah mengubah pengalaman belajar siswa, memberikan semangat baru bagi guru, sekaligus menggerakkan partisipasi masyarakat untuk ikut menjaga dan mengembangkan lingkungan pendidikan.
Dari komite, siswa hingga guru, perubahan itu bermuara pada satu harapan yang sama: SDI Naimata terus berkembang menjadi sekolah yang semakin aman, nyaman, inklusif dan mampu memberikan pendidikan berkualitas bagi setiap anak.
✒️: kl


