Kupang,NTT- Pagi itu, Sabtu (25/7/2026), lorong-lorong Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harapan. Ada yang datang bersama orang tua, ada yang ditemani saudara, dan ada pula yang menempuh perjalanan jauh seorang diri dari pelosok Nusa Tenggara Timur. Mereka membawa tujuan yang sama: mengikuti Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Gelombang III dan membuka lembaran baru sebagai mahasiswa.
Di balik ramainya suasana kampus, tersimpan cerita tentang semangat yang tidak mudah dipatahkan. Sebagian calon mahasiswa bahkan belum berhasil tiba di Kupang. Cuaca yang kurang bersahabat dan keterbatasan jaringan internet di sejumlah daerah membuat mereka belum dapat mengikuti tes, meski keinginan untuk kuliah begitu besar.
Ketua Panitia PMB Gelombang III UPG 1945 NTT, Heny A. Raga, S.P., M.P., mengaku bersyukur karena minat masyarakat terhadap kampus tersebut terus meningkat. Hingga pelaksanaan tes, jumlah pendaftar telah mencapai lebih dari 700 orang.
Namun, angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada ratusan kisah tentang anak-anak muda yang ingin mengubah masa depan melalui pendidikan.
"Kami menerima banyak informasi dari calon mahasiswa yang tidak bisa hadir karena cuaca dan kendala sinyal, terutama dari daerah-daerah terpencil. Karena itu kami memutuskan memberikan kesempatan tes susulan agar mereka tetap bisa mengikuti seleksi," ujar Heny.
Keputusan membuka tes susulan pada awal hingga pertengahan Agustus menjadi bentuk kepedulian kampus agar tidak ada mimpi yang berhenti hanya karena hujan atau lemahnya jaringan internet.
Bagi UPG 1945 NTT, kesempatan untuk belajar tidak boleh ditentukan oleh letak geografis.
Tingginya animo masyarakat juga terlihat dari hasil PMB Gelombang I dan II. Lebih dari seribu calon mahasiswa telah melakukan pendaftaran ulang. Bagi panitia, capaian itu menjadi bukti bahwa kepercayaan masyarakat terhadap UPG terus tumbuh.
Di tengah persaingan perguruan tinggi swasta yang semakin ketat, UPG memilih jalan yang berbeda. Kampus ini, kata Heny, tidak menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama.
"Kami ingin membangun kualitas generasi muda NTT agar mampu bersaing. Karena itu kami berupaya menghadirkan pendidikan yang bermutu, dosen yang kompeten, serta biaya kuliah yang tetap terjangkau," katanya.
Salah satu layanan yang membuat banyak orang tua merasa tenang adalah adanya jaminan kesehatan bagi mahasiswa. Bahkan ketika mahasiswa mengalami musibah, kampus berkomitmen memberikan pendampingan kepada keluarga.
Di antara ratusan peserta tes hari itu, Yasinta Wilmunenam tampak optimistis. Perempuan yang akrab disapa Sinta itu memilih Program Studi Bimbingan dan Konseling karena terinspirasi oleh cerita para guru yang merupakan alumni UPG 1945 NTT.
Baginya, memilih kampus bukan hanya soal gedung atau fasilitas, tetapi juga tentang keyakinan bahwa tempat tersebut mampu membentuk masa depannya.
Tidak jauh dari Sinta, Mawar Marta Ndun asal Desa Oebobo, Kecamatan Batu Putih, juga membawa mimpi yang sederhana namun kuat. Ia ingin menjadi guru Bahasa Inggris.
Keputusannya tidak lahir begitu saja. Sang kakak yang merupakan alumni UPG dan kini mengajar sebagai guru Bahasa Inggris menjadi inspirasi terbesar.
Cerita sang kakak tentang dosen yang ramah, suasana belajar yang nyaman, serta peluang kerja setelah lulus membuat Mawar mantap memilih kampus yang sama.
Di tengah derasnya perubahan zaman, kisah-kisah seperti Sinta dan Mawar menjadi pengingat bahwa pendidikan tetap menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik.
UPG 1945 NTT pun tampaknya ingin menjadi bagian dari perjalanan itu. Bukan hanya menerima mahasiswa baru, tetapi ikut menjemput mimpi anak-anak muda dari desa, dari pulau-pulau kecil, hingga dari pelosok Nusa Tenggara Timur.
Sebab bagi mereka, setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermimpi. Dan ketika kesempatan itu dibuka lebih lebar, ratusan langkah akan terus berdatangan menuju kampus, membawa harapan baru bagi diri sendiri, keluarga, dan daerah yang mereka cintai.
✒️: kl
