Kupang,NTT, 26 Juli 2026- Setiap politisi memiliki tokoh yang dijadikan kompas. Ada yang belajar dari buku, ada yang belajar dari pidato, dan ada pula yang belajar dari perjalanan hidup seorang pemimpin.
Bagi Simson Polin, kompas itu bernama Joko Widodo.
Sejak 2014, ketika Jokowi melangkah menuju Istana Negara, Simson memantapkan langkahnya memasuki dunia politik. Di matanya, Jokowi bukan sekadar kandidat presiden, melainkan simbol bahwa politik tidak harus dimulai dari ruang-ruang elite, tetapi bisa lahir dari lorong pasar, gang kampung, hingga denyut kehidupan rakyat biasa.
Karena itu, kabar kedatangan Presiden ke-7 RI ke Kupang pada 31 Juli hingga 2 Agustus menjadi momen yang sangat dinantikannya.
"Saya sangat kangen dan rindu bertemu kembali dengan Bapak Jokowi," ujar Simson.
Kerinduan itu bukan sekadar ingin bersalaman dengan mantan presiden. Bagi Simson, itu adalah kerinduan bertemu sosok yang telah membentuk cara pandangnya tentang politik.
Ia menyebut Jokowi sebagai "Sang Maestro Politik Indonesia."
Bukan karena gelar, bukan pula karena kekuasaan, melainkan karena rekam jejak yang menurutnya sulit diperdebatkan.
Lima kali mengikuti kontestasi politik. Lima kali meraih kemenangan. Tidak pernah kalah.
Menurut Simson, catatan itu bukan hanya statistik, tetapi bukti bahwa kepercayaan rakyat tidak lahir dari retorika semata.
"Bagi saya, beliau mengajarkan bahwa kepercayaan rakyat dibangun dengan kerja, bukan hanya dengan kata-kata," ungkapnya.
Sejak memutuskan terjun ke dunia politik pada 2014, Simson mengaku terus menjadikan gaya kepemimpinan Jokowi sebagai inspirasi. Politik, menurutnya, bukan sekadar berbicara keras di podium, tetapi berani hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan, lalu mencari jalan keluar.
Di tengah kerasnya kompetisi politik Indonesia, Simson melihat Jokowi sebagai tokoh yang berhasil membalik anggapan bahwa hanya elite lama yang mampu memenangkan pertarungan politik nasional.
Dari Solo menuju Jakarta, lalu ke Istana Negara, perjalanan itu menjadi bukti bahwa kerja nyata dapat menjadi bahasa politik yang dipahami rakyat.
Karena itulah, bagi Simson, kedatangan Jokowi ke Kupang bukan sekadar agenda kunjungan.
Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk kembali bertemu dengan sosok yang sejak lebih dari satu dekade lalu menjadi panutan dalam perjalanan politiknya.
"Bertemu beliau selalu memberi semangat baru bagi saya untuk terus bekerja bagi masyarakat," katanya.
Di mata Simson Polin, politik bukan sekadar soal menang atau kalah.
Politik adalah tentang menjaga kepercayaan.
Dan hingga hari ini, ia masih menempatkan Jokowi sebagai figur yang mengajarkannya bahwa kekuasaan bisa diraih dengan kerja keras, tetapi kepercayaan rakyat hanya bisa dipertahankan dengan kerja nyata.
✒️: kl
