Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Setelah IKK Nita Mangkrak, Mata Air Hibah Suitbertus Amandus Jadi Harapan Baru Rotat

Kamis, 16 Juli 2026 | Juli 16, 2026 WIB Last Updated 2026-07-16T09:18:40Z


Maumere, NTT – Puluhan tahun masyarakat Kampung Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, hidup dalam keterbatasan air bersih. Harapan mereka sempat bertumpu pada Proyek IKK Nita yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Namun proyek tersebut akhirnya mangkrak, dan penanganan hukumnya telah berjalan dengan beberapa pihak ditetapkan sebagai tersangka. Hingga kini, masyarakat Kampung Rotat belum merasakan manfaat yang diharapkan dari proyek tersebut.


Akibat belum tersedianya akses air bersih, selama bertahun-tahun masyarakat Kampung Rotat terpaksa mengandalkan pasokan air menggunakan mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu menjadi beban tersendiri karena warga harus membeli air dengan harga yang relatif tinggi, sehingga tidak sedikit keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.


Di tengah penantian panjang itu, harapan justru datang dari aksi kemanusiaan. Ketika banyak orang memilih mempertahankan apa yang dimilikinya, Suitbertus Amandus (SP2000) bersama keluarga mengambil keputusan yang menyentuh hati dengan menghibahkan Mata Air "Koja" yang berada di lahan miliknya untuk dimanfaatkan masyarakat Kampung Rotat.


Hibah tersebut menjadi jawaban atas kerinduan warga yang selama puluhan tahun hidup dalam kesulitan memperoleh air bersih.


Mata Air "Koja" bukan hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan harapan baru bagi masyarakat.


Yang lebih menginspirasi, perjuangan menghadirkan air bersih ini bukan proyek pemerintah dan bukan hasil bantuan lembaga mana pun. Seluruh pekerjaan dilakukan murni melalui swadaya masyarakat.


Suitbertus Amandus bersama Yakobus Jano secara sukarela mengeluarkan dana pribadi untuk membeli 500 batang pipa sebagai material utama pembangunan jaringan air bersih.


Selanjutnya, masyarakat Kampung Rotat bergotong royong mendistribusikan seluruh pipa ke lokasi pekerjaan dengan cara dipikul sejauh kurang lebih tiga kilometer, melintasi sungai, jalan setapak, dan perbukitan yang terjal.


Di sisi lain, masyarakat Kampung Nilo, Desa Wuliwutik, juga mengambil bagian dalam perjuangan tersebut. Dengan semangat gotong royong, mereka secara sukarela memasang seluruh instalasi jaringan pipa hingga air dari Mata Air "Koja" dapat mengalir menuju Kampung Rotat.


Pekerjaan diawali pada Rabu, 15 Juli 2026, dengan Ibadat Sabda yang dipimpin Pastor Paroki Nita sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus memohon penyertaan-Nya agar seluruh pekerjaan berjalan lancar


Memasuki hari kedua, progres pemasangan jaringan pipa menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan.


Jalur pipa telah mencapai titik pertengahan, bahkan Kampung Rotat sudah terlihat jelas dari lokasi pekerjaan. Artinya, sumber air dari Mata Air "Koja" kini tinggal selangkah lagi mencapai kampung yang selama puluhan tahun mendambakan air bersih.


Bagi masyarakat, pemandangan itu bukan sekadar melihat kampung dari kejauhan, tetapi menjadi tanda bahwa penantian panjang mereka segera berakhir. Air yang selama ini hanya menjadi impian kini semakin dekat untuk mengalir ke rumah-rumah warga, sekaligus mengakhiri ketergantungan masyarakat pada pasokan air tangki yang selama ini harus dibeli dengan biaya mahal.


Setiap batang dari 500 pipa yang dipikul melewati sungai dan perbukitan menjadi saksi semangat gotong royong masyarakat. Setelah harapan terhadap Proyek IKK Nita belum terwujud, warga memilih bangkit dengan kemampuan sendiri. Tanpa menunggu bantuan, mereka membuktikan bahwa persatuan dan kepedulian mampu menghadirkan solusi nyata bagi kampung mereka.


Mewakili seluruh masyarakat Kampung Rotat, perwakilan warga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Suitbertus Amandus beserta keluarga serta Yakobus Jano atas ketulusan dan pengorbanan mereka.


"Kami tidak memiliki balasan yang sebanding dengan kebaikan Bapak Suitbertus Amandus, keluarga, dan Bapak Yakobus Jano. Yang dapat kami berikan hanyalah doa. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan kesehatan, umur panjang, rezeki yang berlimpah, serta kebahagiaan kepada mereka. Kebaikan ini akan selalu kami kenang dan akan terus mengalir bersama setiap tetes air yang dinikmati masyarakat Kampung Rotat," ungkap perwakilan warga dengan penuh haru.


Perjuangan ini menjadi bukti bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari proyek bernilai miliaran rupiah. Di Kampung Rotat, harapan justru mengalir dari ketulusan seorang warga yang menghibahkan mata air, dari 500 batang pipa yang dibeli dengan dana pribadi, serta dari semangat gotong royong masyarakat Kampung Rotat dan Kampung Nilo yang bekerja tanpa pamrih demi menghadirkan air bersih bagi sesama.


Ketika sebuah proyek belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat, kepedulian dan kebersamaan berhasil menghadirkan harapan baru. Bersama setiap tetes air yang kelak mengalir dari Mata Air "Koja", akan mengalir pula kisah tentang pengorbanan, persaudaraan, dan kemanusiaan yang akan terus dikenang oleh masyarakat Kampung Rotat.

✒️; Albert Cakramento