KUPANG, NTT – SMKN 7 Kupang terus memperkuat perannya sebagai sekolah vokasi kemaritiman di Nusa Tenggara Timur. Memasuki usia ke-14 tahun, sekolah ini tidak hanya fokus mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga membangun koneksi dengan dunia industri agar para siswa memiliki peluang kerja yang luas setelah menyelesaikan pendidikan.
Kepala SMKN 7 Kupang, Mursalin Ngala, mengatakan selama 14 tahun berdiri sekolah terus berkembang dengan menghadirkan kompetensi keahlian yang sesuai dengan kebutuhan industri kemaritiman.
"Sudah 14 tahun SMK 7 berdiri. Jurusan yang ada di sini untuk bidang kemaritiman ada tiga, yaitu Nautika Kapal Niaga, Teknika Kapal Niaga, dan Nautika Kapal Penangkapan Ikan. Sedangkan di bidang teknologi informasi ada Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Jadi total ada empat kompetensi keahlian," ujar Mursalin, Kamis (16/7/2026).
Ia menjelaskan, hingga saat ini jumlah peserta didik terus bertambah meski rombongan belajar (rombel) belum sepenuhnya terpenuhi sesuai ketentuan. Saat ini jumlah siswa mencapai sekitar 336 orang.
Menurutnya, dibandingkan jurusan lain, bidang kemaritiman masih menjadi pilihan utama masyarakat.
"Minat yang paling tinggi itu di bidang kemaritiman. Karena memang kita satu-satunya SMK negeri kemaritiman di Kota Kupang. Yang paling diminati itu Nautika Kapal Niaga, bahasa kerennya belajar menjadi nakhoda kapal. Yang kedua Teknika Kapal Niaga, mereka belajar seluruh sistem permesinan kapal. Sedangkan Nautika Kapal Penangkapan Ikan, selain belajar menjadi nakhoda, mereka juga mempelajari alat tangkap, teknik penangkapan ikan, sampai bagaimana mengoperasikan kapal penangkap ikan. Jadi mereka belajar dobel," jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui minat masyarakat terhadap pendidikan kemaritiman dalam lima tahun terakhir belum mengalami peningkatan yang signifikan.
"Kelihatannya masih tetap, belum bergerak naik. Mungkin orang masih berpikir kalau kerja di laut itu berbahaya atau takut kecelakaan. Padahal peluang kerja lulusan SMK itu ada tiga, yaitu bekerja, melanjutkan pendidikan, dan berwirausaha," katanya.
Untuk meningkatkan kualitas lulusan, SMKN 7 Kupang terus melengkapi sarana pembelajaran.
Mursalin mengatakan sekolah memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) pada tahun 2022 yang digunakan untuk melengkapi laboratorium, bengkel praktik hingga simulator kemaritiman.
"Kita bersyukur tahun 2022 mendapatkan Dana DAK. Selain melengkapi fasilitas laboratorium dan bengkel, yang paling penting adalah simulator kemaritiman. Kita punya dua simulator, simulator Nautika sendiri dan simulator Nautika Kapal Penangkapan Ikan sendiri. Itu kekuatan kita," ujarnya.
Menurutnya, keberadaan simulator tersebut menjadi nilai tambah karena siswa dapat belajar mengoperasikan kapal dan memahami kondisi pelayaran menggunakan teknologi modern sebelum menjalani praktik di lapangan.
Selain fasilitas, SMKN 7 Kupang juga didukung tenaga pendidik yang memiliki latar belakang sesuai bidang kemaritiman.
"Kawan-kawan guru memang basic-nya di bidang nautika, teknika maupun penangkapan ikan. Itu menjadi kekuatan kita sehingga pembelajaran benar-benar sesuai kebutuhan industri," katanya.
Untuk memperkenalkan sekolah kepada masyarakat, pihak sekolah rutin melakukan promosi ke SMP-SMP serta berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.
"Kita mencoba menyampaikan kepada sekolah-sekolah pendamping bagaimana kalau belajar di SMKN 7. Paling tidak masyarakat tahu peluang kerja yang dimiliki sekolah ini," ujarnya.
Mursalin mengungkapkan, selama dirinya memimpin sekolah, kerja sama dengan berbagai perusahaan pelayaran terus diperkuat.
Saat siswa menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL), banyak perusahaan langsung melakukan penilaian terhadap kemampuan mereka.
"Jualan kita itu pada saat anak-anak PKL. Mereka praktik di perusahaan, kemudian sebelum kembali ke sekolah sudah ada yang ditawari kontrak kerja. Itu hampir setiap tahun seperti itu," ungkapnya.
Berdasarkan data sekolah, hingga saat ini terdapat sekitar 261 alumni yang telah bekerja di berbagai perusahaan pelayaran maupun industri maritim.
"Data yang kita punya sekitar 261 alumni sudah bekerja. Sebenarnya lebih dari itu, tetapi banyak yang setelah tamat ganti nomor HP sehingga sulit kita lacak. Ada yang masih kasih kabar kalau mereka sudah bekerja di perusahaan tertentu dan menyampaikan gajinya," katanya.
Menurut Mursalin, setiap tahun juga terdapat sekitar 20 tawaran kerja yang masuk langsung ke SMKN 7 Kupang dari perusahaan pelayaran.
"Tawaran dari industri hampir setiap tahun sekitar 20-an. Terlepas ada juga anak-anak yang langsung berkomunikasi sendiri dengan perusahaan tempat mereka PKL," ujarnya.
Ia menjelaskan, lulusan SMKN 7 Kupang saat ini bekerja di berbagai perusahaan pelayaran swasta di Semarang, Surabaya, Makassar, hingga daerah lainnya.
Selain itu, sistem pendidikan semi-militer yang diterapkan sekolah juga membuat banyak lulusan diterima di TNI Angkatan Laut, Kepolisian, maupun TNI Angkatan Darat.
Mursalin menjelaskan bahwa sistem pendidikan di SMKN 7 Kupang memang dirancang agar peserta didik siap memasuki dunia kerja sejak masih berada di bangku sekolah.
Menurutnya, praktik kerja lapangan (PKL) menjadi salah satu pintu utama bagi siswa untuk dikenal oleh perusahaan pelayaran.
"Pada saat anak-anak melaksanakan praktik, perusahaan sudah melihat bagaimana kemampuan mereka. Sebelum mereka kembali ke sekolah, sudah ada yang dikontrak. Itu yang kita harapkan, sehingga setelah tamat mereka tidak menganggur, tetapi langsung bekerja di kapal atau perusahaan yang bersangkutan," ujarnya.
Ia mengatakan lulusan SMKN 7 Kupang tidak hanya bekerja di perusahaan pelayaran swasta, tetapi juga memiliki peluang besar diterima di institusi pemerintah.
"Karena kita semi-militer. Anak-anak kita dibina fisiknya. Maka hampir setiap tahun ada yang masuk Angkatan Laut, ada yang masuk Kepolisian, ada juga yang masuk Angkatan Darat. Itu karena memang pembinaan karakter dan disiplin mereka sudah dibentuk sejak di sekolah," katanya.
Meski demikian, Mursalin mengakui masih ada tantangan yang harus segera diselesaikan agar daya saing lulusan semakin meningkat.
Salah satu tantangan terbesar adalah belum tersedianya pusat penerbitan sertifikat pelaut atau approval di SMKN 7 Kupang.
Padahal, menurutnya, sertifikat tersebut menjadi syarat utama bagi lulusan yang ingin bekerja di kapal.
"Yang sekarang kita lagi godok itu approval atau sertifikat laut. Anak-anak sekarang memang tamat dapat ijazah, tetapi untuk bekerja di kapal mereka juga harus punya sertifikat pelaut. Itu yang sedang kita perjuangkan supaya ada di SMKN 7," jelasnya.
Ia menilai banyak masyarakat yang masih mempertanyakan mengapa lulusan SMKN 7 belum semuanya langsung bekerja di kapal.
Menurutnya, persoalan utama bukan pada kemampuan siswa, melainkan karena sertifikat pelaut tersebut belum dapat diterbitkan langsung di sekolah.
"Banyak orang bilang, kalau sekolah di sini tetapi tidak dapat sertifikat pelaut, nanti kerja bagaimana. Itu memang yang sedang kita perjuangkan. Harapan saya ke depan harus ada tempat diklat dan approval di SMKN 7 sehingga anak-anak tidak hanya pegang ijazah, tetapi juga langsung memiliki sertifikat pelaut," ujarnya.
Mursalin mengatakan keberadaan simulator modern menjadi salah satu alasan perusahaan tertarik menerima lulusan SMKN 7 Kupang.
"Simulator itu yang mereka lihat. Anak-anak sudah terbiasa menggunakan alat-alat yang sama seperti di kapal. Itu menjadi nilai tambah kita," katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa pendidikan kemaritiman saat ini tidak lagi mengandalkan cara-cara tradisional.
"Kalau dulu orang lihat angin atau lihat ombak, sekarang semua menggunakan teknologi. Anak-anak belajar arah kapal, navigasi, alat tangkap modern, kondisi laut, semuanya menggunakan teknologi. Itu yang dipelajari di SMKN 7," jelasnya.
Menurut Mursalin, letak geografis Nusa Tenggara Timur yang merupakan daerah kepulauan menjadi alasan kuat mengapa generasi muda perlu memanfaatkan peluang di sektor kemaritiman.
"Kalau melihat wilayah NTT, peluang kerja di laut sangat besar. Makanya kita berharap masyarakat melihat bahwa sekolah kemaritiman itu masa depannya bagus," katanya.
Saat ini peserta didik SMKN 7 Kupang berasal dari berbagai kabupaten di NTT.
"Ada yang dari Rote, Alor, Adonara, Flores Timur dan daerah-daerah lain. Tetapi memang mayoritas masih dari Kota Kupang dan daerah sekitar," ujarnya.
Mursalin juga menjelaskan bahwa banyak masyarakat menganggap biaya masuk SMKN 7 mahal.
Menurutnya, biaya tersebut sebenarnya lebih banyak digunakan untuk perlengkapan pribadi siswa yang menjadi tuntutan dunia industri.
"Kita memang menggunakan pakaian khusus. Ada pakaian dinas harian, pakaian upacara, sepatu sampai atribut lengkap. Nilainya memang sekitar Rp3 juta lebih karena itu perlengkapan pribadi siswa. Itu sesuai Pergub Nomor 53 Tahun 2025 dan bukan pungutan sekolah," jelasnya.
Ia menambahkan, penggunaan seragam tersebut bukan tanpa alasan.
Menurutnya, budaya disiplin harus dibangun sejak di lingkungan sekolah agar siswa tidak mengalami kesulitan ketika memasuki dunia kerja.
"Kalau mereka nanti praktik atau bekerja di kapal, mereka memang menggunakan pakaian seperti itu. Jadi kita biasakan dari sekolah supaya mereka siap ketika masuk industri," katanya.
Ke depan, SMKN 7 Kupang akan terus memperkuat kualitas tenaga pendidik, meningkatkan kemampuan guru dalam mengoperasikan simulator, memperluas kerja sama dengan industri pelayaran, serta memperjuangkan hadirnya pusat sertifikasi pelaut di sekolah.
"Kita ingin output kita benar-benar dipakai oleh industri. Kalau masyarakat mendukung SMKN 7, berarti mereka juga mendukung lahirnya lulusan yang siap kerja. Itu yang terus kita perjuangkan," ujar Mursalin.
Ia berharap semakin banyak orang tua tidak lagi ragu menyekolahkan anaknya di SMKN 7 Kupang karena peluang kerja di sektor kemaritiman masih sangat besar.
"Kita berharap masyarakat melihat bahwa lulusan SMKN 7 bukan hanya bisa bekerja di kapal, tetapi juga bisa melanjutkan kuliah, berwirausaha, bahkan menjadi anggota TNI maupun Polri. Itu yang menjadi kekuatan sekolah kami," pungkasnya.
✒️: kl
