Manggarai Timur, NTT, 19 Agustus 2026 — Di tengah suasana duka dan trauma yang masih menyelimuti warga Flores pascagempa, kehadiran Ganjar Pranowo di sejumlah wilayah terdampak menjadi perhatian.
Ganjar yang kini berstatus sebagai mantan calon presiden, tiba di wilayah Flores pada 16 Agustus 2026 sore. Kehadirannya bukan dalam kapasitas sebagai pejabat negara, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Setibanya di Flores, Ganjar langsung bergerak menuju sejumlah wilayah terdampak. Ia menyambangi Manggarai Barat dan pada 17 Agustus melanjutkan perjalanan menuju Manggarai.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut hingga Kelurahan Nanga Remang, Kabupaten Manggarai Timur, salah satu wilayah yang turut merasakan dampak gempa.
Yang menarik, Ganjar tiba di lokasi sekitar pukul 00.40 WITA. Waktu sudah memasuki tengah malam, namun ia tetap memilih berada di tengah-tengah warga yang mengungsi.
Di bawah tenda darurat, Ganjar duduk bersama para korban. Didampingi Ketua DPC PDI Perjuangan Manggarai Timur, ia berbincang langsung dengan warga, mendengarkan cerita dan keluhan mereka serta memberikan dukungan moral.
Tidak ada suasana seremoni. Tidak ada panggung. Tidak ada pidato panjang.
Ganjar lebih banyak mendengarkan.
Di tengah wajah-wajah warga yang masih dibayangi trauma, ia berusaha mencairkan suasana. Percakapan sederhana bahkan mampu menghadirkan senyum dan tawa di tengah suasana pengungsian.
Bagi warga yang sedang menghadapi ketakutan dan kehilangan, kehadiran seperti itu memiliki arti tersendiri.
Ganjar bukan lagi presiden. Ia bukan gubernur, bukan bupati, dan bukan camat.
Tidak ada kewajiban formal yang mengharuskannya berada di tengah tenda pengungsian tersebut.
Namun ia datang.
Di sinilah makna kehadirannya kemudian menjadi menarik untuk direnungkan.
Dalam situasi bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan berupa makanan, air bersih, obat-obatan, terpal maupun kebutuhan dasar lainnya. Mereka juga membutuhkan dukungan psikologis dan rasa bahwa penderitaan mereka tidak dilupakan.
Kehadiran seorang tokoh yang mau duduk bersama mereka, mendengarkan cerita dan memberikan semangat, menjadi bentuk dukungan yang tidak kalah penting.
Ganjar datang tanpa membawa jabatan.
Ia datang sebagai manusia yang ingin bertemu dengan manusia lainnya yang sedang mengalami penderitaan.
Kehadiran Ganjar tentu tidak bisa dilepaskan dari berbagai tafsir. Dalam ruang politik, setiap langkah seorang tokoh selalu dapat dibaca dari berbagai sudut pandang.
Ada yang melihatnya sebagai bentuk kepedulian. Ada pula yang mungkin menganggapnya sebagai pencitraan.
Namun di tengah semua perdebatan itu, ada satu kenyataan yang tidak boleh dilupakan: para korban gempa tetap membutuhkan perhatian dan dukungan.
Saat media sosial dipenuhi perdebatan mengenai siapa yang paling peduli, para pengungsi tetap harus menghadapi malam di bawah tenda.
Saat orang-orang berdebat mengenai politik, masih ada keluarga yang takut kembali ke rumah.
Dan saat sebagian orang berbicara dari kejauhan, Ganjar memilih menempuh perjalanan dan duduk langsung bersama warga.
Terlepas dari bagaimana publik menilai langkah tersebut, kehadiran di tengah masyarakat yang sedang berduka tetap memiliki makna kemanusiaan.
Kunjungan Ganjar ke Nanga Remang juga menyisakan satu pertanyaan sederhana: ketika seseorang tidak lagi memegang jabatan, apakah ia masih mau hadir untuk rakyat?
Sebab jabatan memiliki masa berlaku. Kekuasaan bisa berganti. Kontestasi politik bisa dimenangkan atau dikalahkan.
Tetapi kepedulian terhadap sesama seharusnya tidak mengenal batas waktu.
Bagi sebagian warga, mungkin kunjungan itu hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi penuh ketakutan, seseorang yang mau datang, duduk, mendengarkan dan memberikan semangat dapat menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian menghadapi bencana.
Pada akhirnya, masyarakat mungkin tidak selalu mengingat siapa yang datang dengan rombongan paling besar atau memberikan pidato paling panjang.
Tetapi mereka akan mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka sedang berada dalam keadaan paling sulit.
Ganjar mungkin tidak datang membawa jabatan. Tetapi ia datang membawa kepedulian.
Dan di tengah Flores yang sedang berduka, terkadang sebuah kehadiran sederhana justru mampu berbicara lebih keras daripada seribu kata.
Karena ketika rakyat sedang menderita, yang paling penting bukan siapa yang paling tinggi jabatannya, melainkan siapa yang bersedia datang dan berdiri bersama mereka.
