Maumere, NTT, 17 Agustus 2026 — Sekitar 1.500 warga masih bertahan di lokasi pengungsian Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, setelah gempa mengguncang wilayah tersebut. Di tengah kebutuhan makanan dan bantuan dasar, dapur umum PDI Perjuangan mulai beroperasi melayani pengungsi, sementara Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi meminta anak-anak tetap diajak berkegiatan agar tidak larut dalam trauma akibat bencana.
Bagi sebagian warga Nangahale, gempa kali ini bukan sekadar guncangan. Peristiwa tersebut kembali membangkitkan ingatan terhadap tragedi gempa dan tsunami Pulau Babi pada 1992 yang meninggalkan trauma bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Ketakutan semakin terasa ketika gempa susulan kembali terjadi. Warga memilih bertahan di lokasi terbuka dan pengungsian karena khawatir kembali masuk ke rumah, terutama di tengah kondisi bangunan yang belum sepenuhnya dipastikan aman.
Memasuki hari kedua di lokasi pengungsian, kondisi warga mulai menunjukkan berbagai dampak. Sedikitnya 15 anak-anak dilaporkan telah dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan kesehatan.
Di tengah kondisi tersebut, PDI Perjuangan membuka dapur umum di Desa Nangahale.
Dapur umum tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan makanan para pengungsi yang jumlahnya mencapai sekitar 1.500 orang.
Aktivitas memasak dan pelayanan makanan menjadi salah satu bentuk dukungan bagi warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian dan membutuhkan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat.
Kehadiran dapur umum diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat, terutama mereka yang tidak lagi dapat menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal akibat bencana.
Ketua DPRD Kabupaten Sikka sekaligus Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, Stefanus Sumandi, datang langsung ke lokasi pengungsian Nangahale.
Stefanus membawa bantuan sembako sekaligus melihat kondisi masyarakat yang masih bertahan di tempat pengungsian.
Namun, perhatian Stefanus tidak hanya tertuju pada persoalan logistik.
Ia juga menyoroti kondisi psikologis anak-anak yang berada di pengungsian. Menurutnya, anak-anak membutuhkan perhatian khusus agar tidak terus berada dalam suasana ketakutan akibat gempa.
Stefanus meminta apabila terdapat guru di lokasi pengungsian, mereka dapat mengambil peran dengan mengajak anak-anak melakukan berbagai aktivitas positif.
«“Kalau ada guru di lokasi pengungsian, saya minta anak-anak diajak melakukan kegiatan. Mereka bisa bermain, belajar atau melakukan aktivitas bersama, sehingga perhatian mereka tidak terus tertuju pada rasa takut dan trauma,” demikian pesan Stefanus.»
Menurutnya, kegiatan sederhana seperti bermain, belajar, menggambar atau aktivitas bersama dapat membantu anak-anak mengalihkan perhatian dari situasi bencana yang mereka alami.
Pendampingan tersebut juga dinilai penting karena anak-anak merupakan kelompok yang rentan mengalami tekanan psikologis setelah menghadapi peristiwa bencana.
Kondisi kesehatan warga juga menjadi perhatian di lokasi pengungsian.
Memasuki hari kedua, sedikitnya 15 anak-anak telah dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan kesehatan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam penanganan warga terdampak gempa.
Selain pelayanan kesehatan, kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, tempat berteduh dan perlengkapan tidur juga masih diperlukan oleh para pengungsi.
Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, S.Sos, turut memberikan penjelasan mengenai kondisi masyarakat di wilayahnya.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi untuk masyarakat yang bertahan di lokasi pengungsian.
Warga masih mengeluhkan kekurangan terpal, tenda, selimut dan air bersih.
Bantuan dari pemerintah melalui pihak kecamatan disebut telah tersedia. Namun, bantuan tersebut dinilai belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan sekitar 1.500 warga yang masih berada di lokasi pengungsian.
Karena itu, dukungan dari berbagai pihak masih dibutuhkan agar kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi selama masa tanggap darurat.
Kondisi di Nangahale memperlihatkan bahwa penanganan pascagempa tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan logistik.
Warga membutuhkan tempat aman, makanan, air bersih dan pelayanan kesehatan. Pada saat yang sama, anak-anak juga membutuhkan pendampingan agar mereka dapat menghadapi rasa takut dan trauma akibat bencana.
Dapur umum PDI Perjuangan menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap kebutuhan makanan warga. Sementara perhatian terhadap aktivitas anak-anak menjadi bagian lain dari upaya menjaga kondisi psikologis masyarakat selama berada di pengungsian.
Di tengah trauma yang kembali menghantui warga Nangahale, dapur PDIP terus mengepul untuk melayani para pengungsi.
Bagi warga, bantuan makanan memang penting. Namun, di balik kebutuhan tersebut terdapat kebutuhan lain yang tidak kalah penting, yakni rasa aman, perhatian, pendampingan dan harapan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Khusus bagi anak-anak, aktivitas bermain dan belajar di tengah pengungsian diharapkan dapat menjadi ruang untuk mengurangi ketakutan sekaligus menjaga semangat mereka selama menghadapi masa sulit akibat bencana.
