Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Rumah Retak, Warga Madawat Mengadu: “Kami Tidur dan Masak di Luar”

Kamis, 27 Agustus 2026 | Agustus 27, 2026 WIB Last Updated 2026-08-27T10:48:33Z

 



Maumere, NTT, 27 Agustus 2026 — Tangisan dan keluhan warga terdampak gempa kembali terdengar. Kali ini datang dari warga RT 3, RW 8, Kelurahan Madawat, Kabupaten Sikka, yang mengaku hingga kini belum mendapatkan perhatian maupun bantuan pemerintah, meski rumah mereka mengalami kerusakan akibat gempa pada 15 Agustus 2026.


Sejumlah ibu-ibu mendatangi Posko Pengaduan Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami.


Rumah retak, rasa takut masih menghantui, sementara aktivitas sehari-hari terpaksa dilakukan di luar rumah.


“Sejak gempa kami masak dan tidur di luar rumah,” ungkap salah seorang warga.


Salah satu warga, Maria Ivoni, mengatakan warga sebenarnya telah berusaha menyampaikan persoalan tersebut melalui ketua RT. Namun, menurutnya, hingga kini belum ada pendataan terhadap rumah-rumah warga yang terdampak.


“RT tidak melakukan pendataan. Kemarin kami mengadu ke kelurahan, pihak kelurahan mengatakan mereka tidak menerima pengaduan langsung dari warga. Seharusnya ketua RT yang pergi ke rumah warga untuk mendata,” ujar Maria Ivoni.

 

Menurut warga, terdapat sekitar 30 kepala keluarga (KK) di wilayah RT 3, RW 8 yang terdampak gempa dan membutuhkan perhatian.


Persoalan tersebut semakin membuat warga kecewa karena hingga kini mereka mengaku belum pernah menerima bantuan. Kerusakan rumah membuat mereka tidak lagi merasa aman untuk menjalankan aktivitas di dalam rumah.


Warga mengatakan, sejak awal mereka telah mencoba menyampaikan keluhan kepada pihak RT. Namun karena merasa tidak mendapatkan respons, Yuven Fernandes kemudian mengusulkan agar warga mendatangi Posko Pengaduan AWAS untuk menyampaikan langsung kondisi yang mereka alami.


Bagi warga, gempa tidak hanya meninggalkan retakan pada dinding rumah, tetapi juga berdampak pada kehidupan ekonomi keluarga.


Rasa takut dan kondisi rumah yang tidak nyaman membuat aktivitas bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar ikut terganggu.


“Tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah. Kami tidak pernah mendapat bantuan,” keluh warga.


Kini warga meminta pemerintah segera turun ke lapangan untuk melihat kondisi rumah secara langsung, melakukan pendataan kerusakan, serta memberikan bantuan kepada keluarga yang benar-benar terdampak.


Warga menegaskan, mereka tidak ingin sekadar didata di atas kertas. Mereka ingin pemerintah hadir, melihat kondisi mereka secara langsung, dan memberikan solusi nyata.


Lima warga yang datang menyampaikan pengaduan ke Posko AWAS masing-masing Maria Ivoni, Maria Benedikta, Agnes Jato, Ester Naomi Sola, dan Maria Selviana.


Gempa boleh berlalu, tetapi bagi warga Madawat, rasa takut belum selesai. Di rumah-rumah yang retak itu, mereka masih memilih tidur dan memasak di luar demi keselamatan keluarga.

✒️: Albert Cakramento