Maumere, NTT — Di saat sebagian warga korban gempa masih bertahan secara mandiri dan menunggu uluran bantuan, Dapur BAGUNA PDI Perjuangan memilih turun langsung ke tengah masyarakat.
Minggu, 16 Agustus 2026, tim BAGUNA menyisir sejumlah titik pengungsian mandiri di wilayah Kabupaten Sikka. Mereka mendatangi warga yang memilih bertahan bersama keluarga di lokasi-lokasi pengungsian tanpa bergantung pada posko resmi.
Aksi solidaritas ini dipimpin langsung Ketua DPRD Kabupaten Sikka Stefanus Sumandi, bersama anggota Alfonsus Ambrosius dan Darius Evensius dari PDI Perjuangan.
Mereka tidak datang dengan tangan kosong.
Dari Dapur BAGUNA di Sekretariat PDI Perjuangan, Jalan Wairklau, Maumere, makanan siap santap disiapkan dan kemudian dibawa langsung ke sejumlah titik pengungsian mandiri.
Satu per satu warga didatangi. Makanan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, sementara tim juga mendengarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Namun ada pesan penting yang turut disampaikan BAGUNA kepada para pengungsi.
Warga diminta segera melaporkan dan mendata diri melalui pemerintah setempat, khususnya melalui kelurahan masing-masing.
Pendataan menjadi penting agar masyarakat yang terdampak, termasuk mereka yang mengungsi secara mandiri, dapat tercatat secara resmi dan tidak terlewat dalam proses penyaluran bantuan pemerintah.
Sebab, tidak semua korban bencana berada di posko resmi. Ada warga yang memilih mengungsi di halaman rumah, tempat terbuka, fasilitas umum, maupun lokasi lainnya secara mandiri.
Karena itu, keberadaan mereka perlu diketahui dan dicatat.
Di tengah aksi pembagian makanan, tim BAGUNA juga mengajak warga yang masih bertahan di titik-titik pengungsian mandiri untuk datang atau memanfaatkan Posko Sekretariat PDI Perjuangan di Jalan Wairklau.
Posko tersebut menjadi salah satu tempat yang disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga selama masa darurat.
Bagi BAGUNA, membantu korban bencana bukan hanya soal memberikan makanan.
Ada warga yang harus didatangi. Ada yang harus didengar. Ada yang harus diarahkan agar terdata. Dan ada yang harus diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian.
Gerakan ini menjadi wajah lain dari solidaritas di tengah bencana Sikka. Ketika sebagian warga masih menunggu bantuan datang, Dapur BAGUNA justru bergerak mendatangi mereka yang berada di titik-titik pengungsian mandiri.
Dari dapur sederhana di Jalan Wairklau, makanan bergerak ke jalan-jalan pengungsian. Dari satu titik ke titik lainnya, BAGUNA memastikan bantuan menyentuh warga yang membutuhkan.
Di tengah situasi darurat yang masih berlangsung, pesan BAGUNA sederhana:
“Jangan biarkan warga yang mengungsi secara mandiri menjadi warga yang tidak terlihat.”
✒️: Albert Cakramento
