Lembata, NTT — Setelah Flores diguncang gempa bumi kuat Magnitudo 7,7 pada Sabtu dini hari, perhatian masyarakat kembali tertuju ke Gunung Api Lewotolok di Kabupaten Lembata. Pada malam harinya, dokumentasi pemantauan PVMBG-Badan Geologi memperlihatkan cahaya merah-oranye atau pijaran di sekitar kawasan puncak gunung.
Dokumentasi tersebut tercatat pada 15 Agustus 2026 pukul 19.02.29 WITA. Cahaya merah-oranye yang terlihat di kawasan puncak menjadi perhatian masyarakat karena muncul pada hari yang sama ketika wilayah Flores dilanda gempa kuat.
Namun, kemunculan pijaran tersebut tidak boleh langsung dikaitkan sebagai dampak gempa Magnitudo 7,7. Hubungan antara aktivitas kegempaan dan aktivitas Gunung Lewotolok membutuhkan penjelasan serta analisis dari lembaga yang berwenang, khususnya PVMBG atau Badan Geologi.
Gempa bumi yang mengguncang Flores pada Sabtu pagi membuat masyarakat di sejumlah wilayah meningkatkan kewaspadaan.
Guncangan tersebut juga diikuti gempa-gempa susulan. Berdasarkan data yang disampaikan dalam informasi kebencanaan sebelumnya, aktivitas gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama.
Situasi tersebut membuat masyarakat tetap waspada, terutama mereka yang berada di wilayah terdampak dan memilih bertahan di ruang terbuka karena khawatir kembali masuk ke dalam rumah.
Di tengah kondisi tersebut, munculnya cahaya merah-oranye di kawasan puncak Lewotolok menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat Lembata.
Meski muncul pada hari yang sama dengan gempa besar Flores, pijaran di kawasan Gunung Lewotolok tidak serta-merta membuktikan adanya hubungan langsung dengan gempa M7,7.
Fenomena gunung api harus dilihat berdasarkan parameter kegunungapian, termasuk data seismik, pengamatan visual, deformasi serta parameter lain yang dipantau oleh lembaga teknis.
Karena itu, masyarakat diminta tidak membuat kesimpulan sendiri ataupun menyebarkan narasi bahwa gempa Flores secara otomatis menyebabkan aktivitas Gunung Lewotolok.
Informasi mengenai status dan perkembangan aktivitas gunung api sebaiknya mengikuti keterangan resmi PVMBG-Badan Geologi Kementerian ESDM.
Dalam situasi bencana yang terjadi bersamaan, ketenangan masyarakat menjadi sangat penting.
Warga diminta tetap mengikuti informasi resmi pemerintah dan petugas di lapangan serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Apabila terdapat perubahan status atau rekomendasi terkait Gunung Lewotolok, masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diharapkan mengikuti seluruh arahan petugas dan tidak memasuki wilayah yang dinyatakan berbahaya.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan tanpa menimbulkan kepanikan.
Sabtu, 15 Agustus 2026, menjadi hari yang penuh ketegangan bagi masyarakat Flores.
Pagi hari, gempa bumi kuat mengguncang wilayah NTT dan menimbulkan dampak serius di sejumlah daerah. Malam harinya, perhatian masyarakat Lembata tertuju pada cahaya merah-oranye yang terlihat di sekitar puncak Gunung Lewotolok.
Kedua fenomena tersebut sama-sama membutuhkan pemantauan berdasarkan data ilmiah.
Hari ini Flores diguncang dari bawah, malamnya puncak Lewotolok terlihat memerah. Satu hal yang pasti: kewaspadaan masyarakat tidak boleh padam, sementara setiap informasi harus tetap berpijak pada data dan keterangan resmi.
