Kupang, NTT — SMK Negeri 6 Kupang memperkuat penerapan Teaching Factory (TEFA) melalui kegiatan In-House Training (IHT). Kegiatan ini diarahkan untuk menyatukan pemahaman guru sekaligus menyinergikan program sekolah dengan kebijakan pendidikan vokasi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala SMKN 6 Kupang, Asa Lahtang, mengatakan IHT kali ini secara khusus menitikberatkan pada pembelajaran berbasis Teaching Factory serta mendukung program Gubernur NTT, One School, One Product.
“Jadi in-house training kali ini kita menitipkan pada pembelajaran TEFA. Kita harus Teaching Factory, bagaimana menghadirkan industri di sekolah. Itu dalam kaitannya dengan program gubernur, One School, One Product. Jadi kita menanggapi itu,” ujar Asa kepada media ini, Kamis (27/8/2026).
Menurut Asa, selama ini pembahasan mengenai program tersebut lebih banyak berada pada tingkat pimpinan. Melalui IHT, pihak sekolah berupaya membawa pemahaman tersebut sampai kepada guru sebagai pelaksana langsung proses pembelajaran.
“Dengan IHT ini kita membangun satu konsep yang sama antara pemerintah provinsi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, juga sekolah sebagai pelaksana program ini,” jelasnya.
Asa menjelaskan, pelaksanaan IHT setiap tahun dapat memiliki fokus yang berbeda sesuai kebutuhan sekolah.
Menurutnya, IHT bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi menjadi ruang untuk menyatukan ide dan konsep sebelum program diterapkan.
“IHT kita laksanakan sesuai dengan apa yang mau kita kaji. Jadi dalam IHT itu lebih banyak pada kita menyatukan konsep,” katanya.
Ia menambahkan, sebuah ide atau konsep baru akan lebih mudah diimplementasikan apabila seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama.
“Jadi kita bekerja ini punya ide dan konsep yang sama, ada sinergi. Bagaimana menyinergikan antara program sekolah, program SMK atau Teaching Factory dengan program One School, One Product,” ujarnya.
Asa menegaskan bahwa penerapan Teaching Factory tidak hanya berbicara tentang siswa, tetapi harus dimulai dari kesiapan guru.
“Jadi ini bukan dulu ke siswa, ke guru dulu. Kita paham dulu,” tegasnya.
Untuk itu, sekolah menghadirkan narasumber yang dinilai memiliki kompetensi dan pemahaman terhadap pendidikan vokasi maupun program Teaching Factory.
Dengan pemahaman tersebut, guru diharapkan mampu menerjemahkan konsep TEFA ke dalam proses pembelajaran.
Dalam penerapannya, siswa nantinya diarahkan untuk belajar sekaligus menghasilkan produk melalui proses pembelajaran yang memiliki keterkaitan dengan dunia industri.
“Diimplementasikan dalam pembelajaran, pembelajaran di mana siswa bisa mengerjakan produk,” jelas Asa.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah narasumber memberikan materi sesuai bidang masing-masing.
Asa mengatakan salah satu materi membahas kebijakan pendidikan untuk pendidikan vokasi yang diterapkan di sekolah menengah kejuruan.
Materi lainnya diarahkan untuk menemukan hubungan antara kebijakan pendidikan vokasi, program sekolah, Teaching Factory, serta program One School, One Product.
Sementara pada sesi berikutnya, pengawas sekolah akan membahas strategi pembelajaran yang sesuai dengan tema besar IHT.
Dengan materi yang saling berkaitan, sekolah berharap guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran.
Asa memastikan hasil IHT nantinya akan ditindaklanjuti melalui program-program sekolah.
“Intinya bahwa setelah IHT ini jalan kan pasti ada hasil, dampak dari itu. Nah, kami akan mengeksekusi lewat program-program sekolah setelah IHT ini selesai,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan IHT bukan hanya dilihat dari pelaksanaan kegiatan, tetapi dari dampaknya terhadap proses pembelajaran dan program sekolah.
SMKN 6 Kupang Siapkan Kelas Migran
Selain Teaching Factory, SMKN 6 Kupang juga sedang mempersiapkan kelas migran bagi peserta yang berminat mendapatkan pembekalan untuk bekerja di luar negeri.
Asa mengatakan program tersebut masih dalam proses legitimasi. Pihak sekolah telah mengajukan proposal dan sedang mempersiapkan kerja sama dengan BP2MI untuk mendirikan Migrant Center.
“Untuk kelas migran ini kita masih dalam proses legitimasi. Kita sudah mengajukan proposal, ada pendaftaran untuk melakukan MoU dengan BP2MI untuk mendirikan Migrant Center. Itu sudah berproses,” ungkapnya.
Saat ini terdapat sekitar 22 peserta yang sedang mengikuti pembinaan.
Para peserta juga telah mengikuti tes TOEIC untuk mengetahui kemampuan bahasa Inggris masing-masing.
“Karena memang untuk bisa ke luar negeri salah satu kemampuan atau kompetensi yang dibutuhkan itu adalah bahasa Inggris,” jelas Asa.
Asa mengatakan pihak sekolah telah menerima 60 sertifikat TOEIC untuk peserta yang mengikuti tes.
Sertifikat tersebut menjadi salah satu bagian dari persiapan peserta, khususnya dalam mengukur kemampuan bahasa Inggris sebelum mengikuti tahapan berikutnya.
Namun, Asa menegaskan bahwa sertifikat TOEIC bukan berarti seluruh proses untuk bekerja ke luar negeri telah selesai. Masih terdapat sejumlah persyaratan dan tahapan yang harus dipenuhi.
Program kelas migran tersebut juga tidak hanya diperuntukkan bagi siswa SMKN 6 Kupang. Peserta dari luar sekolah juga memiliki kesempatan untuk mengikuti program tersebut.
Dalam pelaksanaannya, SMKN 6 Kupang memberikan prioritas kepada lulusan SMK.
Namun, peluang juga terbuka bagi lulusan SMA umum yang memiliki minat untuk mengikuti program tersebut.
“Kalau mereka berminat, ada peluang. Tapi kita masih dalam proses ini,” kata Asa.
Terkait pembiayaan, pihak sekolah masih mengupayakan dukungan melalui proposal kepada BP2MI.
Asa mengatakan bantuan dari pemerintah masih dalam proses sehingga sekolah terus mempersiapkan berbagai kebutuhan yang diperlukan.
Untuk mendukung program kelas migran, SMKN 6 Kupang juga mulai menyiapkan fasilitas pelatihan.
Asa menyebut pihak sekolah telah menyelesaikan pembangunan gedung latihan hingga lantai tiga yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pelatihan.
Persiapan tersebut dilakukan agar program pembinaan calon pekerja migran dapat berjalan lebih baik dan terarah.
Melalui pelaksanaan IHT, Asa berharap seluruh guru memiliki pemahaman yang sama mengenai arah pengembangan pendidikan vokasi di SMKN 6 Kupang.
Teaching Factory diharapkan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar diterapkan dalam pembelajaran sehingga siswa memiliki pengalaman menghasilkan produk dan mengenal pola kerja yang lebih dekat dengan kebutuhan industri.
Di sisi lain, program One School, One Product diharapkan dapat mendorong setiap sekolah untuk mengembangkan potensi dan produk unggulannya.
Sementara kelas migran menjadi salah satu upaya SMKN 6 Kupang membuka peluang bagi peserta didik dan lulusan untuk mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan sebelum memasuki dunia kerja internasional.
Bagi SMKN 6 Kupang, seluruh program tersebut bermuara pada satu tujuan: membangun pendidikan vokasi yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta memberikan peluang lebih besar bagi lulusan untuk memiliki keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan.
✒️: kl
