Maumere, NTT, 18 Agustus 2026 — Ketakutan kembali menyelimuti warga Nangahale setelah gempa mengguncang wilayah Flores. Bagi masyarakat di lokasi pengungsian, gempa kali ini bukan sekadar guncangan. Ingatan tentang tragedi tahun 1992, ketika tsunami menyapu bersih pulau yang mereka tinggali, kembali menghantui.
Pengalaman pahit tersebut membuat warga memilih mengungsi setiap kali terjadi situasi yang mereka anggap berpotensi membahayakan keselamatan.
“Kami di sini merasa trauma karena pernah mengalami gempa tahun 1992. Waktu itu tsunami menyapu bersih pulau yang kami tinggali. Jadi dalam situasi begini, pasti kami harus mengungsi,” ungkap seorang warga.
Bagi mereka, meninggalkan rumah bukan semata-mata karena kepanikan. Trauma masa lalu membuat setiap guncangan gempa kembali memunculkan bayang-bayang tsunami.
Namun, setelah dua hari berada di pengungsian, warga justru harus menghadapi persoalan baru. Terpal masih terbatas, logistik minim, sementara kebutuhan obat-obatan dan pelayanan kesehatan juga menjadi keluhan.
Warga mengaku masih ada pengungsi yang belum memiliki tempat berlindung yang layak, baik untuk beristirahat pada malam hari maupun melindungi diri dari panas matahari pada siang hari.
“Untuk tidur saja kami tidak memiliki tempat yang layak. Terpal pun tidak ada. Kami hanya berusaha menyelamatkan diri dengan apa yang ada,” ujar warga.
15 Anak Harus Dirawat di Puskesmas
Persoalan kesehatan juga mulai mengkhawatirkan.
Dalam waktu dua hari mengungsi, sedikitnya 15 anak harus mendapatkan perawatan di Puskesmas karena mengalami gangguan kesehatan, berdasarkan keterangan warga di lokasi pengungsian.
Warga mengeluhkan keterbatasan obat-obatan. Bidan maupun perawat yang datang ke lokasi disebut belum selalu membawa obat yang dibutuhkan masyarakat.
“Bidan atau perawat yang datang ke sini kadang tidak membawa obat. Ada warga yang sakit cukup parah dan tidak sempat mendapatkan pengobatan,” ungkap seorang warga.
Warga berharap pemerintah segera menyediakan pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan lokasi pengungsian, sehingga anak-anak maupun warga lainnya yang mengalami gangguan kesehatan dapat segera diperiksa dan mendapatkan pengobatan.
Sementara itu, Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, S.Sos, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada tim dari pemerintah kabupaten yang turun langsung ke Nangahale untuk melihat kondisi masyarakat terdampak.
Menurutnya, baik dari BPBD maupun pihak lainnya, belum turun langsung ke lokasi pengungsian.
“Sampai saat ini belum ada tim dari kabupaten turun langsung ke Nangahale, baik dari BPBD atau pihak lainnya. Yang kami inginkan, mereka turun langsung agar bisa sendiri menyaksikan bagaimana kondisi di lapangan pengungsian,” tegas Sahanudin.
Ia berharap pemerintah kabupaten tidak hanya menerima laporan dari bawah, tetapi datang langsung melihat kondisi warga dan kebutuhan yang dihadapi para pengungsi.
Menurut warga, kebutuhan mendesak saat ini bukan hanya makanan. Mereka membutuhkan terpal, air bersih, perlengkapan tidur, obat-obatan, kebutuhan anak-anak serta berbagai kebutuhan dasar lainnya.
Di tengah trauma akibat pengalaman tsunami 1992, warga Nangahale kini harus bertahan di pengungsian dengan segala keterbatasan.
Mereka memilih mengungsi demi keselamatan. Namun setelah menyelamatkan diri, mereka masih harus berjuang mendapatkan tempat berlindung, makanan dan pelayanan kesehatan.
Bagi warga Nangahale, kehadiran pemerintah di tengah situasi seperti ini sangat dibutuhkan. Bukan sekadar melihat dari laporan, tetapi turun langsung, menyaksikan kondisi pengungsi dan memastikan kebutuhan mereka benar-benar terpenuhi.
