Kupang, NTT, 16 Agustus 2026 — Penanganan darurat pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus dilakukan. Data terbaru BNPB menunjukkan 47 orang meninggal dunia, 101 orang mengalami luka-luka, dan 9.290 warga masih bertahan di sejumlah lokasi pengungsian.
Gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) tersebut menimbulkan kerusakan signifikan di sejumlah wilayah NTT. Hingga pemutakhiran data Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, BNPB mencatat 1.357 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas publik. Sedikitnya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan dilaporkan mengalami kerusakan.
Dari 47 korban meninggal dunia, jumlah terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai sebanyak 23 orang dan Manggarai Timur sebanyak 17 orang.
Sementara itu, korban meninggal lainnya tercatat di Sikka empat orang, Manggarai Barat satu orang, Ende satu orang, dan Nagekeo satu orang. Sebanyak 101 warga lainnya mengalami luka-luka dan masih mendapatkan penanganan medis.
Namun, proses pencarian, pendataan dan verifikasi masih berlangsung sehingga angka tersebut masih dapat berubah.
Jumlah warga yang bertahan di lokasi pengungsian mencapai 9.290 jiwa.
Kabupaten Sikka menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni 3.356 orang. Dari jumlah tersebut, 1.356 orang berada di GOR Samador, sementara sekitar 2.000 orang lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik.
Di Kabupaten Manggarai tercatat 2.078 pengungsi, sedangkan Nagekeo sekitar 500 orang. Pengungsi juga tercatat berada di wilayah lain di luar NTT.
Kondisi ini membuat kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, tenda, selimut, obat-obatan dan fasilitas tidur menjadi perhatian utama dalam penanganan darurat.
Gempa utama juga diikuti ratusan aktivitas gempa susulan. BNPB mencatat 341 aktivitas gempa susulan hingga pemutakhiran data tersebut.
Sebelumnya, BMKG mencatat sedikitnya 235 gempa susulan hingga pukul 14.00 WIB pada 15 Agustus, dengan magnitudo berkisar M2,5 hingga M6,2. BMKG juga menyebut aktivitas gempa susulan ketika itu belum menunjukkan peluruhan yang signifikan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto pada Minggu (16/8) menginstruksikan percepatan penanganan di wilayah terdampak..
Enam kabupaten yang dinilai terdampak parah, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Nagekeo dan Sikka, diminta segera menetapkan status darurat agar dukungan pemerintah pusat dapat bergerak maksimal.
BNPB juga membentuk Posko Utama Pendampingan Nasional di Labuan Bajo dan Posko Taktis di Maumere. Posko Maumere dipersiapkan untuk mendukung penanganan di Sikka, Nagekeo dan Ngada.
Untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses, BNPB juga mengoordinasikan pengerahan helikopter dan kapal untuk membawa logistik berupa makanan, selimut dan tenda pengungsian.
BNPB menargetkan layanan vital seperti listrik, air bersih, BBM dan komunikasi dapat dipulihkan secara terbatas dalam waktu tujuh hari. Pendataan kerusakan rumah juga diminta dilakukan secara paralel agar bantuan dan pembangunan hunian sementara dapat segera diproses.
Sementara itu, jalur Larantuka–Maumere dilaporkan sudah kembali terhubung dan dapat dilalui. Namun akses jalan Ende–Nagekeo masih terputus akibat dampak gempa.
BMKG sebelumnya telah mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB, Sabtu (15/8) setelah pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap gempa susulan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta BMKG.
Hingga Minggu, 16 Agustus 2026, Flores masih berada dalam masa penanganan darurat. Pencarian korban, pendataan kerusakan, pemenuhan kebutuhan pengungsi dan pemulihan akses menjadi prioritas utama pemerintah.
Catatan redaksi: Data korban dan kerusakan masih bersifat sementara karena proses pencarian dan verifikasi di lapangan terus berlangsung. Angka dapat berubah sewaktu-waktu.
✒️: kl
