Maumere, NTT — Gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Di balik bencana, tersimpan cerita, ketakutan, hingga pengalaman yang terkadang sulit disampaikan anak-anak secara langsung.
Ruang bagi anak-anak untuk mengungkapkan pengalaman itu dibuka melalui kegiatan edukasi mitigasi bencana dan literasi menulis yang digelar di SMP Maria Canisia, Rabu, 2 September 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Misir Tengah dengan menggandeng DPP Paroki Misir, serta mendapat dukungan dari kawan-kawan Himpunan Mahasiswa Elektro Universitas Telkom Purwokerto.
Sebanyak 42 siswa mengikuti kegiatan dari total 46 siswa kelas VII hingga IX. Empat siswa lainnya berhalangan hadir.
Kegiatan diawali dengan penyerahan bantuan perlengkapan sekolah dari Himpunan Mahasiswa Elektro Universitas Telkom Purwokerto.
Sementara TBM Misir Tengah menyediakan buku tulis dan bolpoin untuk mendukung sesi literasi para siswa.
Setelah penyerahan bantuan, para siswa mendapatkan edukasi mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, khususnya gempa bumi.
Para siswa diajak memahami langkah-langkah sederhana yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, baik saat berada di sekolah maupun di rumah. Materi edukasi juga diperbanyak dalam bentuk fotokopi agar dapat dibawa pulang dan dibagikan kepada orang tua maupun anggota keluarga.
Setelah sesi mitigasi, kegiatan dilanjutkan dengan literasi menulis. Para siswa diberikan ruang untuk menuangkan pengalaman dan perasaan mereka melalui tulisan.
Dari 38 siswa yang mengikuti sesi menulis, sebagian besar memilih menulis tentang pengalaman menghadapi gempa bumi. Namun, lima siswa justru menulis tentang bullying atau perundungan.
Temuan tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi penyelenggara. Di tengah situasi pascabencana, ternyata ada persoalan lain yang juga dialami anak-anak dan membutuhkan perhatian bersama.
Melalui tulisan, anak-anak dapat menyampaikan pengalaman, ketakutan, maupun persoalan yang mungkin sulit mereka ceritakan secara langsung.
Melihat adanya tulisan mengenai bullying, Ichat Tola, S.H. kemudian memberikan edukasi singkat mengenai perundungan, dampaknya terhadap anak, serta pentingnya mencegah bullying secara bersama-sama di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan suara dan pengalaman mereka.
TBM Misir Tengah bersama DPP Paroki Misir berharap kegiatan edukasi mitigasi dan literasi seperti ini dapat terus dilaksanakan di sekolah-sekolah lainnya.
Rencananya, kegiatan serupa akan dilanjutkan di SMA Carmelo pada Jumat mendatang.
Selanjutnya, TBM Misir Tengah bersama para mitra akan terus turun ke sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi mengenai mitigasi bencana.
Langkah tersebut menjadi penting menjelang aktivitas sekolah kembali berjalan normal pada 7 September 2026.
Pengetahuan tentang mitigasi diharapkan tidak berhenti di ruang kelas. Para siswa diharapkan membawa pengetahuan tersebut ke rumah dan membagikannya kepada keluarga.
Sebab, kesiapsiagaan menghadapi bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan orang dewasa.
Anak-anak juga perlu dibekali pengetahuan untuk menghadapi bencana, sekaligus diberikan ruang untuk bersuara tentang apa yang mereka rasakan.
✒️: Albert Cakramento
