Maumere, NTT — Kapal Rumah Sakit Apung (RSA) Laksamana Malahayati tidak bisa bersandar langsung di Pulau Palue.
Namun, kendala teknis itu tidak menghentikan langkah tim medis.
Ketika kapal tak dapat merapat ke pulau, tim memilih jalur lain.
Mereka tetap menyeberang menggunakan kapal feri demi menghadirkan pelayanan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi masyarakat Palue.
Perjalanan panjang itu bermula dari Maumere, berlanjut ke sejumlah wilayah Flores, termasuk Huntara Desa Konga, Kabupaten Flores Timur, sebelum akhirnya tim tiba di Pulau Palue, Kabupaten Sikka.
Selasa, 22 September 2026, pelayanan kesehatan akhirnya dimulai di Puskesmas Maluriwu.
Sekitar 115 warga datang untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan pada hari pertama. Pelayanan berlangsung hingga sekitar pukul 14.00 WITA.
RSA Laksamana Malahayati tiba di Pelabuhan Laurentius Say, Maumere, pada Rabu, 9 September 2026, sekitar pukul 16.00 WITA.
Kapal tersebut membawa tim medis beserta perlengkapan pelayanan kesehatan. Tim dipimpin oleh Dr. Ananta.
Pulau Palue menjadi salah satu tujuan pelayanan.
Namun, sebelum pelayanan dilaksanakan, diperlukan koordinasi mengenai lokasi dan waktu pelayanan bersama pihak-pihak terkait di wilayah Flores.
Koordinasi tersebut melibatkan jajaran DPP, DPD, DPC dan PAC PDI Perjuangan di wilayah Flores.
Sambil menunggu kepastian jadwal pelayanan di Palue, tim medis tidak berhenti bergerak.
Mereka justru turun ke daratan dan memberikan pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah yang membutuhkan.
Salah satu titik pelayanan berada di Huntara Desa Konga, Kabupaten Flores Timur.
Pada Jumat, 18 September 2026, Tim Medis RSA Laksamana Malahayati memberikan pelayanan kesehatan kepada para penyintas erupsi Lewotobi.
Tim melakukan pemeriksaan kesehatan, mendengarkan keluhan warga, memberikan pelayanan sesuai kebutuhan, serta membawa obat-obatan untuk mendukung kegiatan tersebut.
Setelah pelayanan di Konga, tim kembali melanjutkan perjalanan menuju Pulau Palue.
Perjalanan menuju Palue menghadapi kendala teknis.
RSA Laksamana Malahayati tidak dapat bersandar langsung di Pulau Palue.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat pelayanan kesehatan dibatalkan.
Tim medis memilih menggunakan kapal feri untuk menyeberang menuju Pulau Palue.
Dengan demikian, meskipun kapal rumah sakit tidak dapat merapat langsung ke pulau, tim medis tetap bergerak agar pelayanan kepada masyarakat dapat dilaksanakan.
Setibanya di Pulau Palue, tim medis melakukan koordinasi bersama Pemerintah Kecamatan Palue, pemerintah desa, serta pihak Puskesmas.
Koordinasi dilakukan untuk memastikan lokasi pelayanan, kesiapan tenaga kesehatan, kebutuhan obat-obatan, serta teknis pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat.
Hasil koordinasi menetapkan Puskesmas Maluriwu sebagai lokasi pelayanan pada Selasa, 22 September 2026.
Pelayanan pemeriksaan dan pengobatan gratis di Puskesmas Maluriwu mendapat respons positif dari masyarakat.
Sekitar 115 warga datang untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan.
Warga datang secara bergantian. Sebagian warga yang telah mendapatkan pelayanan kemudian kembali ke rumah, sementara warga lainnya terus berdatangan selama kegiatan berlangsung.
Tim medis yang bertugas terdiri dari dua dokter, dua perawat, dan dua bidan.
Tim juga membawa obat-obatan untuk mendukung pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Pelayanan berlangsung hingga sekitar pukul 14.00 WITA.
Pelaksanaan kegiatan tersebut juga dikonfirmasi media ini kepada Camat Palue melalui komunikasi telepon dan WhatsApp.
Yansen Seda, Kepala BAGUNA DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Pemerintah Kecamatan Palue, jajaran fasilitas kesehatan, unsur kampus, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Menurut Yansen, koordinasi bersama berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memperlancar pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi masyarakat.
“Rencana ini direspons positif oleh Pak Camat Palue bersama unsur puskesmas dan seluruh jajaran. Ini sangat membantu kami untuk memperlancar kegiatan pemeriksaan dan pengobatan gratis,” demikian disampaikan Yansen Seda dalam wawancara.
Antusiasme masyarakat terlihat dari warga yang datang secara bergantian untuk mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan.
Hingga pelayanan hari pertama selesai, sekitar 115 warga telah mendapatkan pelayanan.
Pelayanan kesehatan di Pulau Palue direncanakan berlangsung selama dua hari.
Setelah pelayanan perdana di Puskesmas Maluriwu pada Selasa, 22 September, titik pelayanan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Puskesmas Tuanggeo pada Rabu, 23 September 2026.
Artinya, pelayanan tidak berhenti pada satu titik.
Tim medis kembali bergerak untuk menjangkau masyarakat di wilayah Palue lainnya.
Rangkaian kegiatan di Palue juga disertai penyaluran bantuan sembako tahap kedua oleh PDI Perjuangan.
Bantuan tahap pertama sebelumnya telah disalurkan pada akhir Agustus 2026.
Penyaluran bantuan tahap kedua dilakukan bersamaan dengan rangkaian kegiatan pelayanan kesehatan di Pulau Palue.
Dalam kegiatan tersebut hadir Emanuel Kolfidus, Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan NTT, bersama Yansen Seda, Kepala BAGUNA DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, jajaran DPC PDI Perjuangan Sikka, serta PAC PDI Perjuangan Palue.
Perjalanan Tim Medis RSA Laksamana Malahayati di Flores bukan sekadar tentang sebuah kapal yang tiba di pelabuhan.
Kapal tiba di Maumere pada 9 September.
Dari Maumere, tim kemudian bergerak melalui jalur darat dan memberikan pelayanan di sejumlah wilayah Flores, termasuk Huntara Desa Konga pada 18 September.
Dari Konga, perjalanan dilanjutkan menuju Palue.
Ketika kapal tidak dapat bersandar langsung di pulau karena kendala teknis, tim medis tetap mencari jalan dengan menggunakan kapal feri.
Pada Selasa, 22 September 2026, perjalanan itu akhirnya sampai pada pelayanan kesehatan di Puskesmas Maluriwu.
Sekitar 115 warga Palue mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan pada hari pertama.
Sebelumnya, Tim Medis RSA Laksamana Malahayati juga telah memberikan pelayanan kesehatan gratis di sejumlah wilayah Flores, termasuk Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, serta sejumlah kawasan hunian sementara masyarakat terdampak erupsi Lewotobi.
Perjalanan pelayanan belum selesai.
Rabu, 23 September 2026, Puskesmas Tuanggeo dijadwalkan menjadi titik pelayanan berikutnya.
Kapal boleh tak bisa bersandar. Tetapi pelayanan kesehatan tetap menyeberang.
, ✒️: Albert Cakramento.
