Maumere, NTT — Pancasila tak boleh berhenti sebagai lima sila yang dihafalkan, lalu dilupakan setelah upacara selesai. Nilai-nilai Pancasila harus hadir dalam kehidupan nyata, tumbuh di tengah masyarakat, dan menjadi kekuatan untuk merawat persatuan.
Semangat itulah yang mewarnai kegiatan “Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Bersama Masyarakat” yang berlangsung di Aula St. Rafael Paroki Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa, 15 September 2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”
Dari Nita, pesan tentang pentingnya menjaga dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila kembali digaungkan. Bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui gerakan yang diharapkan mampu menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila menjadi ruang perjumpaan antara berbagai unsur masyarakat untuk memperkuat kesadaran kebangsaan.
Para relawan diharapkan tidak sekadar hadir sebagai peserta, tetapi mampu menjadi bagian dari gerakan yang menghadirkan kebajikan di tengah masyarakat.
Semangat gotong royong, kepedulian, persaudaraan, penghormatan terhadap perbedaan dan menjaga persatuan menjadi bagian penting dari semangat gerakan tersebut.
Dengan begitu, Pancasila tidak hanya dibicarakan di ruang pertemuan, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini mendapat perhatian karena turut dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai unsur.
Hadir Dr. Andreas Hugo Pareira, Toto Purbianto, S.Kom., M.TI., Direktur Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan BPIP RI, serta Romo Dr. Willifrid Valiances, S.S., M.Si., Imam Keuskupan Maumere.
Kehadiran para tokoh tersebut memberikan warna tersendiri bagi kegiatan yang mempertemukan unsur pemerintah, BPIP, tokoh keagamaan dan masyarakat.
Momentum ini sekaligus menunjukkan bahwa menjaga Pancasila bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu. Pancasila merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Di tengah keberagaman masyarakat, nilai-nilai Pancasila justru semakin penting untuk terus dirawat.
Perbedaan suku, agama, budaya, pandangan maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan.
Sebaliknya, keberagaman merupakan kekayaan yang harus dijaga melalui semangat persaudaraan, toleransi dan gotong royong.
Karena itu, kehadiran Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila diharapkan dapat menjadi energi baru untuk membawa nilai-nilai tersebut semakin dekat dengan masyarakat.
Kegiatan di Aula St. Rafael Paroki Nita menjadi bagian dari upaya memperkuat kembali kesadaran bahwa Pancasila bukan sekadar simbol kebangsaan.
Pancasila harus hadir dalam cara masyarakat saling menghargai, membantu, bekerja sama dan menyelesaikan persoalan bersama.
Dari Nita, Kabupaten Sikka, pesan itu kembali digaungkan:
Pancasila jangan hanya dihafal. Pancasila harus dihidupkan.
Sementara itu, ulasan khusus mengenai materi dan pesan yang disampaikan Dr. Andreas Hugo Pareira dalam kegiatan tersebut akan disajikan dalam pemberitaan berikutnya.
