Kupang, NTT, 10 September 2026 — Solidaritas keluarga besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mengalir.
PGRI Jawa Tengah menyalurkan bantuan sebesar Rp100 juta melalui PGRI Provinsi NTT. Bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan kemanusiaan yang dihimpun untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi dampak bencana gempa di sejumlah wilayah Flores.
Dengan tambahan bantuan dari berbagai pihak, total dana solidaritas yang telah terkumpul untuk penanganan dampak gempa Flores kini lebih dari Rp200 juta.
Dana tersebut rencananya akan disalurkan kepada masyarakat terdampak di Kabupaten Sikka, Nagekeo dan Manggarai.
Penyerahan bantuan dari PGRI Jawa Tengah berlangsung di Kupang dan mendapat apresiasi dari PGRI Provinsi NTT.
Ketua PGRI NTT, Dr. Sam Haning, S.H., M.H., mengatakan bantuan tersebut bukan sekadar dukungan materi, tetapi merupakan wujud empati dan kepedulian sesama anggota PGRI terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
“Ini adalah empati bersama. Ini luar biasa. Ketua PGRI Jawa Tengah dan teman-teman yang lain merasakan bahwa duka cita adalah duka cita bersama,” ujar Sam Haning kepada awak media di Rektorat UPG 1945 NTT.
Menurutnya, kepedulian tersebut menunjukkan bahwa rasa solidaritas dalam keluarga besar PGRI tidak dibatasi oleh jarak dan wilayah administratif.
Ketika bencana terjadi di satu daerah, kata Sam Haning, daerah lain turut merasakan penderitaan dan berupaya memberikan dukungan sesuai kemampuan.
Dukungan untuk masyarakat terdampak gempa Flores juga datang dari organisasi PGRI di wilayah lain.
PGRI NTT sebelumnya telah menerima bantuan dari PGRI Kabupaten Bima sebesar Rp50 juta dan PGRI Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar Rp50 juta.
Jika digabungkan dengan bantuan Rp100 juta dari PGRI Jawa Tengah serta bantuan lainnya yang telah terkumpul, dana solidaritas yang tersedia kini mencapai lebih dari Rp200 juta.
Bantuan tersebut akan diarahkan kepada masyarakat di wilayah terdampak yang membutuhkan, dengan prioritas penyaluran di Sikka, Nagekeo dan Manggarai.
Sam Haning mengatakan penyaluran akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Sementara itu, Ketua PGRI Jawa Tengah, Dr. H. Muhdi, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa solidaritas merupakan salah satu nilai penting yang terus dijaga dalam organisasi PGRI.
Menurut Muhdi, solidaritas bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata ketika ada sesama yang mengalami kesulitan.
“Salah satu tagline-nya adalah solidaritas. Salah satu penerjemahan dari solidaritas adalah kita harus bahagia bersama, susah bersama. Kalau ada teman susah, kita memberikan bantuan,” kata Muhdi.
Ia menjelaskan bahwa PGRI Jawa Tengah selama ini memiliki perhatian terhadap anggota maupun masyarakat yang mengalami musibah, baik bencana berskala besar maupun kecil.
Solidaritas juga diberikan kepada anggota PGRI di daerah lain yang mengalami bencana.
Muhdi menyebut PGRI Jawa Tengah sebelumnya telah menunjukkan kepedulian terhadap sejumlah daerah yang mengalami bencana, mulai dari wilayah terdekat seperti Jawa Timur dan Jawa Barat hingga daerah lain seperti Palu dan Sumatera.
Muhdi mengakui penyaluran bantuan ke Flores dilakukan setelah pihaknya menghadapi sejumlah kendala.
Jawa Tengah sendiri, kata dia, juga sedang menghadapi berbagai bencana, termasuk banjir dan longsor.
Kondisi tersebut membuat bantuan ke Flores belum dapat disalurkan lebih cepat.
Namun, menurut Muhdi, keterlambatan tersebut tidak mengurangi kepedulian PGRI Jawa Tengah terhadap masyarakat Flores.
“Hari ini saya ingin mengawali dulu, menunjukkan juga solidaritas kami bahwa seluruh anggota PGRI Jawa Tengah merasa berempati, merasa prihatin dan berduka atas musibah tentang Flores, Nusa Tenggara,” ujarnya.
Ia mengatakan kedatangan pengurus PGRI Jawa Tengah ke NTT menjadi bentuk nyata bahwa keluarga besar PGRI ikut merasakan penderitaan masyarakat Flores.
Muhdi menegaskan, bantuan sebesar Rp100 juta tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai nilai nominal.
Di balik bantuan itu terdapat pesan bahwa masyarakat Flores tidak menghadapi bencana seorang diri.
“Kami ingin menunjukkan solidaritas kami,” katanya.
Ia berharap bantuan yang disalurkan melalui PGRI NTT dapat sampai kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan, sekaligus membantu meringankan beban mereka dalam menghadapi masa pemulihan.
Muhdi juga menyampaikan doa agar kondisi di Flores segera pulih sehingga masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
“Sekaligus mendoakan agar musibah, bencana segera berakhir dan teman-teman segera bisa kembali ke tempat masing-masing dan diberikan rezeki yang cukup untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya, bahkan kita harap lebih baik,” ungkapnya.
Bagi PGRI NTT, dukungan yang datang dari Jawa Tengah, Kabupaten Bima dan NTB menunjukkan kuatnya jejaring solidaritas antardaerah.
Lebih dari Rp200 juta yang terkumpul nantinya diharapkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang masih membutuhkan dukungan pascagempa.
Bantuan tersebut akan diarahkan ke Sikka, Nagekeo dan Manggarai sebagai bagian dari upaya bersama meringankan beban warga terdampak.
Sam Haning pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam gerakan solidaritas tersebut.
Menurutnya, dalam situasi bencana, yang paling dibutuhkan bukan hanya materi, tetapi juga kehadiran, kepedulian dan semangat untuk saling menguatkan. “Ini luar biasa. Kita sama-sama,” tuturnya.
Semangat tersebut menjadi pesan utama dari gerakan solidaritas PGRI: ketika satu daerah berduka, keluarga besar PGRI ikut merasakan dan bergerak bersama.
✒️: kl