Maumere, NTT, 11 September 2026 — Forum Rakyat Resah dan Gelisah (FOKALIS) Maumere mengecam keras aksi kekerasan yang menewaskan tiga warga sipil di wilayah Jayawijaya, Papua Pegunungan. Dua korban diketahui berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), sementara satu korban lainnya berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan.
Sikap tersebut disampaikan FOKALIS melalui pers rilis yang ditandatangani Ketua FOKALIS, Frederich Fransiskus Baba Djoedye, sebagai bentuk keprihatinan sekaligus tuntutan agar kasus tersebut diusut secara menyeluruh.
FOKALIS mendesak aparat keamanan, khususnya TNI-Polri melalui Satgas Operasi Damai Cartenz, segera melakukan penyelidikan dan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
FOKALIS menilai penembakan terhadap warga sipil merupakan tindakan serius yang tidak dapat dibiarkan.
Para korban disebut sedang menjalankan pekerjaan pelayanan kepada masyarakat, termasuk dalam kegiatan penyaluran bantuan bibit ternak babi dan program cetak sawah bagi masyarakat asli Papua.
Menurut FOKALIS, warga sipil yang sedang menjalankan tugas pelayanan publik harus mendapatkan perlindungan, terlebih mereka berada di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan keamanan.
Organisasi tersebut juga meminta aparat mengungkap secara terang seluruh rangkaian peristiwa, termasuk motif dan pihak yang bertanggung jawab.
Jika dalam penyelidikan ditemukan fakta bahwa korban terlebih dahulu dipilah berdasarkan identitas sebelum dilakukan penembakan, FOKALIS meminta aparat penegak hukum dan lembaga HAM memberikan perhatian serius terhadap dugaan tersebut.
FOKALIS mendesak Panglima TNI dan Kapolri melalui jajaran aparat keamanan serta Satgas Operasi Damai Cartenz untuk segera mengejar dan memproses pihak-pihak yang bertanggung jawab.
FOKALIS menegaskan proses hukum tidak boleh hanya berhenti pada pelaku lapangan apabila penyelidikan dan alat bukti nantinya menunjukkan adanya pihak lain yang memiliki peran lebih besar.
“Pengungkapan kasus tidak boleh hanya berhenti pada pelaku lapangan. Aparat juga harus mengungkap pihak yang diduga menjadi aktor intelektual apabila ditemukan berdasarkan hasil penyelidikan dan alat bukti,” demikian sikap FOKALIS dalam pers rilisnya.
FOKALIS meminta proses penegakan hukum dilakukan secara profesional, transparan, terukur dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selain mendesak pengusutan kasus, FOKALIS meminta Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan aparat keamanan memperkuat jaminan keselamatan bagi masyarakat sipil yang bekerja di wilayah Papua.
Perhatian khusus dinilai perlu diberikan kepada warga NTT yang bekerja sebagai ASN, guru, tenaga medis, pekerja kemanusiaan maupun profesi pelayanan publik lainnya.
“Warga NTT datang ke Papua bukan untuk berkonflik. Mereka datang untuk bekerja, mengabdi dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, negara wajib memastikan keselamatan mereka,” tegas FOKALIS.
FOKALIS juga mendesak Komnas HAM RI melakukan penyelidikan secara serius, independen dan menyeluruh terhadap peristiwa tersebut.
Menurut FOKALIS, seluruh fakta harus dibuka secara objektif sehingga tidak menimbulkan spekulasi maupun ketidakjelasan mengenai peristiwa yang menewaskan warga sipil tersebut.
Apabila hasil penyelidikan menemukan adanya unsur pelanggaran HAM, FOKALIS meminta proses selanjutnya dilakukan melalui mekanisme hukum yang berlaku.
FOKALIS menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga para korban, khususnya keluarga drh. Alfonsius Albinus Mehan di Maumere dan Wili Mbuik di Rote Ndao/Kupang.
Satu korban lainnya diketahui berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan.
Bagi FOKALIS, kematian para korban bukan hanya menjadi persoalan keluarga, tetapi juga menjadi keprihatinan masyarakat NTT dan masyarakat Indonesia secara lebih luas.
Dari Maumere, FOKALIS menyerukan kepada organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, OKP, paguyuban Flobamora dan berbagai elemen masyarakat Sikka untuk menyampaikan solidaritas melalui aksi damai kepada Pemerintah Daerah dan DPRD Sikka.
Aksi tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menyampaikan keprihatinan sekaligus tuntutan agar negara memberikan perlindungan terhadap warga NTT yang bekerja dan mengabdi di wilayah rawan konflik.
FOKALIS menegaskan aksi harus berlangsung secara damai, tertib dan bermartabat serta tidak disertai provokasi ataupun tindakan kekerasan.
FOKALIS juga mengimbau seluruh warga NTT yang berada di Papua agar tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah terprovokasi oleh pihak mana pun.
Masyarakat Flobamora diajak memperjuangkan keadilan bagi para korban melalui jalur hukum dan gerakan kemanusiaan yang bermartabat.
“Tragedi ini jangan hanya menjadi berita duka. Negara harus hadir, memberikan perlindungan, memastikan penegakan hukum dan menghadirkan keadilan bagi seluruh korban serta keluarganya,” tegas Frederich Fransiskus Baba Djoedye, Ketua FOKALIS.
FOKALIS berharap tragedi tersebut menjadi momentum bagi pemerintah dan aparat keamanan untuk mengevaluasi sistem perlindungan terhadap warga sipil di wilayah rawan konflik.
FOKALIS menegaskan bahwa keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas dan setiap dugaan tindak kekerasan harus diproses berdasarkan hukum serta dibuktikan melalui penyelidikan yang transparan.
✒️: Albert Cakramento
