Kupang, NTT — Program pelayanan gratis yang dikembangkan SMKN 5 Kupang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasah kompetensi ketenagalistrikan secara langsung di lapangan.
Tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, siswa kelas XI Teknik Ketenagalistrikan kini mendapat pengalaman menangani kebutuhan kelistrikan masyarakat dengan pendampingan guru.
Salah satu siswa, Windroji Tanesib, mengatakan dirinya baru satu kali terlibat dalam program tersebut. Menurutnya, pengalaman turun langsung ke lapangan memberikan pembelajaran berbeda dibandingkan hanya belajar teori.
Saat menemukan jaringan dan kabel listrik di rumah warga, Windroji mengaku beberapa pekerjaan cukup menantang. Namun, dengan bekal pembelajaran di sekolah dan bimbingan guru, pekerjaan dapat dilakukan dengan baik.
“Tidak terlalu sulit karena sudah belajar,” ujarnya, Kamis (24/9/2026).
Windroji mengatakan masyarakat yang menerima pelayanan memberikan respons positif terhadap pekerjaan siswa.
Menurutnya, pemilik rumah merasa cukup puas dengan layanan yang diberikan.
Pengalaman tersebut juga membuat Windroji lebih memilih pembelajaran praktik karena dapat memberikan gambaran langsung mengenai kondisi pekerjaan di lapangan.
Ia menilai kombinasi teori dan praktik tetap diperlukan sebagai bekal siswa sebelum memasuki dunia kerja.
Guru pendamping, Christian Meli, mengatakan antusiasme siswa mengikuti program pelayanan gratis cukup tinggi. Namun, pihak sekolah tidak menurunkan seluruh siswa sekaligus ke lapangan.
Siswa dipilih secara bergiliran agar semua mendapatkan kesempatan mengikuti program tersebut.
“Misalnya pekerjaan hari ini kami pilih empat orang, kemudian pekerjaan berikutnya lagi empat orang, sehingga semua bisa terlibat dalam program ini,” jelas Christian.
Pembatasan juga dilakukan untuk menjaga proses pembelajaran di sekolah serta mempertimbangkan kebutuhan transportasi dan kesiapan siswa di lapangan.
Jika dalam satu hari terdapat beberapa permintaan pelayanan, pihak sekolah tidak langsung mengambil seluruh pekerjaan. Pelayanan berikutnya dapat dijadwalkan pada hari lain.
Menurut Christian, dalam satu minggu rata-rata terdapat sekitar dua pekerjaan yang ditangani melalui program tersebut.
Pendampingan guru menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pelayanan. Sebab, para siswa masih berada di kelas XI dan masih dalam proses memperkuat kompetensi praktik.
Christian mengatakan guru harus memastikan siswa memahami pekerjaan sebelum melakukan tindakan terhadap instalasi listrik milik masyarakat.
“Kami sebagai guru pendamping punya tugas untuk mendampingi mereka sehingga mereka betul-betul paham pada saat kerja di lapangan,” katanya.
Menurutnya, kesalahan dalam menyambung kabel atau menentukan jalur listrik dapat berdampak terhadap keamanan instalasi dan kepuasan pelanggan.
Karena itu, siswa tidak dibiarkan bekerja sendiri tanpa pengawasan.
Selain keterampilan teknis, program pelayanan gratis juga memberikan dampak pada kemampuan komunikasi siswa.
Christian mengatakan siswa belajar berkomunikasi langsung dengan konsumen, mulai dari menanyakan keluhan, menjelaskan pekerjaan, menawarkan jasa pelayanan hingga meminta tanggapan setelah pekerjaan selesai.
“Dengan adanya layanan gratis ini, melatih juga kompetensi sosial mereka untuk berbicara terhadap konsumen, bagaimana mereka menawarkan jasa, menanyakan keluhan sampai menanyakan kepuasan pelanggan terkait layanan itu,” jelasnya.
Kemampuan tersebut dinilai penting karena siswa SMK tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan berinteraksi ketika nantinya memasuki dunia kerja.
Christian menilai program pelayanan gratis dapat menjadi sarana untuk memperkuat kesiapan siswa menghadapi dunia kerja.
Siswa dapat menguji pengetahuan yang diperoleh di kelas ketika berhadapan dengan kondisi nyata di masyarakat.
Menurutnya, sejauh pendampingan dilakukan, siswa cukup mampu menerapkan materi yang telah dipelajari di sekolah untuk menyelesaikan pekerjaan di lapangan.
Program tersebut juga diharapkan semakin memperkuat pemahaman siswa terhadap kompetensi Teknik Ketenagalistrikan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Christian berharap dukungan terhadap program tersebut dapat terus diperluas, termasuk melalui dukungan dari pemerintah daerah dan pihak terkait agar sekolah dapat meningkatkan fasilitas serta pelaksanaan layanan.
Bagi SMKN 5 Kupang, pelayanan gratis bukan sekadar memberikan bantuan kepada masyarakat. Program ini sekaligus menjadi ruang belajar bagi siswa untuk mempraktikkan kompetensi, membangun keberanian, melatih komunikasi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
✒️: kl
