Flores Timur, NTT — Selama lima hari, Roadshow Tani Merdeka Indonesia (TMI) menyusuri delapan kecamatan di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.
Dari desa ke desa, kelompok-kelompok tani ditemui secara langsung. Bukan sekadar bersilaturahmi, perjalanan ini menjadi ruang bagi para petani untuk menyampaikan kondisi, kebutuhan dan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lapangan.
Perjalanan panjang tersebut akhirnya mencapai titik terakhir di Desa Puhu, Kecamatan Adonara Timur, Jumat, 3 Oktober 2026.
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Tani Merdeka Indonesia, Wilfridus Yons Ebit, turun langsung menemui masyarakat dan kelompok tani di berbagai wilayah Pulau Adonara.
Kehadiran Wakatum TMI mendapat sambutan antusias dari kelompok-kelompok tani. Para petani memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan langsung berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi dalam mengembangkan usaha pertanian.
Pertemuan berlangsung dalam suasana dialog. Petani berbicara mengenai kondisi lahan, akses menuju lokasi pertanian, kebutuhan air, sarana produksi hingga alat dan mesin pertanian yang mereka butuhkan.
Sejumlah desa yang dikunjungi dalam rangkaian Roadshow TMI antara lain Nubelama Dua, Horowura, Pandai, Esa Wailebe, Botung hingga Desa Puhu.
Setiap wilayah memiliki persoalan dan kebutuhan yang berbeda. Namun, sektor pertanian menjadi salah satu perhatian utama dalam berbagai pertemuan tersebut.
Kelompok tani menyampaikan kebutuhan Jalan Usaha Tani (JUT), sumur bor, cultivator hingga traktor sebagai sarana pendukung aktivitas pertanian.
Bagi petani, kebutuhan tersebut bersentuhan langsung dengan aktivitas sehari-hari.
Jalan usaha tani berkaitan dengan akses menuju lahan, ketersediaan air menjadi faktor penting dalam proses produksi, sementara alsintan dibutuhkan untuk membantu pengolahan lahan.
Karena itu, pertemuan langsung dengan kelompok tani menjadi penting agar berbagai aspirasi dapat dipahami berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Kunjungan Wakatum TMI mendapat respons positif dari masyarakat di sejumlah wilayah yang disambangi.
Para petani menyambut baik kehadiran pimpinan TMI yang datang langsung menemui mereka. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan aspirasi tanpa harus menunggu penyampaian melalui jalur yang panjang.
Bagi TMI, dialog langsung tersebut juga menjadi cara untuk memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai kebutuhan petani.
Dari pertemuan-pertemuan itu, berbagai persoalan muncul, mulai dari infrastruktur pertanian, pengairan, sarana produksi hingga kebutuhan penguatan ekonomi masyarakat desa.
Dalam rangkaian pembahasan mengenai program pertanian dan pemberdayaan masyarakat, TMI jugamenyinggung dukungan program yang telah berjalan di Kabupaten Flores TimuDonil)
Sebelumnya, Bupati Flores Timur Anton Doni menyampaikan bahwa akumulasi program TMI di Flores Timur telah mencapai sekitar Rp35 miliar di luar Alsintan yang sudah di Terima kelompok-kelompok tani.
Pernyataan tersebut disampaikan saat pelantikan kepengurusan TMI di Flores Timur beberapa bulan lalu.
Nilai tersebut merupakan akumulasi dari berbagai program dan dukungan, mulai dari alat dan mesin pertanian (alsintan) hingga program-program lainnya.
Angka tersebut menjadi bagian dari gambaran dukungan program TMI di Flores Timur. Sementara melalui Roadshow kali ini, TMI kembali turun ke lapangan untuk mendengar kebutuhan masyarakat dan kelompok tani secara langsung.
Rangkaian Roadshow TMI juga menempatkan sektor pertanian sebagai bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan pangan.
Sejalan dengan perhatian pemerintah Presiden Prabowo Subianto terhadap penguatan program ketahanan pangan, kebutuhan petani di tingkat desa perlu terus dihimpun dan dipetakan berdasarkan kondisi riil.
Bagi petani, ketahanan pangan bukan sekadar kebijakan di tingkat pusat.
Implementasinya sangat berkaitan dengan kemampuan petani mengolah lahan, ketersediaan air, sarana produksi, alat pertanian dan akses menuju lahan.
Karena itu, suara kelompok tani yang dihimpun langsung dari lapangan menjadi bagian penting dalam melihat kebutuhan tersebut secara lebih konkret.
Wakatum TMI Wilfridus Yons Ebit menegaskan bahwa kehadirannya di Adonara adalah untuk mendengar langsung suara masyarakat.
Menurutnya, setiap aspirasi harus dilihat berdasarkan kondisi nyata di lapangan agar kebutuhan masyarakat dapat dipetakan secara tepat.
“Keluh kesah masyarakat boleh disampaikan kepada saya. Kehadiran saya di sini untuk sama-sama berdiskusi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di Adonara ini, namun harus realistis dan sesuai fakta,” kata Ebit.
Ia mengatakan, setiap usulan perlu disusun berdasarkan kebutuhan riil dan data yang akurat.
Dengan demikian, persoalan yang muncul dari desa tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi dapat menjadi bahan pembahasan lebih lanjut.
Setelah lima hari menyusuri delapan kecamatan dan menemui kelompok-kelompok tani, Desa Puhu menjadi titik akhir Roadshow TMI.
Atas nama kepengurusan TMI, perwakilan organisasi menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat dan kelompok tani di Pulau Adonara yang telah menerima serta merespons dengan baik rangkaian kunjungan tersebut.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang telah menjadi mitra kolaboratif, serta seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang ikut mendukung dan mendampingi komunikasi dengan kelompok-kelompok tani.
“Atas nama kepengurusan TMI, saya mewakili Ketua Umum TMI, Bapak Don Muzakir, menyampaikan terima kasih banyak kepada seluruh masyarakat, khususnya kelompok-kelompok tani yang telah merespons dengan baik kunjungan ini.
Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang telah menjadi mitra kolaboratif serta seluruh PPL yang telah mendukung rangkaian kegiatan ini,” ungkapnya.
Lima hari perjalanan tersebut akhirnya ditutup di Puhu.
Delapan kecamatan telah disisir, kelompok tani ditemui langsung, dan berbagai aspirasi telah dihimpun.
Roadshow TMI berakhir di Puhu, tetapi suara petani Adonara menjadi catatan penting untuk langkah dan program TMI berikutnya.
