Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Dari Tangga Kampus ke Panggung Wisuda, Rizky Raih Sarjana Informatika dengan IPK 3,75

Minggu, 11 Oktober 2026 | Oktober 11, 2026 WIB Last Updated 2026-10-11T00:04:37Z

 



Maumere, NTT — Empat tahun menjalani pendidikan tinggi bukanlah perjalanan mudah bagi Mohammad Rizky Al Khafi. Sebagai mahasiswa penyandang disabilitas, ia membutuhkan bantuan untuk mengakses ruang kuliah di lantai dua Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.


Namun, keterbatasan mobilitas tidak menghentikannya menyelesaikan pendidikan. Dengan dukungan sang ayah dan teman-teman kuliah, Rizky akhirnya meraih gelar Sarjana Informatika dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,75.


Rizky menjadi salah satu dari 708 wisudawan dan wisudawati Unipa Maumere yang mengikuti prosesi wisuda pada Sabtu (10/10/2026).


Di balik toga yang dikenakannya, ada perjuangan keluarga, kepedulian teman-teman, serta tekad untuk menyelesaikan pendidikan dan melanjutkan cita-cita.


Rizky lahir di Pariaman, Sumatera Barat, pada 3 Juli 2002. Selama menempuh pendidikan di Maumere, ia menghadapi tantangan mobilitas dalam menjalani aktivitas perkuliahan.


Ayahnya, yang menjalankan usaha kios di Pasar Alok, Maumere, setiap hari berupaya mengantarkan Rizky ke kampus menggunakan sepeda motor. Kesibukan mencari nafkah tidak menghalanginya mendampingi putranya menjalani pendidikan.


Tantangan berikutnya muncul ketika Rizky harus mencapai ruang kuliah di lantai dua. Untuk menaiki tangga, ia membutuhkan bantuan sang ayah dan teman-teman kuliahnya.


Dukungan itu menjadi bagian penting dari keseharian Rizky selama empat tahun. Mereka membantunya mengakses ruang kelas agar ia dapat mengikuti perkuliahan bersama mahasiswa lainnya.


Bagi Rizky, perjalanan menuju ruang kuliah bukan sekadar rutinitas. Ada tantangan yang harus dihadapi setiap hari agar ia tetap bisa belajar dan menyelesaikan pendidikannya.


Kini, perjuangan tersebut mengantarkannya ke panggung wisuda.


Dukungan Kampus Membantu Akses Perkuliahan


Selama menjalani pendidikan, Rizky juga mendapat kemudahan dari pihak Unipa Maumere. Sepeda motor yang digunakan untuk mengantarnya diperbolehkan masuk hingga mendekati ruang perkuliahan guna memudahkan akses menuju tempat belajar.


Dukungan tersebut membantu Rizky mengikuti kegiatan akademik di tengah keterbatasan mobilitas yang dihadapinya.


Kisah Rizky menunjukkan pentingnya lingkungan pendidikan yang memperhatikan kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas. Akses menuju ruang kelas, fasilitas yang sesuai, serta dukungan dari lingkungan kampus menjadi faktor penting agar setiap mahasiswa memiliki kesempatan belajar yang setara.


Pendidikan tinggi bukan hanya tentang kemampuan akademik. Kesempatan untuk mengakses ruang belajar dan mengikuti kegiatan perkuliahan juga menjadi bagian dari upaya menciptakan pendidikan yang inklusif.


Setelah menjalani perkuliahan selama empat tahun, Rizky berhasil menyelesaikan program studi S1 Informatika dengan IPK 3,75.


Pencapaian itu menjadi hasil dari proses akademik yang dijalaninya di tengah tantangan mobilitas. Dukungan ayah dan teman-teman turut membantu Rizky bertahan hingga menyelesaikan studinya.


Pada Sabtu (10/10/2026), ia diwisuda bersama 707 lulusan lainnya. Total 708 wisudawan dan wisudawati mengikuti prosesi wisuda Unipa Maumere.


Di antara ratusan lulusan tersebut, perjalanan Rizky menjadi pengingat bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi untuk berkembang dan meraih prestasi apabila memperoleh kesempatan serta dukungan yang memadai.


Keberhasilannya juga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi sang ayah yang selama ini mendampingi perjalanan pendidikan putranya.


Meraih gelar sarjana bukan akhir dari perjalanan Rizky. Ia masih menyimpan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister atau Strata Dua (S2).


Salah satu rencana yang ingin ditempuhnya adalah mendaftar beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).


Keinginan tersebut menunjukkan bahwa Rizky masih ingin mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya melalui pendidikan formal.


Meski telah menyelesaikan S1 Informatika, ia masih harus menempuh proses seleksi dan memenuhi persyaratan apabila ingin memperoleh beasiswa tersebut.


Harapannya, kesempatan melanjutkan pendidikan dapat terbuka sehingga ia bisa mencapai jenjang akademik yang lebih tinggi.


Perjalanan Rizky memperlihatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu dicapai sendirian. Di balik gelar sarjana yang diraihnya, ada ayah yang setia mengantar ke kampus dan teman-teman yang membantu ketika ia kesulitan menaiki tangga menuju ruang kelas.


Bantuan yang diberikan mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Rizky, dukungan tersebut membantu membuka jalan untuk tetap mengikuti perkuliahan hingga lulus.


Kisahnya sekaligus menegaskan pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang ramah bagi penyandang disabilitas, baik melalui akses fisik maupun dukungan sosial.


Rizky kini telah menyelesaikan pendidikan S1 dengan IPK 3,75. Ia selanjutnya berharap dapat melanjutkan studi ke jenjang S2 melalui beasiswa LPDP.


Dari perjalanan menuju ruang kelas hingga berdiri di panggung wisuda, Rizky menunjukkan bahwa tantangan mobilitas tidak harus menjadi penghalang untuk meraih cita-cita.


Gelar sarjana yang diraihnya bukan hanya penanda berakhirnya masa kuliah, tetapi juga awal dari perjalanan baru untuk mengejar masa depan.

✒️: Albert Cakramento