Warga Dusun Hepang, Kabupaten Sikka, mengeluhkan debit mata air yang menyusut setelah gempa. Air sempat berubah keruh, sementara sekolah ikut kesulitan mendapatkan air bersih.
Maumere, NTT — Seorang lansia berusia 70 tahun di Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih harus memikul empat jeriken menggunakan pikulan bambu demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Marsiales Mehan menjadi salah satu warga yang merasakan beratnya perjuangan mendapatkan air bersih. Di tengah keterbatasan sarana penampungan dan distribusi air, ia harus menyusuri jalan setapak di antara kebun untuk memperoleh air bagi kebutuhan rumah tangga.
Warga mengatakan kondisi mata air di wilayah mereka memburuk setelah gempa bumi mengguncang kawasan tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, debit sejumlah mata air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan warga dilaporkan menyusut.
Masyarakat kini berharap pemerintah membantu menyediakan penampungan air dan jaringan pipa agar akses air bersih tidak terus bergantung pada cara-cara darurat.
Kondisi penampungan mata air di Dusun Hepang menunjukkan keterbatasan fasilitas yang tersedia. Sejumlah bak penampungan dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan sarana sederhana.
Ada bak yang ditutup menggunakan seng bekas berkarat dan ditindih batu kali. Di lokasi lain, penutupnya hanya berupa pelepah daun kelapa kering dan potongan kayu.
Air di dalam bak tampak keruh kecokelatan, bercampur lumpur dan dedaunan kering. Sementara itu, aliran air melalui pipa paralon berukuran kecil dilaporkan jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Marsiales mengatakan perubahan kondisi mata air mulai terlihat beberapa hari setelah gempa.
“Pas guncang gempa awal, beberapa mata air terlihat keruh seperti santan kelapa. Itu kurang lebih tiga hari setelah gempa. Sekarang beberapa mata air kelihatan menipis. Kami minta pemerintah bisa bantu profil tank untuk warga,” ujar Marsiales.
Meski warga mengaitkan perubahan kondisi mata air dengan gempa, penyebab teknis penurunan debit dan perubahan kualitas air tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan pihak berwenang.
Keterbatasan sarana distribusi membuat sebagian warga harus mengandalkan cara sederhana untuk mengalirkan air dari mata air menuju rumah.
Sebagian masyarakat telah menggunakan pipa bantuan pemerintah desa. Namun, warga lainnya masih memanfaatkan talang bambu yang disambung seadanya untuk menyalurkan air.
Yakobus, salah seorang warga, mengatakan penampungan kecil yang tersedia merupakan hasil inisiatif masyarakat.
“Bak kecil ini atas inisiatif sendiri dari masyarakat. Kami minta kalau bisa pemerintah bantu profil tank untuk ditaruh di dekat mata air, lalu air dialihkan ke rumah-rumah warga. Tidak ada bak penampungan sehingga susah,” katanya.
Warga berharap pemerintah membantu menyediakan tangki penampungan atau profil tank, membangun bak yang lebih layak, serta memperbaiki sistem distribusi air ke permukiman.
Dengan fasilitas yang memadai, air diharapkan dapat ditampung dan disalurkan secara lebih teratur, sehingga warga tidak harus terus mengandalkan tenaga sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut.
Kesulitan air bersih tidak hanya dirasakan warga di rumah. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Hepang juga menghadapi persoalan serupa.
Dino Lewar, salah seorang guru di sekolah tersebut, mengatakan ketersediaan air bersih di lingkungan sekolah masih menjadi kendala.
“Di sekolah kami susah air bersih juga. Kami minta pihak terkait untuk bisa bantu profil tank sedang untuk menampung air di lingkungan sekolah,” ujar Dino.
Ketersediaan air bersih di sekolah dibutuhkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, menunjang sanitasi, serta mendukung kegiatan belajar-mengajar.
Karena itu, warga berharap kebutuhan sekolah turut menjadi perhatian dalam penanganan persoalan air bersih di Dusun Hepang.
Warga berharap Pemerintah Desa Nenbura, Pemerintah Kecamatan Doreng, dan Pemerintah Kabupaten Sikka turun langsung untuk melihat kondisi sumber air dan fasilitas penampungan di wilayah tersebut.
Mereka meminta bantuan tangki penampungan di sekitar mata air, pembangunan bak yang lebih layak, serta pemasangan jaringan pipa menuju rumah-rumah warga dan SDN Hepang.
Selain pembangunan sarana, pemeriksaan kualitas air juga dinilai penting menyusul laporan warga mengenai perubahan warna air setelah gempa. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah air tersebut aman digunakan, terutama untuk kebutuhan minum dan memasak.
Bagi warga Dusun Hepang, air bersih bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap hari.
Ketika seorang lansia berusia 70 tahun masih harus memikul empat jeriken, sementara sekolah turut kesulitan memperoleh air bersih, kebutuhan akan penanganan yang lebih memadai menjadi semakin mendesak.
Warga kini menanti langkah konkret pemerintah agar penampungan dan distribusi air dapat diperbaiki. Mereka berharap tidak harus terus berjuang dengan fasilitas seadanya untuk mendapatkan air bersih yang layak.
