Kupang, NTT, 1 Oktober 2026 — Dua siswa SMK Negeri 5 Kupang meraih dua gelar dalam Lomba Storytelling LaFest Festival 2026, yang digelar pada 29–30 September 2026 di Universitas Kristen Artha Wacana (Unkris), Kupang. Apriela Leonita Titi, siswa kelas XII, meraih Juara I, sementara Nola Arice Giri, siswa kelas XI, meraih Juara Favorit.
Keduanya tampil membawakan cerita dalam bahasa Inggris dengan mengandalkan kemampuan menghafal, penghayatan, ekspresi, perubahan suara, gerak tubuh, dan penguasaan panggung.
Nola Bawakan “The Man-Eating Stone”
Nola Arice Giri meraih Juara Favorit melalui cerita “The Man-Eating Stone”, yang mengisahkan sebuah batu misterius yang dapat menelan manusia.
Dalam cerita tersebut, Nola membawa penonton ke sebuah pulau dengan pegunungan, perbukitan kering, hutan, dan desa-desa tradisional.
Kisah berawal dari seorang pemuda yang mengabaikan peringatan seorang perempuan tua tentang sebuah batu di dalam hutan. Karena rasa ingin tahu dan sikap meremehkan, pemuda tersebut mendekati batu hingga akhirnya ditelan.
Nola membawakan cerita dengan perubahan suara, ekspresi, gerak tubuh, serta penggambaran karakter. Ia juga menggunakan properti berupa batu untuk mendukung penampilannya.
Melalui cerita tersebut, Nola menyampaikan pesan tentang pentingnya menghargai nasihat orang lain dan menjaga hubungan manusia dengan alam.
“Nature must not be challenged, it must be respected,” yang berarti “Alam tidak boleh ditantang, tetapi harus dihormati.”
Sementara itu, Apriela Leonita Titi, yang akrab disapa Leoni, meraih Juara I melalui cerita “The Legend of Komodo Island”.
Siswa kelas XII sekaligus Ketua OSIS SMK Negeri 5 Kupang itu memilih cerita tersebut karena memiliki sejumlah karakter yang memberikan ruang untuk memainkan ekspresi, perubahan suara, gerak tubuh, dan penghayatan tokoh.
Cerita tersebut mengangkat tokoh Raja Moja, Putri Naga, Girong, dan Aura. Salah satu bagian cerita menggambarkan Girong yang tidak mengetahui bahwa Aura merupakan saudara kembarnya hingga sebuah peristiwa membuatnya menyadari kesalahannya.
Leoni mengatakan cerita tersebut membawa pesan tentang harapan dan keberanian untuk tidak meragukan kemampuan diri sendiri.
Baginya, keberanian mengambil langkah kecil dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar dalam kehidupan.
Guru pembimbing, Edisus Goa, S.Pd., mengatakan setiap siswa memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda. Karena itu, guru perlu mengenali potensi tersebut dan memberikan kesempatan kepada siswa yang dinilai siap mengikuti kompetisi.
Dalam Lomba Storytelling, tantangan tidak hanya terletak pada kemampuan menghafal teks dalam waktu terbatas. Siswa juga harus mampu menyampaikan cerita dengan penghayatan, ekspresi, perubahan suara, gerak tubuh, dan penguasaan panggung.
Persiapan menjadi lebih menantang karena salah satu siswa juga harus menjalani kegiatan praktik sehingga waktu latihan perlu disesuaikan dengan aktivitas sekolah.
Menurut Edisus, keberhasilan siswa dalam kompetisi merupakan bagian dari keberhasilan guru dalam mengembangkan potensi peserta didik. Ia juga menilai kedekatan antara guru dan siswa penting agar proses latihan berlangsung nyaman.
Bagi Edisus, kompetisi bukan semata-mata tentang mengalahkan sekolah lain, tetapi menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengukur kemampuan dan meningkatkan kapasitas diri.
Plt. Kepala SMK Negeri 5 Kupang, Jack Bura, mengapresiasi prestasi yang diraih kedua siswa tersebut. Menurutnya, capaian itu merupakan hasil kerja bersama antara siswa dan guru serta dukungan sekolah melalui kegiatan Klub Bahasa Inggris.
“Keberhasilan anak-anak kita meraih Juara I dan Juara Favorit ini tentu menjadi keberhasilan teman-teman guru yang sudah membimbing. Sekolah juga sudah memberikan ruang melalui Klub Bahasa Inggris, dan ruang itu dimanfaatkan dengan baik oleh guru dan anak-anak,” ujar Jack.
Ia mengatakan prestasi tersebut menunjukkan bahwa siswa dapat berkembang ketika mendapat ruang dan kesempatan yang tepat. Namun, capaian itu tidak boleh membuat sekolah cepat berpuas diri.
“Jangan sampai prestasi ini membuat kita puas. Justru ini menjadi tantangan bagi kita, bagaimana ke depan kita bisa mempertahankan prestasi ini di kegiatan-kegiatan berikutnya,” katanya.
Jack juga berpesan kepada Leoni dan Nola agar prestasi yang diraih dapat menjadi motivasi bagi siswa lainnya.
“Saya sampaikan kepada anak-anak yang juara, kalian punya tanggung jawab moral untuk memicu adik-adik yang lain. Kalau bisa, mereka nanti mencapai prestasi yang sama, bahkan lebih dari apa yang kalian capai sekarang,” ujarnya.
Menurut Jack, piala yang diraih kedua siswa akan menjadi bagian dari sejarah sekolah.
“Pialanya nanti tetap ada di sekolah. Ketika kalian sudah tamat dan tidak lagi berada di sini, nama kalian tetap dikenang sebagai bagian dari prestasi sekolah,” katanya.
Jack menambahkan, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa sumber daya manusia di SMK Negeri 5 Kupang memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan sekolah lain.
Keberhasilan Leoni dan Nola menjadi capaian yang memperlihatkan bahwa siswa SMK Negeri 5 Kupang memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan di luar keterampilan teknis sesuai bidang keahlian.
Pengalaman mengikuti Lomba Storytelling juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mengasah kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, keberanian tampil, serta kemampuan menyampaikan gagasan di depan publik.
Bagi sekolah, dua gelar tersebut menjadi catatan prestasi sekaligus dorongan untuk terus membuka kesempatan bagi siswa mengembangkan bakat melalui berbagai kegiatan dan kompetisi.
Prestasi Juara I dan Juara Favorit tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi siswa lainnya untuk mengembangkan bakat, berani mengikuti kompetisi, dan mengukir capaian baru bagi SMK Negeri 5 Kupang.
✒️: kl
