![]() |
| Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan Bupati Kupang Yosef Lede saat meninjau lokasi pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila di Desa Nitneo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Kamis (22/1). Peninjauan dilakukan untuk memastikan kelanjutan dan penyelesaian pembangunan monumen sebagai simbol nilai Pancasila dan kebanggaan masyarakat NTT. 📸 : Dedy Irawan |
Kupang, NTT— Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menggandeng Pemerintah Kota Kupang dan Pemerintah Kabupaten Kupang untuk melanjutkan dan menuntaskan pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila di Desa Nitneo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Komitmen tersebut ditegaskan saat Gubernur bersama Wali Kota Kupang, Christian Widodo, dan Bupati Kupang, Yosef Lede, meninjau langsung lokasi monumen, Kamis (22/1).
Kolaborasi lintas pemerintahan ini dilakukan untuk memastikan pembangunan monumen yang sempat terhenti dapat kembali berjalan dan diselesaikan secara tuntas. Monumen Flobamora Rumah Pancasila dirancang bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol persatuan, nilai kebangsaan, dan kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menyatakan dukungan penuh Pemerintah Kota Kupang terhadap langkah Gubernur NTT tersebut. Menurutnya, monumen yang berada di wilayah perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang itu harus menjadi milik bersama masyarakat.
“Monumen ini tidak hanya sebagai destinasi wisata dan sejarah, tetapi juga ruang edukasi dan penggerak ekonomi bagi warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, mengingat letaknya yang sangat strategis,” ujar Wali Kota yang akrab disapa dr. Chris.
Monumen Flobamora Rumah Pancasila sendiri berbentuk burung Garuda yang menghadap ke Laut Sawu dengan ketinggian sekitar 50 meter. Monumen ini berdiri di atas lahan hibah dari orang tua Wali Kota Kupang, Theo Widodo, kepada Pemerintah Provinsi NTT.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa dirinya bersama Wali Kota Kupang dan Bupati Kupang memiliki satu kesepahaman penting, yakni pembangunan monumen harus dilanjutkan dan dituntaskan. Ia menyebut, Monumen Flobamora Rumah Pancasila dibangun sebagai simbol kebanggaan Flobamora dan sarana untuk mengumandangkan nilai-nilai Pancasila dari NTT ke seluruh Nusantara.
“NTT memiliki keterkaitan sejarah dengan lahirnya gagasan Pancasila. Karena itu, monumen ini harus kita hidupkan dan fungsikan sebagaimana tujuan awal pembangunannya,” jelas Gubernur.
Ia mengakui, pembangunan monumen sempat terhenti dan belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Peninjauan lapangan dilakukan untuk melihat langsung kondisi terkini serta memastikan arah pembangunan ke depan lebih jelas dan terukur.
Ke depan, Monumen Flobamora Rumah Pancasila direncanakan dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan ideologi Pancasila yang dapat dimanfaatkan bersama oleh Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang, dan Pemerintah Kabupaten Kupang, serta terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi atas hibah lahan yang diberikan kepada Pemerintah Provinsi NTT. Menurutnya, hal tersebut merupakan wujud nyata semangat gotong royong dan kecintaan terhadap daerah.
“Target kami, pembangunan monumen ini bisa diselesaikan tahun ini. Untuk pembiayaan, kami sepakat mencari skema pendanaan alternatif tanpa membebani APBD, agar monumen ini benar-benar menjadi kebanggaan bersama,” tegasnya.
Dengan sinergi lintas pemerintahan tersebut, Monumen Flobamora Rumah Pancasila diharapkan tidak hanya berdiri megah, tetapi hidup sebagai ruang edukasi, sejarah, dan destinasi wisata yang memberi manfaat luas bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
✍🏼 : Ansel Ladjar
