Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Kisah dr. Liskar: Dari Anak Nelayan Korban Bom hingga Dokter & Penulis Buku Kesehatan Holistik

Jumat, 09 Januari 2026 | Januari 09, 2026 WIB Last Updated 2026-01-09T13:21:41Z

 

Kisah inspiratif dr. Liskar, dari anak nelayan korban ledakan bom di Sikka hingga menjadi dokter dan penulis buku kesehatan holistik yang menggugah nurani.


9 /1— Kisah hidup dr. Liskar adalah cermin ketahanan manusia. Dari anak nelayan korban ledakan bom di Palu’e hingga menjadi dokter dan penulis buku kesehatan holistik, perjalanan hidupnya mengguncang nurani dan membongkar stigma tentang batas-batas kemiskinan.


Tidak semua dokter lahir dari kemapanan. Sebagian tumbuh dari kehilangan, tragedi, dan kemiskinan. Begitu pula dr. Liskar. Ia lahir di Sali–Thepetetu, Pulau Palu’e, Kabupaten Sikka, sebagai anak tunggal. Ayahnya meninggal saat ia baru delapan bulan dan ibunya wafat ketika ia kelas III SMP.


“Sejak kecil saya belajar hidup sendiri. Tidak ada tempat mengadu, jadi saya belajar berdamai dengan keadaan,” ucapnya dalam wawancara bersama NewsDaring.com.


Selepas menamatkan pendidikan dasar di SDK Tomu, dr. Liskar sempat bekerja sebagai nelayan demi bertahan hidup. Namun tragedi kembali menghantam. Ledakan bom di perahu yang ia tumpangi nyaris merenggut nyawanya.


“Peristiwa itu seperti teguran keras. Saya bisa saja berhenti di situ, tapi justru dari sana saya mulai berpikir bahwa hidup saya harus punya arah,” ujarnya.


Dengan kondisi fisik dan mental belum pulih, ia bangkit melanjutkan pendidikan di SMPK Roketanda Palu’e, lalu ke SMAK Yohanes Paulus II Maumere. Mimpi menjadi dokter membuatnya merantau ke Tanjung Pinang, bekerja serabutan sebagai perawat anjing, penjaga kios, hingga tukang ojek.


Perjalanan akademiknya pun terjal. Ia sempat menempuh pendidikan di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), sebelum akhirnya menyelesaikan studi kedokteran di Universitas Batam.


Kini dr. Liskar menapaki jalur profesional sebagai:



Selain dunia medis dan akademik, dr. Liskar aktif memberikan motivasi bagi generasi muda Maumere melalui seminar di berbagai sekolah seperti SMP Negeri Nita, SMA John Paul, SMK Santo Thomas, SMA Negeri Kangae, SMK St. Benediktus, hingga Seminari Bunda Segala Bangsa.


“Saya ingin anak-anak tahu bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” tegasnya. “Saya bukti bahwa luka hidup bisa menjadi bahan bakar.”


Ia juga beberapa kali memberikan materi kesehatan bagi biara Katolik dengan topik “Kesehatan dalam Perspektif Spiritual” yang memantik diskusi menarik karena audiensnya para frater dengan latar teologi.


Topik ini menjadi fondasi gagasan bukunya yang mengusung konsep kesehatan holistik—memadukan kedokteran modern, nutrisi, pengobatan tradisional, doa, meditasi hingga terapi energi.


“Kesehatan sejati bukan hanya bebas dari penyakit, tetapi hidup dalam keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa,” tulisnya.


Kisah hidup dr. Liskar bukan sekadar cerita sukses personal. Ini adalah narasi tentang keberanian menghadapi dunia ketika tidak ada jaminan keselamatan dan kemapanan. Tentang bagaimana kemiskinan dan tragedi dapat menjadi sumber makna, bukan penghalang hidup.


Perjalanan dr. Liskar membuktikan bahwa nasib bukan takdir. Yang menentukan adalah cara manusia melawan batas-batasnya.

✒️: Albert Cakramento