![]() |
| Anggota DPRD Provinsi NTT, Simson Polin, menyampaikan pesan video terkait upaya pengawalan izin berlayar kapal pengangkut BBM PLN ke Rote Ndao guna mencegah pemadaman listrik bergilir, Jumat (23/1/2026). |
Kupang, NTT, 23 Januari 2026 — Anggota DPRD Provinsi NTT, Simson Polin, terus mengawal persoalan krisis listrik di Kabupaten Rote Ndao. Melalui pesan video yang dikirim ke Redaksi Kupang, Simson menegaskan upayanya memastikan kapal pengangkut BBM untuk PLN Rote Ndao segera memperoleh izin berlayar agar pemadaman listrik bergilir tidak terus terjadi.
Simson Polin menilai, pemadaman listrik yang berulang telah berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat Rote Ndao. Gangguan listrik memengaruhi pelayanan publik, layanan kesehatan, pendidikan, UMKM, dunia usaha dan kerja, hingga pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga.
“Kalau listrik terus padam bergilir, dampaknya sangat luas. Pelayanan publik terganggu, kesehatan tidak maksimal, pendidikan terhambat, UMKM dan dunia usaha melemah, dan masyarakat paling merasakan akibatnya,” tegas Simson.
Untuk itu, Simson Polin membangun komunikasi intensif dengan pihak PLN, BMKG, dan KSOP Kupang guna memastikan adanya kepastian izin pelayaran kapal BBM. Menurutnya, koordinasi lintas sektor menjadi kunci agar setiap celah cuaca aman dapat segera dimanfaatkan demi kelancaran distribusi BBM ke Rote Ndao.
Pihak PLN Rote Ndao menjelaskan bahwa BBM untuk pembangkit listrik sebenarnya telah tersedia dan kapal pengangkut dalam kondisi siap berlayar. Namun hingga kini kapal belum dapat diberangkatkan karena masih menunggu izin pelayaran akibat kondisi cuaca laut. PLN menegaskan, kendala tersebut bukan berasal dari kontraktor maupun anggaran, melainkan faktor keselamatan pelayaran.
Data Resmi BMKG Perkuat Alasan Keselamatan
Berdasarkan data resmi BMKG melalui Stasiun Meteorologi Maritim Tenau–Kupang, Informasi Tinggi Gelombang Harian berlaku 23 Januari 2026 pukul 08.00 WITA hingga 26 Januari 2026 pukul 08.00 WITA, dengan kondisi sebagai berikut:
- Perairan Utara Kupang–Rote: tinggi gelombang 2,40 – 3,50 meter (kategori tinggi)
- Selat Pukuafu: 2,00 – 3,00 meter (kategori tinggi)
- Perairan Selatan Timor–Rote: 3,20 – 3,80 meter (kategori tinggi hingga sangat tinggi)
- Laut Sawu: 2,60 – 3,50 meter (kategori tinggi)
- Selat Ombai: 2,30 – 3,00 meter (kategori tinggi)
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini, bahwa gelombang 1,25–2,5 meter hingga 2,5–4,0 meter berpeluang terjadi di sejumlah perairan NTT. Kondisi ini berisiko terhadap keselamatan pelayaran, terutama bila disertai angin kencang dan kemunculan awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat meningkatkan tinggi gelombang secara tiba-tiba.
BMKG mencatat, pelayaran perahu nelayan berisiko saat kecepatan angin mencapai 15 knot dan gelombang 1,25 meter. Kapal tongkang berisiko pada angin 16 knot dan gelombang 1,5 meter, sementara kapal ferry berisiko saat angin 21 knot dan gelombang 2,5 meter.
Menanggapi data tersebut, Simson Polin menegaskan bahwa perjuangannya adalah memastikan keselamatan tetap menjadi prioritas, namun di saat yang sama distribusi BBM tidak boleh terhambat terlalu lama. Ia mendorong agar setiap peluang cuaca yang memungkinkan segera dimanfaatkan dengan koordinasi cepat antarinstansi.
“Yang kita kejar bukan siapa yang salah, tapi solusi. Kalau ada celah cuaca aman, kapal BBM harus segera diberangkatkan. Listrik di Rote Ndao tidak boleh terus-menerus bergantung pada pemadaman bergilir,” pungkas Simson.
✒️: kl
