![]() |
| Anggota DPRD Provinsi NTT, Simson Polin, saat berkomunikasi dengan pihak PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur membahas penjadwalan aliran listrik bagi Kabupaten Rote Ndao di tengah keterbatasan BBM dan kondisi cuaca laut. |
Kupang NTT, 23 Januari 2026— Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, Simson Polin, mengusulkan penjadwalan ulang aliran listrik di Kabupaten Rote Ndao kepada PLN Wilayah Provinsi NTT. Usulan ini disampaikan di tengah krisis pasokan BBM pembangkit yang diperparah kondisi cuaca laut, sehingga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya Usaha Mikro dan Kecil (UMK).
Dalam komunikasi lintas pihak yang melibatkan PLN, BMKG Maritim Tenau, KSOP, serta pemangku kepentingan daerah, Simson Polin menegaskan bahwa persoalan listrik di Rote Ndao bukan semata masalah teknis, melainkan persoalan struktural wilayah kepulauan yang membutuhkan kebijakan adaptif.
“Kalau BBM berkurang, otomatis operasi pembangkit juga berkurang. Ini realitas yang harus dikelola, bukan ditutupi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa stok BBM pembangkit saat ini hanya memungkinkan operasi terbatas sekitar empat jam per hari selama empat hingga lima hari. Bahkan tambahan 20.000 liter BBM dari PT Garam hanya mampu menopang operasi sekitar setengah hari, sehingga tidak memungkinkan listrik menyala penuh.
Kondisi tersebut diperberat oleh faktor cuaca laut. Berdasarkan laporan BMKG Maritim Tenau, tinggi gelombang yang sempat berada pada kisaran 1,6 meter hingga 2–2,5 meter membuat pengiriman BBM melalui jalur laut harus melalui pertimbangan ketat demi keselamatan pelayaran.
“Kalau cuaca menunjukkan arah yang baik, kapal bisa dilepas dini hari. Tapi keputusan ini tidak bisa sepihak, harus koordinasi semua pihak,” ujarnya.
Usulan Jadwal Listrik untuk Rote Ndao
Di tengah keterbatasan tersebut, Simson Polin mengusulkan penjadwalan listrik yang lebih pasti dan berpihak pada aktivitas produktif masyarakat, terutama UMK yang disebutnya mulai mengalami kemacetan usaha akibat ketidakpastian jam nyala listrik.
Adapun usulan jadwal yang disampaikan kepada PLN Wilayah NTT adalah:
Hari Sabtu
Pukul 09.00 – 12.00 WITA
Pukul 18.00 – 21.00 WITA
Hari Minggu
Pukul 06.30 – 09.30 WITA
Menurut Simson, skema ini memberi ruang minimal bagi pelaku usaha, perkantoran, dan layanan publik untuk tetap berjalan, tanpa membebani pasokan BBM secara berlebihan.
“Kalau siang dibantu dua jam saja, masyarakat bisa isi daya, bisa kerja, bisa selesaikan tugas. Malamnya bisa dikurangi satu jam atau satu setengah jam,” tegasnya.
Tidak Bergeming di Tengah Cemoohan
Tidak tinggal diam, sekalipun harus menerima cemoohan masyarakat bernada sindiran dan ledekan, Simson Polin memilih tidak bergeming. Ia menyadari sepenuhnya bahwa krisis listrik di Rote Ndao merupakan kondisi force majeure, hasil akumulasi keterbatasan BBM, kendala distribusi laut, dan cuaca ekstrem yang berada di luar kendali manusia.
Sebagai Anggota DPRD Provinsi NTT asal Rote Ndao, Simson menegaskan bahwa ruang geraknya berada dalam batas kewenangan dan realitas lapangan. Dalam kondisi itulah, ia memilih terus membangun komunikasi, mengusulkan solusi realistis, dan mencari celah kebijakan agar beban krisis tidak sepenuhnya ditanggung masyarakat kecil.
Ia juga menyoroti lemahnya komunikasi dan koordinasi antar pihak yang dinilainya memperkeruh situasi, bahkan berpotensi menjadikan PLN sebagai sasaran kemarahan publik.
“Kalau begini terus, PLN akan dicaci maki. Padahal ini persoalan sistem, cuaca, dan distribusi. Harus ada kebijakan yang dipertimbangkan dengan matang,” ujarnya.
Sebagai Ketua KADIN, Simson Polin menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan selama ini adalah pendekatan hati ke hati, namun ke depan diperlukan energi baru dan semangat baru dalam tata kelola kelistrikan wilayah kepulauan.
Krisis listrik di Rote Ndao menegaskan rapuhnya sistem energi di wilayah kepulauan. Tanpa kebijakan adaptif, dampak terberat akan terus dirasakan masyarakat kecil.
✒️: kl
